Berita

ilustrasi

APBN Terkuras kalau Pemerintah Terus Bayar Uang Tebusan TKI yang Terancam Hukuman Mati

JUMAT, 15 MARET 2013 | 06:28 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Kisah memprihatinkan masih terus datang dari para Tenaga Kerja Indonesia yang ada di luar negeri. Setelah Sumiati kemudian Darsem, kini TKW asal Semarang, Satinah, terancam hukuman mati di Arab Saudi dengan dakwaan membunuh majikannya.

Bahkan, ada 38 TKI lainnya yang mengalami nasib serupa dan kini antre menunggu mukjijat untuk bisa tetap menghirup udara.

Hal itu disampaikan anggota Komisi I DPR Muhammad Najib dalam pesan singkat yang diterima Rakyat Merdeka Online pagi ini (Jumat, 15/3).


"Setiap kali mendengar berita seperti ini, sebagai anak bangsa muncul perasaan marah, malu sekaligus tak berdaya. Sampai kapan cerita memilukan seperti ini berhenti mengganggu rasa kemanusiaan kita sekaligus mencoreng martabat dan harga diri kita sebagai Negara dan Bangsa besar," kata Najib.

Menurut politikus PAN ini, Kementerian Luar Negeri memiliki kewajiban untuk melakukan apapun demi membela seorang WNI apapun profesinya, tapi tidak berarti institusi lain boleh lepas tangan. Apalagi telah disimpulkan bahwa sebagian besar masalah TKI di luar negri bersumber dari tanah air sebelum mereka diberangkatkan.

"Semestinya Kemenlu melakukan tugas utamanya melakukan diplomasi politik dan ekonomi yang di dalamnya menyangkut investasi, perdagangan atau pariwisata," jelas Najib.

Dengan beruntunnya ancaman hukuman mati, maka masalah politik dan ekonomi bisa mandul atau terbengkalai. Apalagi ada trend diat atau tebusan terus menerus meningkat, sebagaimana tuntutan terhadap Satinah sebesar Rp 10 miliar.

"Tentu hal ini kalau diikuti bisa membuat APBN kita akan terkuras. Kenapa masalah ini tidak dimasukkan sebagai bagian dari asuransi dimana setiap TKI yang akan berangkat harus membayarnya?" tanyanya.

"Tapi lebih dari masalah uang adalah harga diri dan martabat bangsa yang jadi taruhannya yang bukan mustahil membuat para diplomat kita tidak cukup percaya diri dan ragu menegakkan kepalanya berhadapan dengan diplomat lain," tandasnya. [zul]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya