Berita

ilustrasi

Anas Urbaningrum: Nabok Nyilih Tangan

SABTU, 23 FEBRUARI 2013 | 09:50 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Anas Urbaningrum tidak berada di rumahnya, saat KPK mengumumkan dia sebagai tersangka. Tapi, status di blackberry messenger-nya langsung berubah, saat KPK menetapkan statusnya: Nabok Nyilih Tangan. Dalam bahasa Jawa, itu artinya menampar pakai tangan orang lain.

Kediaman dia di kawasan Duren Sawit begitu ramai, semalam. Sejumlah kader Demokrat menyambangi Anas. Para tetangga juga berdatangan. Mereka sekedar berkerumun, berdiri dan melihat-lihat suasana di depan pagar rumah Anas.

Apa maksud Nabok Nyilih Tangan? Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Profesor Achmad Mubarok yang dekat dengan Anas menolak menjelaskan ungkapan itu. Ia percaya kebenaran dan keadilan. Sehingga yang nabok nyilih tangan itu suatu saat bisa kena hukum karma.


“Saya tidak mau berprasangka. Tapi yakinlah, kebenaran dan keadilan Tuhan itu akan terbuka pada waktunya. Ada orang baik dipenjara tapi keluarnya jadi presiden. Contohnya, Nelson Mandela. Ada juga orang jadi menteri tapi ujungnya masuk bui, contohnya juga ada,” kata Mubarok kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Menurutnya, satu hikmah bisa dipetik dari kejadian ini. Yakni Partai Demokrat lebih mudah melangkah. Karena otomatis, Anas akan mengundurkan diri sebagai Ketum Partai Demokrat. Soal penggantinya, ditentukan Majelis Tinggi.  “Apakah dilakukan KLB (kongres luar biasa) atau ditunjuk Plt (pelaksana tugas). Majelis Tinggi yang menentukan,” tutur Mubarok.

Sementara pengamat politik dari UI Profesor Amir Santoso menerangkan, nabok nyilih tangan itu artinya memukul lawan pakai tangan orang lain. Dalam kaitan ini, mungkin maksudnya, Anas merasa ada yang menabok dirinya lewat orang lain, dalam hal ini mungkin lewat sprindik yang dibocorkan ke publik itu.

“Ada yang bermain secara tidak gentle. Dan sekarang saatnya Anas menabok balik pihak yang nabok dirinya pakai tangan orang lain itu. Itu kalau dia mau mempertahankan reputasi dan nama baiknya. Buka saja semua borok yang dia ketahui ke publik karena rakyat senang dan mendukung langkah itu,” kata Amir Santoso.

Kalau Anas berani buka-bukaan, rakyat akan mendukung langkah itu. Anas jangan mau jadi korban sendirian. “Kalau ada orang di atasnya yang menurutnya salah, buka saja kasusnya. Anas tak perlu sedih menghadapi kasus ini,” katanya. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Tambahan Dana BBM Subsidi Tembus Rp2 Triliun per Hari

Jumat, 10 April 2026 | 02:02

HIPKA Dorong Kepercayaan Pengusaha di Tengah Ketidakpastian Global

Jumat, 10 April 2026 | 01:26

Warga Dunia Khawatir Konflik Iran-Israel Kembali Pecah

Jumat, 10 April 2026 | 01:19

Perlu Hitungan Matang Jaga Ketahanan BBM

Jumat, 10 April 2026 | 01:04

Sandiaga Uno Raih Penghargaan Muzakki Teladan Berdampak

Jumat, 10 April 2026 | 00:31

Prabowo Cerdas Sikapi Wacana Impeachment

Jumat, 10 April 2026 | 00:18

Masa Depan Jakarta Ada di Kota Tua dan Kepulauan Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 00:05

Gencatan Senjata Iran-Israel Bukan Akhir Konflik, Indonesia Wajib Waspada

Kamis, 09 April 2026 | 23:41

Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba Butuh Pemimpin Baru

Kamis, 09 April 2026 | 23:24

MRT Adalah Game Changer Transformasi Kota Tua Jakarta

Kamis, 09 April 2026 | 23:03

Selengkapnya