Berita

ilustrasi

Inilah Sepenggal Kisah Penguasa yang Dikudeta, Terusir dan Bunuh Diri

KAMIS, 21 FEBRUARI 2013 | 11:03 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Di negara-negara berkembang, dapat dikatakan seringkali kekuasaan seorang pemimpin berakhir tidak secara normal. Ada yang dikudera dan melarikan diri. Bahkan ada yang sangat tragis dimana akhir dari kekuasaan terjadi bersamaan dengan akhir dari kehidupan sang penguasa. Ada yang dibunuh oleh massa seperti yang dialami Muammar Khadafi tahun lalu. Ada juga yang bunuh diri.

Demikian antara lain pelajaran yang dipetik aktivis M. Hatta Taliwang dalam mencermati proses transisi politik yang terjadi di sejumlah negara di kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin.

Di Pakistan, tahun 1977, Jendral  Zia-ul-Haq menggulingkan Zulfikar Ali Bhutto  karena menganggap Bhutto gagal menyelamatkan negara dari krisis. 


“Adalah suatu dosa besar apabila Angkatan Bersenjata diam saja seperti penonton ketika melihat para pemimpin politik gagal menyelamatkan negara dari krisis,” demikian kata Zia-ul-Haq kala memimpin kudeta.

Beberapa mantan penguasa memilih melarikan diri, menghindar dari kemarahan rakyat. Ini antara lain dilakukan olehFerdinand Marcos (Philipina) yang akhirnya meninggal di Hawai, Shah Reza Pahlevi dari Iran yang lari ke Amerika Serikat dan akhirnya meninggal dunia di Mesir. Juga Idi Amin dari Uganda yang meninggal di Saudi Arabia. Begitu juga Stroessner dari Paraguay yang meninggal di Brazil.

Yang lebih tragis dari kudeta, menurut hemat Hatta, adalah keputusan mantan penguasa untuk bunuh diri.

Misalnya Presiden Korea Selatan Roh Moo-hyun yang memilih terjun bebas dari dari pegunungan di belakang rumahnya di Desa Bongha, pada Mei 2009. Roh meninggalkan catatan yang mengatakan bahwa hidupnya sulit. Ia pun meminta maaf karena telah “membuat banyak orang menderita”.

Jauh sebelum itu, pada Agustus 1954 Presiden Brazil Getulio Vargas memilih bunuh diri karena frustrasi menghadapi krisis ekonomi di negerinya. Peristiwa tragis itu terjadi beberapa jam setelah Vargas menyatakan mundur sebagai presiden.

"Tak ada yang tersisa selain darahku. Telah kuberikan hidupku kepada kalian, kini aku berkorban nyawa. Cara ini kupilih untuk membela kalian. Semoga jiwaku menyertai kalian, namaku terus ada di dalam perjuangan kalian," demikian penggalan ungkapan Vargas sebelum bunuh diri seperti yang dikutip Hatta Taliwang. [zul]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya