Berita

prabowo subianto

Tak Terlibat Jatuhkan Soeharto, Logika Bima Arya Terlalu Dangkal

SABTU, 29 DESEMBER 2012 | 12:26 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Ketua DPP PAN Bima Arya Sugiarto tidak terlibat dalam menjatuhkan Presiden Soeharto pada tahun 1998 lalu. Karena itu, dia tidak memahami bagaimana peta gerakan aktivis 1998.

Demikian disampaikan Ubedillah Badrun, jurubicara Perhimpunan '98 kepada Rakyat Merdeka Online (Sabtu, 29/12) menanggapi pernyataan Bima.

Dalam diskusi di Taman Ismail Marzuki (TIM) kemarin, Bima heran kenapa mantan Danjen Kopassus Letjen (purn) Prabowo Subianto selalu berada di urut nomor satu dalam setiap survei calon presiden.

"Apa kita lupa kenapa dia berhenti dari militer, apa karena dia punya sikap tegas. Di bagian mana tegasnya? Saya tidak habis pikir kawan-kawan 1998 yang menentang militerisme, dictatorship, jadi ganti kelamin, jadi permisif, dan berdamai dengan hal itu," tutur Bima.

Menurut Badrun, melanjutkan keterangannya, pernyataan Bima Arya tersebut terlalu dangkal dan tidak berbasis data. Menurutnya, tidak tepat logika Bima yang melakukan generalisasi atas sikap dan pilihan aktivis 98.

"Sebab aktivis 98 itu banyak, pentolanya juga banyak. Karena kawan-kawan '98 bergerak pada waktu itu dengan pola kepemimpinan presidium," ungkapnya.

Karena itu, ada dua kekeliruan mendasar dari pernyataan mantan pengamat politik tersebut. Pertama, kekeliruan dalam melakukan generalisasi terhadap aktivis 98. Kedua, kekeliruan melakukan penghakiman terhadap pilihan politik aktivis 98.

"Saya kira kekeliruan logika Arya ini bisa disebabkan karena Arya tidak memahami peta gerakan mahasiswa 98 dan memang Arya bukan bagian dari gerakan 98 yang menjatuhkan rezim diktator Soeharto," imbuhnya.

"Sebab kedua karena kepentingan subyektif (Bima) untuk menghadang laju dukungan publik terhadap Prabowo," tandas Badrun. [zul]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

IJTI: Buku Saku 0 Persen Rujukan Penting Pers dan Publik

Sabtu, 11 April 2026 | 18:18

Prabowo Minta Maaf Belum Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

Sabtu, 11 April 2026 | 17:50

Aktivis Tegas Lawan Pengkhianat Konstitusi

Sabtu, 11 April 2026 | 17:27

OTT KPK Tangkap 18 Orang, Bupati Tulungagung Digulung

Sabtu, 11 April 2026 | 16:19

Ingatkan JK, Banggar DPR: Kenaikan Harga BBM Bisa Turunkan Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 11 April 2026 | 16:14

Wamen Ossy: Satgas PKH Wujud Penyelamatan Kekayaan Negara

Sabtu, 11 April 2026 | 15:54

Jawab Tren, TV Estetik dengan Teknologi Flagship Diluncurkan

Sabtu, 11 April 2026 | 15:21

KNPI Soroti Gerakan Pemakzulan: Sebut Capaian Pemerintahan Prabowo Sangat Nyata

Sabtu, 11 April 2026 | 14:54

Setelah 34 Tahun, Prabowo Pamit dari Kursi Ketum IPSI di Munas XVI

Sabtu, 11 April 2026 | 14:47

Hadiri Munas IPSI, Prabowo Ungkap Jejak Keluarga dalam Dunia Pencak Silat

Sabtu, 11 April 2026 | 14:28

Selengkapnya