Berita

Jusuf Kalla

Wawancara

WAWANCARA

Jusuf Kalla: Kadang Saya Bicara Dengan Mega Mengenai Capres Dan Cawapres

SENIN, 26 NOVEMBER 2012 | 08:38 WIB

Upaya menduetkan Megawati Soekarnoputri-Jusuf Kalla dalam Pemilu Presiden 2014 bukan sekadar wacana. Tapi sudah ada pembicaraan ke arah situ.

“Namanya politik, kadang-ka­dang membicarakan soal itu. Tapi pembicaraannya tidak secara spe­sifik. Ini semua demi memajukan bangsa ini. Saya sepaham dengan PDI Perjuangan,’’ kata bekas Wa­pres Jusuf Kalla (JK) kepada Rak­yat Merdeka,  kemarin.

Seperti diketahui, Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait mengatakan, mempertimbangkan Jusuf Kalla  disandingkan dengan Megawati Soekarnoputri-Jusuf Kalla dalam Pilpres 2014. Apa­lagi, kedua tokoh itu cukup baik.

‘’Dari dulu hubungan Mega­wati dan Jusuf Kalla tetap baik. Pak JK pernah menjadi Menko Kesra pada saat Ibu Mega jadi pre­­siden. Koordinasi keduanya sangat baik. Mereka berdua sa­ling menghargai. Saat Pak JK men­jadi Ketua Umum Golkar pun hubungan keduanya baik,” kata Maruarar.

JK selanjutnya mengakui diri­nya kerap bertemu dengan Mega­wati Soekarnoputri untuk mem­bicarakan berbagai hal, termasuk menyinggung soal politik.

Berikut kutipan selengkapnya;

Kapan saja bertemu dengan Megawati?

Dalam beberapa kesempatan saya ketemu dengan Ibu Mega, baik di acara-acara partai atau aca­ra lainnya. Ya, bertemu biasa saja.

Saya dengan Ibu Megawati itu se­jak dulu tetap mempunyai hu­bu­ngan baik.

Apa saja dibicarakan ketika bertemu dengan Megawati?

Yang kami bicarakan itu soal kebangsaan. Bicaranya hanya hal-hal yang biasa saja. Pernah ju­ga membicarakan calon gu­ber­nur DKI Jakarta  dalam Pilkada yang lalu.

Apakah pernah membicara­kan soal capres dan cawapres?

Namanya saja politik, kadang-kadang saya bicara dengan Ibu Mega memgenai capres dan ca­wapres. Tapi pembicaraannya ti­dak secara spesifik. Ini semua de­mi memajukan bangsa ini. Saya ini sepaham dengan PDI Per­juangan.

Anda siap jika disandingkan dengan Megawati?

Tentu semuanya itu harus di­per­tim­bangkan bagaimana baik­­nya saja. Bagi saya, selama itu demi kepentingan bangsa, ma­ka harus selalu diutamakan. Ja­di, ke­pentingan bangsa yang ha­­rus di­utamakan, bukan soal ca­­pres- ca­wapres atau tentang sa­ya pri­badi.

Melainkan bagaimana un­tuk memajukan bangsa ini dan mam­pu mensejahterakan rakyat. Itulah yang terpenting bagi saya.

Apa benar Anda legowo jadi ca­wapres bila disandingkan dengan Megawati?

Saya belum bisa berkomentar soal itu. Karena harus dibicara­kan terlebih dahulu tentunya de­ngan baik. Intinya bagi saya, ba­gai­ma­na negara ini bisa maju dan ber­kembang dengan baik dan cepat.

Ada yang menilai Anda ber­pa­sangan dengan Mega sangat ideal, berarti siap dong?

Saya selalu siap jika diberi ke­sempatan dan diminta masayara­kat untuk memimpin bangsa ini agar lebih maju lagi. Membuat ma­­syarakat sejahtera dan lepas dari kesulitan itu adalah ibadah.

Bukankah dalam beberapa survei, Anda pantasnya men­jadi capres?

Survei itu kan pandangan ma­sya­rakat, tentunya saya berterima ka­sih. Artinya, kalau memang ma­syarakat menginginkan pim­pinan seperti saya, tentu harus ber­sedia kan.

Kalau masyarakat maunya be­gitu, ya kita mau tidak mau harus bersedia. Saya rasa, siapa pun, ka­lau diminta masyarakat maju, ha­rus siap kan. Tapi masalah ca­pres atau cawapres, saya tidak bi­sa berkomentar soal itu.

Apakah selain dengan Mega­wa­ti, Anda juga sering berhu­bu­ngan dengan pimpinan par­pol lainnya?

Pasti dong. Pimpinan-pim­pi­nan pertai itu selalu berhubungan baik dengan saya.

Dengan siapa saja?

Banyaklah. Hampir semuanya, sa­­ya ini sering bertemu dengan pim­­­­pi­nan parpol, selain pimpinan PDI Per­juangan, kan semuanya te­man saya.

Adakah ada yang spesial da­lam pertemuan-pertemuan itu?

Nggak ada. Sama saja. Yang di­bicarakannya pun tentang ke­bang­saan juga. Karena saya sa­ngat se­nang membicarakan per­masalahan bangsa ini agar lebih maju.

Persoalan bangsa seperti apa sih dibicarakan itu?

Misalnya saja bagaimana me­ngembalikan kepercayaan ma­syarakat kepada pemerintah. Ba­gai­mana masyarakat melaksana­kan kehidupan sehari-hari itu de­ngan berdamai. Jangan sampai ada konflik. Seharusnya pemerin­tah itu bisa memajukan ekonomi bangsa.

Kenapa sekarang ini masih sering terjadi konflik?

Masih banyaknya konflik yang ter­jadi itu menandakan tingkat ke­­percayaan masyarakat terha­dap pemerintah semakin menu­run, sehingga masyarakat berbuat sendiri-sendiri. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

Memalukan! Rismon Ajukan Restorative Justice

Kamis, 12 Maret 2026 | 02:07

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Relawan Jokowi: Rismon Sianipar Pengecut!

Jumat, 13 Maret 2026 | 01:05

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

UPDATE

Transaksi Jakarta Melonjak Triliunan Selama Ramadan

Minggu, 22 Maret 2026 | 08:18

Pengiriman Pasukan ke Gaza Harus Lewat Mekanisme PBB

Minggu, 22 Maret 2026 | 07:51

Lapangan Banteng Disiapkan Jadi Lokasi Halalbihalal Warga Jakarta

Minggu, 22 Maret 2026 | 07:09

Ekspor Ikan RI dari Januari Hingga Lebaran 2026 Capai Rp16,7 Triliun

Minggu, 22 Maret 2026 | 06:51

Mengulas Kisah Leluhur Nabi Muhammad

Minggu, 22 Maret 2026 | 06:27

Gema Takbir Idulfitri Ubah Nuansa Angker Lawang Sewu

Minggu, 22 Maret 2026 | 05:59

TNI dan Gapoktan Songsong Asta Cita Lewat Panen Raya di Merauke

Minggu, 22 Maret 2026 | 05:45

Kerajaan Nusantara dan Cadangan Devisa Emas

Minggu, 22 Maret 2026 | 05:17

Kemnaker Perluas Akses Pelatihan Vokasi Nasional 2026

Minggu, 22 Maret 2026 | 04:58

Darurat Keselamatan Maritim

Minggu, 22 Maret 2026 | 04:28

Selengkapnya