Berita

presiden sby

Mau Laporkan SBY, Penyelamat Partai Diusir Satgas Demokrat

JUMAT, 15 FEBRUARI 2013 | 21:53 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Keinginan Koordinator Komite Penyelamat Partai Politik Untuk Kesejahteraan Rakyat (KPPPUKR) Alloysius Abi untuk bertemu petinggi DPP Partai Demokrat di Jalan Kramat Raya Nomor 146 Jakarta Pusat, kantor partai tersebut, petang tadi (Jumat, 15/2) berbuah pahit.

Sebelum sempat bertemu, ia dan beberapa kawannya diusir Satgas partai keluar dari gedung. Tidak hanya itu, pintu gerbang juga ditutup rapat agar pihaknya tidak bisa masuk kembali kedalam kantor.


“Saya kesini datang baik-baik ingin bertemu petinggi partai (Partai Demokrat), malah dihalang-halangi dan tidak diizinkan bertemu,” keluh Abi.

“Saya kesini datang baik-baik ingin bertemu petinggi partai (Partai Demokrat), malah dihalang-halangi dan tidak diizinkan bertemu,” keluh Abi.

Sebelum diusir, Alloysius Abi sempat mendatangi petugas resepsionis dan meminta waktu untuk bertemu pimpinan partai.

“Tapi mereka hanya mencatat permintaan saya, tanpa mengagendakan waktunya. Mereka hanya berjanji akan mengontak bila pimpinan sudah bisa,” kata Alloysius Abi sambil menunjukkan tanda terima dari petugas resepsionis.

Pria yang mengenakan kemeja putih motif garis hitam ini mengatakan, kedatangannya ke kantor DPP Partai Demokrat untuk melaporkan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Dewan Kehormatan partai karena melanggar Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) partai.

Ia menyebut, bentuk pelanggaran Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat adalah dengan sewenang-wenang mengambil kewenangan Ketua Umum DPP Partai PD tanpa berlandaskan hukum. “Seharusnya kalau ingin mengambil alih posisi ketum PD harus lewat konggres dan bukan dengan cara yang lain,” katanya berapi-berapi.

Untuk itu, Dia meminta kepada Dewan Kehormatan memanggil Ketua Majelis Tinggi PD untuk dimintai keterangannya dalam upaya mengambil alih kewenangan Ketua Umum PD.

“Tindakan Majelis Tinggi, bukan saja telah melanggar AD dan ART, tetapi juga telah menurunkan derajat posisi politik dan yuridis Majelis Tinggi karena harus turut manangani hal-hal teknis yang oleh AD/ART diserahkan kepada pelaksana tugas partai," jelasnya.

Dalam pelaporan Ketua Majelis Tinggi Partai ke Dewan Kehormatan Partai, ia didampingi Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) sebagai bagian dari komponen masyarakat yang ikut berpartisipasi terhadap visi dan misi partai sekaligus pendidikan Partai Demokrat.

Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus mengatakan, Partai Demokrat telah menyimpang dari cita-citanya sehingga masyarakat sangat berkepentingan untuk meluruskan dan mengoreksi segala tindak tanduk partai itu.

“Kami lihat Partai Demokrat dalam mis manajemen dalam mengelola partai sehingga terjadi pelanggaran terhadap AD dan ART partai,” tegasnya.

Ia menilai, apa yang dilakukan internal partai itu sangat tidak mendidik masyarakat karena sangat otoriter dan feodal dalam mengambil alih kewenangan ketua umum partai. “Seharusnya Majelis tinggi mengambil secara demokratis, taat azas, taat hukum,” katanya.

Selain itu, hampir seluruh jabatan tertinggi partai itu dipegang oleh satu orang dalam hal ini Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Dengan ini masyarakat akan melihat feodalisme tumbuh subur dari partai itu dan seperti ada kultus individu,” katanya.

Untuk itu, ia ingin Ketua Dewan Pembina dan seluruh elemen partai untuk kembali ke AD dan ART agar partai itu betul-betul demokratis seperti yang digembar-gemborkan selama ini. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Zero ODOL Sulit Diterapkan, DPR Ingatkan Risiko Inflasi di Sektor Logistik

Jumat, 10 April 2026 | 12:14

Catut Nama Pimpinan KPK, Komplotan Pegawai Gadungan Peras Anggota DPR

Jumat, 10 April 2026 | 11:51

Sentimen Perang Picu Spekulasi Logistik: Ancaman Baru bagi Stabilitas Pangan Nasional

Jumat, 10 April 2026 | 11:39

Komplotan Pegawai KPK Gadungan Dibongkar, 17.400 Dolar AS Disita dari Aksi Pemerasan

Jumat, 10 April 2026 | 11:28

DPR: Sejumlah Jalan Tol Cacat Sejak Awal Konstruksi

Jumat, 10 April 2026 | 11:16

Emas Antam Makin Mahal, Cek Daftarnya Hari Ini

Jumat, 10 April 2026 | 11:05

KPK-Polda Metro Tangkap 4 Pegawai Gadungan di Jakarta Barat

Jumat, 10 April 2026 | 11:03

Ini Kronologi Kasus Petral yang Menjerat Riza Chalid dan Enam Tersangka Lainnya

Jumat, 10 April 2026 | 10:53

Bulan Ini Prabowo Bakal Groundbreaking 21 Proyek Hilirisasi dan 29 Titik PSEL

Jumat, 10 April 2026 | 10:49

KPK Terapkan Skema Kerja BDR-BDK untuk Dukung Efisiensi Energi

Jumat, 10 April 2026 | 10:34

Selengkapnya