Berita

anas urbaningrum

Terungkap, Sejak Awal Anas Urbaningrum Memang Sudah Dilemahkan

SABTU, 09 FEBRUARI 2013 | 21:21 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Pengambilalihan kewenangan teknis Ketua Umum Partai Demokrat oleh Ketua Majelis Tinggi SBY sesungguhnya tidak menambahi atau mengurangi kewenangan Anas Urbaningrum. Pasalnya, selama ini kewenangan dan kekuasaan tertinggi tidak berada di tangan Anas. Semua kebijakan strategis partai selama ini juga berada di tangan SBY.

Hal itu dikatakan pengamat politik UIN Syarif Hidayatulah Jakarta, Saleh P. Daulay kepada Rakyat Merdeka Online (Sabtu, 9/2).

"Tidak ada sesuatu yang baru dalam keputusan itu. Keputusan itu diambil dan dipublikasikan justru hanya untuk menunjukkan kepada publik bahwa SBY adalah penguasa penuh PD. Selama ini mungkin orang menduga Ketua Umum-nya yang berkuasa, padahal tidak," jelasnya.


Bangunan struktur Partai Demokrat dari awal memang sudah didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan SBY memiliki kewenangan penuh. Lihat saja, ada tiga jabatan strategis yang dimiliki SBY pada saat bersamaan. Yaitu Ketua Dewan Pembina, Ketua Dewan Kehormatan, dan Ketua Majelis Tinggi Partai.  Selain itu, posisi-posisi strategis lainnya ditempati oleh orang-orang dalam "lingkaran SBY".

"Di posisi Sekjend ada Edhie Baskoro, Bendahara Umum ada Sartono Hutomo, dan Direktur Eksekutif ada Totok Riyanto. Mereka ini dikenal sebagai kerabat dan orang-orang dekat SBY," jelas Saleh.

Dengan komposisi seperti itu, posisi Anas itu memang sudah lemah sejak awal. Karena itu, jangan heran bila keputusan yang diambil tadi malam akan diterima oleh semua kader Demokrat. Kalaupun ada yang menyesalkan dan tidak setuju, itu mungkin hanya disimpan di dalam hati. Apalagi, keputusan tadi malam juga diiringi dengan ancaman untuk menindak tegas siapa pun yang tidak setuju.

"Dalam pertemuan tadi malam, saya kira Anas tidak bisa berbicara apa-apa. Kalaupun dia menolak, pasti akan terpental. Andaikata ada voting, Anas mungkin hanya dapat satu suara," imbuh Saleh, Alumni Colorado State University, AS ini.

Sikap Anas yang menerima keputusan itu dengan legowo perlu diapresiasi. Sikap diam tanpa perlawanan yang ditunjukkan selama ini menunjukkan bahwa dia sadar atas posisi marginalnya. Keputusan itu sendiri sebetulnya baik untuk Anas. Setidaknya, seperti kata SBY, agar dia fokus menuntaskan persoalan hukum yang dikaitkan kepadanya.[zul]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya