Berita

ilustrasi

Politik

Indonesia Berhak Punya Presiden Lebih Baik dari Prabowo dan Ical

JUMAT, 01 MARET 2013 | 22:16 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Pernyataan aktivis Partai Demokrat Rachlan Nashidik soal mundurnya Anas Urbaningrum sebagai ketua umum Demokrat menuai kontroversi. Rachlan yang kini menjabat Sekretaris Departemen Pemajuan dan Perlindungan HAM DPP Demokrat menjelaskan maksud pernyataannya bahwa mundurnya Anas telah menggagalkan munculnya capres Demokrat yang bisa menghadang Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie.

"Itu sepenuhnya misi politik saya di Demokrat: memberi Indonesia alternatif capres yang lebih baik dari realitas yang ada saat ini," kata Rachlan dalam keterangannya, Jumat (1/3).

Dia mengatakan, dengan presidential treshold 20% maka hanya partai besar yang bisa memajukan capres pada 2014. Itu artinya, hanya tiga atau empat capres yang bisa bertanding padahal di luar parpol adan banyak figur-figur yang lebih baik.


Dalam konteks itu, ungkap Rachlan, Demokrat adalah partai pemenang pemilu dan satu-satunya partai karena alasan internal maupun pendirian politiknya, paling membuka pintu bagi capres dari luar. Hal itu sepanjang mereka adalah figur nasional yang terpandang oleh komitmen demokrasi dan integritas pribadinya.Tapi sayangnya, problem internal Demokrat membuatnya mengalami krisis yang ditandai oleh elektabilitasnya yang jatuh terpuruk.

"Setelah Anas menjadi tersangka KPK dan mundur, dia malah memelihara krisis di partai dengan menyediakan dirinya sebagai titik pertamuan kepentingan politik dari kelompok dan aktor yang selama ini secara nasty menyerang pemerintah dan Demokrat," kata Rachlan.

Menurut Rachlan, sikap Anas itu menghambat upaya penyelamatan partai yang dilakukan Majelis Tinggi Partai Demokrat yang bertumpu pada pembersihan dan penataan partai.

"Gagalnya penyelamatan partai akan membuat Demokrat tidak bisa mengimbangi partai-partai lain yang sudah memiliki capresnya sendiri. Problem krusial ini tidak pernah diantisipasi Anas. Di bawah kepemimpinannya, "politik" atau "kepentingan publik" sebagai fungsi dari partai politik, terhapus pengejaran kepentingan dan keuntungan pribadi," sambung dia.

Akibatnya, kata Rachlan lagi, Demokrat tidak bisa digunakan oleh good guys di dalam dan di luar partai sebagai pintu untuk memberi Indonesia capres yang lebih baik dan mampu mengalahkan capres yang ada saat ini.

"Pada kenyataannya Prabowo dan Ical adalah figur-figur yang sudah secara resmi dimajukan sebagai capres oleh partainya masing-masing. Saya berkeyakinan, Indonesia berhak mendapat Presiden yang lebih baik dari mereka," katanya.

"Keberatan saya pada Prabowo dan Ical tidak seketika mewakili sikap saya pada Golkar dan Gerindra, khususnya apabila dua partai itu mungkin nanti memajukan atau mendukung capres lain yang lebih baik," demikian Rachlan. [dem]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya