Berita

ilustrasi, H.S Pirngadi

Wawancara

WAWANCARA

H.S Pirngadi: Presiden SBY Menyumbang Tunai Pengembangan Becak Tenaga Surya

MINGGU, 16 DESEMBER 2012 | 08:57 WIB

Presiden SBY mengendarai becak tenaga surya karya siswa SMK PGRI 2 Ponorogo memberikan kesan indah bagi kepala sekolah tersebut.

“Saya gembira dan kaget. Ini anugerah yang tidak pernah ter­bayangkan kalau Bapak Presiden menaiki becak kami, apalagi menyupir sendiri. Itu menunjuk­kan bahwa Pak Presiden sangat per­hatian terhadap hasil karya sis­wa,” kata Kepala Sekolah SMK PGRI 2 Ponorogo, H.S Pirngadi, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Seperti diketahui dalam kun­jungan kerja di Kabupaten Ma­getan, Jawa Timur, Selasa (11/12), SBY mencoba mengendarai be­cak tersebut tanpa dikayuh. Tidak hanya sekali, dalam sesi uji setir kedua, SBY membonceng  Ani Yudhoyono dan putranya Edhie Baskoro Yudhoyono.

Pirngadi selanjutnya mengata­kan, SBY sangat mensupport agar karya becak tenaga surya ini bisa dikembangkan. “Alhamdulillah, Pak Presiden tidak hanya ngo­mong saja, tetapi kami pun diberi bantuan untuk mengembangkan karya itu. Becak ini dinamakan Ca­kra atau becak rakyat,” pa­parnya.

Berikut kutipan selengkapnya:


SBY memberikan bantuan apa?

Beliau memberikan bantuan berupa uang tunai kepada sekolah kami untuk pengembangan becak tenaga surya itu. Bagi kami, itu sangat hebat sekali.

    

Berapa nilainya?

Saya minta maaf tidak bisa menyebutkan jumlahnya. Itu kan rahasia. Tapi bagi kami itu cukup banyak. Kami berterimakasih sekali.

   

SBY memberinya saat itu juga?

Selasa (11/12) siang Pak Pre­siden mencoba menaiki becak itu. Malamnya bantuan itu di­be­rikan kepada kami. Uang itu akan kami gunakan untuk pengem­ba­ngan becak itu.


Sekarang banyak siswa SMK membuat mobil hybrid, kenapa SMK PGRI 2 Ponorogo ini mem­­buat becak tenaga surya?

Kalau mobil hybrid dan go green itu kan sudah banyak. Tapi itu kendaraan kelas menengah ke atas. Kami justru melihatnya ken­daraan untuk kelas bawah.

Selain itu, pemerintah sedang di­pusingkan dengan kelangkaan BBM yang semakin menipis. Apalagi, subsidi pemerintah ter­hadap BBM itu besar. Itulah dasar pemikirannya. Makanya, kami cari energi alternatif.

   

Apa kelebihan lainnya dari becak ini?

Becak pada umumnya, supir­nya di belakang. Sedangkan yang kami ciptakan ini supirnya di de­pan. Sehingga keamanan penum­pangnya lebih terjamin.

Standarnya, becak ini bisa di­naiki dua orang tetapi kalau pun diisi empat orang, masih bisa. Bah­kan saat uji coba, pernah di­naiki enam orang.


Bagaimana kalau digunakan malam hari?

Becak ini bisa menggunakan tenaga surya dan listrik. Kalau tenaga surya dan listriknya tidak ada, becak ini tetap bisa dikayuh dengan tenaga manusia.


Kapan becak ini diproduksi untuk umum?

Kami sudah bekerja sama de­ngan salah satu perusahaan di Se­marang. Sekolah kami ini hanya tempat riset saja atau percobaan. Tapi untuk memproduksi, kami sudah bekerja sama dengan pe­rusahaan.

Sedangkan accu (aki) yang digunakan 36 volt. Kalau diisi penuh, bisa bekerja hingga lima jam dengan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam.

Kalau diisi penuh, bisa me­nempuh jarak hampir 200 kilo­me­ter. Kendaraan ini pun ramah lingkungan.

   

Berapa harga per unit?

Untuk estimasi sekarang ini sekitar Rp 11 jutaan. Tetapi untuk pas­tinya, kita lihat saja perkem­bangannya nanti.

   

Apa harapan Anda kepada pemerintah?

Kami bangga jika kendaraan ini bisa diterima pemerintah. Ini dapat meringankan semuanya. Karena itu, kami sangat berharap agar pemerintah tetap mensup­port agar benar-benar bisa ber­kembang dan digunakan masya­rakat banyak.

Untuk sementara ini, targetnya di tempat-tempat pariwisata. Tapi tidak menutup kemung­ki­nan bisa dimanfaatkan masya­ra­kat luas. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

DPR Tak Setuju Skema War Tiket Haji Meski Masih Wacana

Minggu, 12 April 2026 | 14:01

PM Carney Tegas Akhiri Ketergantungan Militer Kanada pada AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:52

Pemerintah Tak Perlu Reaktif Respons Usulan JK

Minggu, 12 April 2026 | 13:40

Pembicaraan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:34

Pengawasan Kasus Hukum oleh DPR Bukan Intervensi

Minggu, 12 April 2026 | 13:11

Negosiasi 21 Jam Gagal, Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal

Minggu, 12 April 2026 | 13:08

Perundingan Damai Iran dan AS Berakhir Tanpa Hasil

Minggu, 12 April 2026 | 12:26

Hasan Nasbi Sebut Pernyataan Saiful Mujani Ajakan Jatuhkan Pemerintah

Minggu, 12 April 2026 | 12:23

Prabowo Harus Singkirkan Menteri Titipan Era Jokowi

Minggu, 12 April 2026 | 12:15

Seluruh Elemen Pemerintahan Jangan Menunda Kepindahan ke IKN

Minggu, 12 April 2026 | 12:01

Selengkapnya