Berita

syahganda nainggolan

Koalisi Prabowo-Hatta dan Pengamanan Dinasti SBY Buyar Setelah Tujuh Jenderal ke Istana

JUMAT, 15 MARET 2013 | 08:35 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Semua sebenarnya hampir nyata bahwa pertemuan Prabowo Subianto Djojohadikusumo (PSD) dengan Presiden SBY Senin lalu merupakan tindak lanjut kunjungan PSD ke rumah Menko Hatta Radjasa beberapa waktu lalu.

Meski PSD bukan koalisi Setgab partai pendukung pemerintah, namun sudah berkali-kali Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu mengapresiasi pemerintahan SBY. Bahkan dalam voting untuk masalah-masalah krusial di DPR seperti soal kenaikan harga BBM, Gerindra selalu di pihak pemerintah.

"Tindakan ini bertolak belakang dengan tokoh-tokoh koalisi yang dianggap selalu menggerogoti seperti Golkar dan PKS. Terlebih lagi jika dibandingkan sikap politisi kritis, yang sudah cenderung meminta SBY lengser sebelum 2014," kata pengamat ekonomi-politik Syahganda Nainggolan pagi ini (Jumat, 15/3).


Apa yang disampaikan Syahganda itu menemukan kenyataannya setelah Prabowo bertemu SBY di Istana. Puja-puji pun dilontarkan oleh capres Gerindra itu terhadap kinerja rezim SBY, baik klaim keberhasilan ekonomi, seperti stop bekerja sama dengan IMF, maupun demokrasi.

Alhasil, publik pun menempatkan kedua tokoh ini dalam pusaran berita dan berbagai spekulasi muncul.

"Spekulasi yang utama adalah SBY dan PSD akan bekerjasama dalam politik 2014 dan PSD akan menjaga kepentingan dinasti SBY, jika PSD menang. Spekulasi lebih lanjut, wacana duet PSD-Hatta, akan menjadi pengikat keberlanjutan ini," ungkapnya.

Namun, sayang sekali, publik sebagai penonton peristiwa SBY-PSD ini mengalami "ejakulasi dini" politik karena ruang analisis langsung dikubur hari berikutnya ketika SBY mengundang beberapa eks jenderal yang bekerja untuk Aburizal Bakrie.

"Alhasil, harapan dan pola yang seharusnya terkonstruksi dari pertemuan SBY-PSD, buyar, termasuk spekulasi duet Prabowo-Hatta Rajasa 2014. Istana pun, sebagai institusi pemberi makna, kehilangan perannya karena mengubur dan mengaburkan permainan yang ingin diperkirakan. Memang, kini, semua masa depan sudah tidak bisa diprediksi dan tanpa harapan," demikian Syahganda. [zul]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya