Berita

Rizal Ramli

Wawancara

Rizal Ramli: Popularitas Mudah Direkayasa Dengan Uang & Analis Bayaran

JUMAT, 08 FEBRUARI 2013 | 08:19 WIB

Munculnya sejumlah nama capres 2014 mengundang perhatian Ketua Aliansi Rakyat Untuk Perubahan Dr Rizal Ramli.

Di mata bekas Menko Perekono­mian yang kerap melakukan per­jalanan ke desa-desa dan kota-ko­ta seluruh Indonesia itu, belum ada capres yang benar-benar mantap.

“Semuanya masih buih-buih sa­ja. Belum ada yang betul-betul man­tap,” tutur Rizal Ramli yang me­ngaku tengah di Maroko saat dikon­tak Rakyat Merdeka, Rabu (6/2).


Menurutnya, baru 1/3 rakyat yang telah menetapkan tokoh pi­li­hannya. Sementara sisanya akan menunggu saat-saat terakhir.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa kriteria capres, sehingga menjadi mantap ?

Pertama,
amanah dan bersih KKN (korupsi, kolusi, dan nepo­tis­me). Calon yang memiliki track record KKN akan semakin KKN jika menjadi Presiden. Mau dibawa ke mana Indonesia ini. Masa 10 tahun yang akan datang kita masih ngomongin KKN.

Kedua,
kompetensi. Ini tidak bi­sa direkayasa dan semakin di­perlukan. Sebab, masalah yang kita hadapi semakin kompleks.

Ketiga,
popularitas. Kriteria ini yang paling mudah direkayasa, dengan uang, iklan, spanduk dan analis-analis bayaran.

Apa rakyat mengetahui tiga syarat itu?

Saya berharap rakyat kita be­lajar dari pengalaman masa lalu bahwa pencitraan tidak akan mem­bawa kita ke tingkat yang lebih tinggi. Sudah waktunya kita semua melihat lebih jauh dari sekadar melihat bedak dan lipstik.

Apa sih yang salah dengan demokrasi kita?

Saya prihatin karena sejak ma­hasiswa memperjuangkan In­do­nesia yang demokratis. Bahkan sampai dipenjara di tangsi militer dan penjara Sukamiskin, Ban­dung. Sedih karena demokrasi ki­ta dibajak oleh oligarki, dan beru­bah menjadi demokrasi kriminal.

Apa yang harus dilakukan?

Kita harus melakukan reforma­si pembiayaan partai politik, se­hingga sisi kriminal dari de­mokrasi bisa dihapus.

Bukankah demokrasi yang baik harus diikuti penegakan hukum?

Betul. Demokrasi memang ha­­rus juga diikuti dengan pe­rom­bakan hukum. Jika tidak, hu­­kum hanya akan mengun­tung­­­kan ke­lompok elite. Tapi meng­­hambat kemajuan ekono­mi dan pening­katan kesejah­te­raan rakyat.

Contoh Singapura, bukan ne­ga­ra demokratis tapi hukumnya ba­gus, sehingga rakyat terlin­dungi dan pengusaha senang.

Memang di sini bagaimana?

Indonesia demokratis, tapi hu­kumnya amburadul. Rakyat tidak terlindungi dan bisnis penuh ke­tidakpastian. Hanya demokrasi dengan legal enforcement, bukan interest-enforcement, yang akan membawa manfaat untuk rakyat.

O ya, Anda bilang sedang di Maroko, tepatnya di mana?

Saya sedang di Rabat, Maroko.  

Apa yang Anda lakukan di sana?

Ada acara konferensi yang di­gelar PBB mengenai transisi de­mokrasi di negara-negara Arab. Pertemuan tingkat tinggi yang dihadiri pemimpin-pemimpin negeri Arab yang mengalami transisi politik.

Awalnya direncanakan akhir tahun lalu di Kairo, Mesir. Tetapi demontrasi berdarah yang tengah terjadi di Mesir ketika itu, juga pe­rang saudara di Syria, memak­sa pertemuan dipindahkan ke Rabat.

Siapa saja yang hadir di per­te­muan Maroko?

Pemimpin-pemimpin transisi dari Tunisia, Mesir, Yemen, Syria, South Afrika, Libya, Le­ba­non, Bahrain. Pertemuan dibuka lang­sung oleh Perdana Menteri Ma­roko, Abdelilah Benkirane.

Apa kepentingan Indonesia di situ?

Kalau kita lihat sejarah perjua­ngan Soekarno, Hatta dan foun­ding father lainnya, pertemuan-pertemuan seperti itu lazim dila­kukan, ada atau tidak ada pilpres.

Para perintis kemerdekaan kita adalah pemimpin pencerdasan, bukan pencitraan. Pencerdasan andalkan interaksi terus menerus dengan rakyat.

Sementara pencitraan cukup dengan iklan, pidato dan span­duk. Yang penting semakin popu­ler tanpa peduli mimpi dan hara­pan rakyat.

Ada pemimpin Asia yang hebat lebih mengandalkan pencer­dasan, bukan pencitraan, seperti Lee Kwan Yew, Mahathir, Teng Hsio Ping. Mereka berhasil me­ningkatkan kesejahteraan rakyat­nya dan mengejar Barat. Mereka bicara apa adanya dan berani ber­tindak.

Apa ada lagi kunjungan ke luar negeri berikutnya?

Awal Maret ke New York un­tuk rapat Panel Ahli dengan 3 peme­nang nobel dan ekonom dari Oxford, US, Prancis, India dan China. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

DPR Tak Setuju Skema War Tiket Haji Meski Masih Wacana

Minggu, 12 April 2026 | 14:01

PM Carney Tegas Akhiri Ketergantungan Militer Kanada pada AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:52

Pemerintah Tak Perlu Reaktif Respons Usulan JK

Minggu, 12 April 2026 | 13:40

Pembicaraan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:34

Pengawasan Kasus Hukum oleh DPR Bukan Intervensi

Minggu, 12 April 2026 | 13:11

Negosiasi 21 Jam Gagal, Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal

Minggu, 12 April 2026 | 13:08

Perundingan Damai Iran dan AS Berakhir Tanpa Hasil

Minggu, 12 April 2026 | 12:26

Hasan Nasbi Sebut Pernyataan Saiful Mujani Ajakan Jatuhkan Pemerintah

Minggu, 12 April 2026 | 12:23

Prabowo Harus Singkirkan Menteri Titipan Era Jokowi

Minggu, 12 April 2026 | 12:15

Seluruh Elemen Pemerintahan Jangan Menunda Kepindahan ke IKN

Minggu, 12 April 2026 | 12:01

Selengkapnya