Di negara-negara berkembang, dapat dikatakan seringkali kekuasaan seorang pemimpin berakhir tidak secara normal. Ada yang dikudera dan melarikan diri. Bahkan ada yang sangat tragis dimana akhir dari kekuasaan terjadi bersamaan dengan akhir dari kehidupan sang penguasa. Ada yang dibunuh oleh massa seperti yang dialami Muammar Khadafi tahun lalu. Ada juga yang bunuh diri.
Demikian antara lain pelajaran yang dipetik aktivis M. Hatta Taliwang dalam mencermati proses transisi politik yang terjadi di sejumlah negara di kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin.
Di Pakistan, tahun 1977, Jendral Zia-ul-Haq menggulingkan Zulfikar Ali Bhutto karena menganggap Bhutto gagal menyelamatkan negara dari krisis.Â
“Adalah suatu dosa besar apabila Angkatan Bersenjata diam saja seperti penonton ketika melihat para pemimpin politik gagal menyelamatkan negara dari krisis,†demikian kata Zia-ul-Haq kala memimpin kudeta.
Beberapa mantan penguasa memilih melarikan diri, menghindar dari kemarahan rakyat. Ini antara lain dilakukan olehFerdinand Marcos (Philipina) yang akhirnya meninggal di Hawai, Shah Reza Pahlevi dari Iran yang lari ke Amerika Serikat dan akhirnya meninggal dunia di Mesir. Juga Idi Amin dari Uganda yang meninggal di Saudi Arabia. Begitu juga Stroessner dari Paraguay yang meninggal di Brazil.
Yang lebih tragis dari kudeta, menurut hemat Hatta, adalah keputusan mantan penguasa untuk bunuh diri.
Misalnya Presiden Korea Selatan Roh Moo-hyun yang memilih terjun bebas dari dari pegunungan di belakang rumahnya di Desa Bongha, pada Mei 2009. Roh meninggalkan catatan yang mengatakan bahwa hidupnya sulit. Ia pun meminta maaf karena telah “membuat banyak orang menderitaâ€.
Jauh sebelum itu, pada Agustus 1954 Presiden Brazil Getulio Vargas memilih bunuh diri karena frustrasi menghadapi krisis ekonomi di negerinya. Peristiwa tragis itu terjadi beberapa jam setelah Vargas menyatakan mundur sebagai presiden.
"Tak ada yang tersisa selain darahku. Telah kuberikan hidupku kepada kalian, kini aku berkorban nyawa. Cara ini kupilih untuk membela kalian. Semoga jiwaku menyertai kalian, namaku terus ada di dalam perjuangan kalian," demikian penggalan ungkapan Vargas sebelum bunuh diri seperti yang dikutip Hatta Taliwang.
[zul]