Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Anak Malas Makan Berisiko Sakit Jantung Dan Diabetes

Orangtua Mesti Inovatif Sajikan Menu Aneka Makanan
MINGGU, 30 DESEMBER 2012 | 08:25 WIB

.Masalah susah makan (picky eater) pada anak usia 6 bulan hingga 6 tahun jangan dianggap remeh. Jika dibiarkan terlalu lama, bisa menyebabkan gangguan infeksi saluran kemih kronis sampai masalah kejiwaan. Bahkan ketika dewasa, anak berisiko dua kali lipat terkena penyakit degeneratif seperti jantung, diabetes dan kanker.

Faktor gangguan bicara, pe­ngecapan hingga sensitivitas akan rasa kenyang yang berle­bih­an, salah satu penyebab anak me­ngalami masalah sulit makan.

Menurut dokter spesialis anak dari Brawijaya Women and Chil­dren Hospital Attila Dewanti, anak yang susah makan akan mengganggu pertumbuhan ba­dan anak menjadi lebih pendek, de­ngan berat badan kurang, yang tidak sesuai usianya.

“Saat ini, ada sekitar 20 hing­ga 30 persen anak usia 6 bulan sam­pai 6 tahun, mengalami ma­salah sulit makan. Selain itu, anak yang lahir prematur sekitar 40 hingga 70 persen berisiko mengalami gangguan makan dibanding lahir normal,” ungkap Attila Dewanti dalam seminar media bertajuk ‘Solutions for Toddler Feeding Problems’ di Jakarta, Minggu (16/12).

Menurut Attila, masalah sulit ma­kan pada anak harus segera di­tangani karena bisa meng­ganggu pertumbuhan anak dan menye­bab­kan gang­guan kro­nis.

Dia me­ngatakan, sekitar 86 per­sen me­ngalami serangan pe­nyakit kronis akan dialami ke­tika anak berusia 20 tahun, sebanyak 43 persen pada usia 16 sampai 20 tahun dan 33 persen antara usia 11 hingga 15 tahun.

“Kelainan kronis yang dise­bab­kan sulit makan juga bisa me­ngakibatkan in­feksi saluran ken­cing, keganasan, kelainan endo­krin dan metabolik, serta gang­guan neurologis atau per­syarafan hingga gangguan psi­kologis,” beber Attila.

Masalah sulit makan, kata dia, bisa terjadi pada usia 4 ta­hun dan itu otomatis meng­gang­gu tum­buh kembang anak.  Se­perti be­rat dan tinggi badan, ka­rena di usia 4 ta­hun meru­pa­kan masa emas per­tumbuhan sang anak.

“Risiko kematian anak sulit makan bisa meningkat tiga kali lebih besar dibanding penyebab ke­matian lainnya pada anak re­maja,” terangnya.

Angka kematian remaja aki­bat anorexia nervosa atau pe­nolakan makan untuk memper­tahankan berat badan mencapai 3,9 per­sen, dan akibat bulimia nervosa atau kelainan cara ma­kan se­cara ber­lebihan menca­pai 5,2 persen.

Psikolog dari Brawijaya Wo­men and Children Hospital Febria Indra Hastati mengata­kan, kesu­litan makan pada anak ter­kadang dianggap biasa pada orangtua sehingga pena­nga­nan­nya kurang diperhatikan.

“Konsultasikan ke dokter ka­rena anak sulit makan meng­alami kekurangan gizi. Seti­dak­nya de­ngan berkonsultasi, akan diketa­hui masalah yang me­nye­babkan anak picky eater se­hingga dapat diberikan bantuan suplemen untuk mendongkrak gizi anak,” sarannya.

Menurut Febria, orang­tua harus lebih inovatif menya­jikan menu ma­kanan. Karena, anak-anak cen­derung lebih ter­ta­rik dengan suatu hal yang tak bia­sa dan dengan rasa penasaran anak ingin mencicipi makanan tersebut.

“Terkadang orangtua justru salah mempersepsikan mengenai jumlah atau jenis makanan. Pa­dahal, masalah pengecapan tidak semua orang memiliki jenis yang sama,” tandasnya.

Penderita Picky Eater Cenderung Mudah Marah & Sering Mengamuk

Psikolog dari Brawijaya Wo­men and Children Hospital Feb­ria Indra Hastati bilang,  anak susah makan sering di­sertai de­ngan gangguan pe­ri­laku lain, mulai dari yang ri­ngan sampai berat. Seperti gangguan emosi yang ti­dak terkontrol (impulsif).

“Gangguan impulsif itu bia­sanya ditandai mudah marah, se­ring berteriak, mengamuk, keras kepala, suka membantah atau negativisme. Belum lagi, agresif meningkat hingga se­ring me­mukul kepala sendiri atau orang lain. Semua kemau­an harus di­ikuti, tidak bisa ti­dak meng­antre, jail dan usil,” ungkap Fe­bria pada seminar bertema ‘Solutions for Toddler Feeding Problems’ di Jakarta, Minggu (16/12).

Dia mengingatkan,  gangguan sulit makan yang ber­langsung lama, jangan dianggap sepele. Sebab, bisa menyebabkan kom­­­pli­­kasi dan mengganggu tum­buh kembang anak. Salah satu keter­lambatan penanganan ma­salah sulit makan adalah pem­berian vitamin, tanpa men­cari penye­bab­nya.  Karena, pe­nye­bab ke­su­litan makan sebagian besar ada­lah masalah psikologi anak.

“Makanya sangat penting un­tuk mengatasi problem makan dari sisi kejiwaan. Yang paling utama, orangtua harus menghin­dari rasa cemas yang berlebih, lalu ciptakan suasana tenang dan menye­nang­kan dalam ru­mah,” saran Febria.

Selanjutnya, orangtua dian­jurkan untuk mengenalkan ma­kanan baru secara bertahap. Anak diminta mencium dan menyentuh makanan yang baru secara berulang kali.

“Hindari gangguan kegiatan saat makan seperti menonton televisi, membaca buku atau ber­main dengan mainan mereka. Hal seperti ini harus dijauhkan karena akan meng­ganggu fokus anak ketika ma­kan,” jelasnya.

Orangtua diminta untuk lebih memperhatikan kondisi anak, karena jika salah penangan­an­nya, kondisi anak tidak akan mem­baik. Yang sering terjadi, justru kesulitan makan diang­gap dan diobati sebagai infeksi tu­ber­kulosis yang belum tentu benar diderita anak.

“Penanganan gangguan bo­bot berat badan dan kesulitan makan pada anak yang optimal, diha­rapkan dapat mencegah kom­pli­kasi yang ditimbulkan se­hingga dapat meningkatkan ku­alitas anak dalam tumbuh kem­bangnya sampai dewasa, “ terang Febria. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Gubernur BI pun Ikut Mundur, Ada Apa Ini Guru?

Selasa, 28 Juli 2026 | 06:15

Rumah Bedeng di Lebak Bulus Kebakaran

Selasa, 28 Juli 2026 | 06:00

Timnas Garuda Hadapi Timor Leste pada 31 Juli

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:30

Revolusi, Romansa, dan Runtuhnya Komisariat SMID IISIP

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:21

Presiden Harus Tindak Tegas Londo Ireng yang Merugikan Kepentingan Bangsa

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:19

Orang Tak Percaya Perry Warjiyo Mundur karena Alasan Pribadi

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:33

83 Penonton Jadi Korban Tribun GOR Satria Banyumas Roboh

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:18

Ahok Ungkap Awal Pecah Kongsi dengan Jokowi

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:00

Nama Bupati KBB Jeje Ritchie Dicatut untuk Jual Jabatan

Selasa, 28 Juli 2026 | 03:35

Hantu itu Masih Gentayangan

Selasa, 28 Juli 2026 | 03:18

Selengkapnya