Berita

Prof Azyumardi Azra

Wawancara

WAWANCARA

Prof Azyumardi Azra: Turunkan Tim Terbaik Mabes Polri, Ungkap Pelaku Pelemparan Gereja

SABTU, 16 FEBRUARI 2013 | 10:00 WIB

Polri diminta menurunkan tim terbaiknya untuk mengungkap pelaku pelemparan bom molotov terhadap lima Gereja di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (14/2).

“Kalau Polri belum menemukan siapa pelakunya, tentu publik bisa berspekulasi. Makanya turunkan tim terbaik Mabes Polri untuk mengungkap pelaku pelemparan Gereja itu,’’ kata cendikiawan Muslim, Azyumardi Azra, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut bekas Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta itu,  tindakan ini sangat tidak berperikemanusiaan.


“Saya khawatirnya situasi politik kita yang panas di atas, juga ikutan ke bawah. Pemerintah seharusnya memberikan rasa aman terhadap rakyat. Jangan sampai panik seperti ini,” paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya;


Apa yang terjadi di balik itu ?
Itu tugas Polri mengusutnya. Yang jelas, ini tragedi kemanusiaan yang membuat hati kita tersayat. Saya mengutuk tindakan tak beradab tersebut.  Tindakan itu kan termasuk teror. Mereka bisa dikatakan teroris. Tindakan itu sangat tidak dibenarkan.

Apa Anda sudah bisa tebak siapa pelakunya?

Saya tidak suka tunjuk sana sini. Yan jelas  itu kerjaan orang iseng yang ingin kacaukan keadaan negara kita yang sudah semerawut.

Apa tujuannya ingin mengadu domba umat beragama?

Saya kira begitu. Mungkin itu bagian dari rekayasa kelompok-kelompok tertentu yang tak bertanggung jawab untuk mengadu domba umat-umat beragama ataupun berbagai etnis di sana.

Apa Aksi itu dilakukan oknum kelompok keras?
Saya tidak mau shuudzon (berburuk sangka) tuduh pihak manapun.

Terlalu dini jika mengatakan begitu. Kalau kita langsung mengarahkan telunjuk kepada salah satu oknum, itu bukan kapasitas kita. Nanti bisa dimarahi. Tunggu saja hasil penyelidikan Polri.

Kenapa sikap Anda kurang tegas ?

Sikap saya sama seperti masyarakat lain menunggu penelusuran Polri dan pihak intelijen.Kalau belum terbukti kebenarannya, tak etis tujuk satu pihak. Kita bisa dicap fitnah dong.

Apa ini bisa dilakukan teroris Poso ?
Saya tidak tahu menahu. Tetapi kalau melihat kronologis aksi mereka yang suka mengacau dengan aksi teror di berbagai daerah, itu bisa saja. Bisa juga ada pihak-pihak lain atau pemain baru.

Mungkin ini terkait Pilkada Sulsel?
Bisa jadi. Kalau ditelusur secara luas, bisa macam-macam tujuannya. Pilkada dan jelang Pemilu bisa jadi gong kebangkitan teroris. Ingat loh, ini tahun politik. Berbagai hal bisa terjadi.

Apa tindakan itu bentuk perlawanan terhadap pemerintah?

Semua alasan bisa masuk akal kalau direfleksikan kondisi di sana. Makanya petinggi negara tidak gegabah mengeluarkan pernyataan. Sebab, rentan kontroversi.

Apa pemerintah kecolongan lagi ?
Bangsa kita pernah terpuruk dengan berbagai bom, karena tidak ditangani serius. Kerja aparat dengan intelijen harus sinergis untuk melawan terorisme.

Upaya pemerintah belum serius?
Pemerintah selalu serius. Tapi penanganan teror itu belum memuaskan rakyat. Sebab, teror terus terjadi.

Makanya rakyat  suka bertanya, ada apa dengan penanganan teroris di negeri ini, kenapa teroris terus ada. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

DPR Tak Setuju Skema War Tiket Haji Meski Masih Wacana

Minggu, 12 April 2026 | 14:01

PM Carney Tegas Akhiri Ketergantungan Militer Kanada pada AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:52

Pemerintah Tak Perlu Reaktif Respons Usulan JK

Minggu, 12 April 2026 | 13:40

Pembicaraan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:34

Pengawasan Kasus Hukum oleh DPR Bukan Intervensi

Minggu, 12 April 2026 | 13:11

Negosiasi 21 Jam Gagal, Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal

Minggu, 12 April 2026 | 13:08

Perundingan Damai Iran dan AS Berakhir Tanpa Hasil

Minggu, 12 April 2026 | 12:26

Hasan Nasbi Sebut Pernyataan Saiful Mujani Ajakan Jatuhkan Pemerintah

Minggu, 12 April 2026 | 12:23

Prabowo Harus Singkirkan Menteri Titipan Era Jokowi

Minggu, 12 April 2026 | 12:15

Seluruh Elemen Pemerintahan Jangan Menunda Kepindahan ke IKN

Minggu, 12 April 2026 | 12:01

Selengkapnya