Berita

Kwik Kian Gie

Wawancara

WAWANCARA

Kwik Kian Gie: Aneh, Hary Tanoe & Rhoma Irama Kok Jadi Rebutan Parpol...

KAMIS, 31 JANUARI 2013 | 08:00 WIB

Ada fenomena menarik di panggung politik Indonesia. Orang yang tidak punya track record di bidang politik, tiba-tiba menjadi tokoh politik.

  Misalnya saja, Hary Tanoesoedibjo dan Rhoma Irama. Keduanya bikin terkejut masyarakat.

Begitu disampaikan politisi senior PDI Perjuangan, Kwik Kian Gie, kepada Rakyat Merdeka, Selasa (29/1).


“Bagi saya Hary Tanoe dan Rhoma Irama sama-sama mengejutkan, bikin geger panggung politik Indonesia,’’’papar Kwik Kian Gie.

Berikut kutipan selengkapnya;

Kenapa terkejut, bukankah itu hal biasa saja?
Hary Tanoe sebelumnya tidak dikenal dalam politik, tiba-tiba menjadi Ketua Dewan Pakar Partai  Nasdem.

Tambah terkejut lagi, tiba-tiba mengundurkan diri. Lalu seakan menjadi magnet, jadi rebutan parpol. Ini kan aneh, tidak punya latarbelakang politik, tapi direbutkan parpol.

Barangkali karena kekuatan uang dan medianya?
Saya kira ini keliru, panggung politik itu jangan tergantung kepada kekuatan uang dan kekuatan media. Saat saya mulai berkarier di politik, 1987, kondisinya tidak seperti itu. Saya ingat betul 17 April 1987 ketika PDI mendapat giliran kampanye di  Parkir Timur Senayan, banyak yang datang, tapi bukan karena kekuatan uang. Sekarang ini saya lihat pragmatis, politisi menyebar uang untuk menarik simpati rakyat.

Kalau Rhoma Irama kenapa Anda terkejut?
Saya kira sama dengan Hary Tanoe. Rhoma Irama ingin menjadi capres 2014, padahal tidak memiliki track record di politik. Ada yang menilai ini fenomena menarik. Tapi ada juga yang merasa aneh. Tapi begitulah kondisi perpolitikan nasional saat ini.

Kembali ke Hary Tanoe, bergerak di dunia sosial dan dunia kemahasiswaan saja tidak pernah saya dengar. Tapi kok bisa menjadi rebutan parpol, ini ada apa.

Ini fenomena apa menurut Anda?
Dengan munculnya Hary Tanoe ini, saya menilai sekarang ini kondisi perpolitikan nasional kurang sehat.

Sekarang ini banyak yang ingin  berpolitik, tapi tidak memikirkan bagaimana cara menjadi penyelenggara negara dengan baik. Mereka hanya tahu cara bermanuver dan  gagah-gagahan di televisi.

Mungkin Hary Tanoe muncul karena terinspirasi keberhasilan Ahok?
Oh itu tidak bisa disamakan dong. Pak Ahok ada track record-nya sebagai bupati. Rakyat melihat itu.

Apa warga Tionghoa mendukung Hary Tanoe dalam dunia politik?
Menurut saya tidak.  Hary Tanoe sama sekali tidak dianggap sebagai pemimpin di kalangan etnis Tionghoa. Sebab, tidak ada memimpin organisasi terkait Tionghoa.

O ya, Anda bilang politik jangan tergantung uang, lalu apa yang diutamakan?
Kalau politik tergantung uang, maka terjadi politik demoralisasi yang besar besaran dan korupsi besar-besaran juga.

Seharusnya bagaimana?
Seharusnya pemimpin itu bukan lahir dari kekuatan uang. Tapi rakyat yang menghendaki orang itu menjadi pemimpin.

Bagaima prediksi Anda soal Pemilu 2014, tokoh mana yang muncul?
Kelihatannya tokoh yang muncul itu yang ada uangnya.  Sebab, rakyat sekarang pragmatis, tidak menghargai siapa yang berpidato. Tapi mereka datang untuk mendapatkan uang.

Kalau dulu, orang datang ke acara kampanye ingin dengarkan isi pidatonya. Misalnya, Bung Karno pidato banyak yang datang. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

DPR Tak Setuju Skema War Tiket Haji Meski Masih Wacana

Minggu, 12 April 2026 | 14:01

PM Carney Tegas Akhiri Ketergantungan Militer Kanada pada AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:52

Pemerintah Tak Perlu Reaktif Respons Usulan JK

Minggu, 12 April 2026 | 13:40

Pembicaraan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:34

Pengawasan Kasus Hukum oleh DPR Bukan Intervensi

Minggu, 12 April 2026 | 13:11

Negosiasi 21 Jam Gagal, Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal

Minggu, 12 April 2026 | 13:08

Perundingan Damai Iran dan AS Berakhir Tanpa Hasil

Minggu, 12 April 2026 | 12:26

Hasan Nasbi Sebut Pernyataan Saiful Mujani Ajakan Jatuhkan Pemerintah

Minggu, 12 April 2026 | 12:23

Prabowo Harus Singkirkan Menteri Titipan Era Jokowi

Minggu, 12 April 2026 | 12:15

Seluruh Elemen Pemerintahan Jangan Menunda Kepindahan ke IKN

Minggu, 12 April 2026 | 12:01

Selengkapnya