Berita

M Nuh

Wawancara

WAWANCARA

M Nuh: Kami Nggak Perlu Lobi DPR Untuk Naikkan Anggaran

JUMAT, 16 NOVEMBER 2012 | 10:26 WIB

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki anggaran tahun 2012 sebesar  Rp 66 triliun. Tapi hingga pertengahan November 2012, baru 63 persen atau  sekitar Rp 41 triliun yang dipergunakan (diserap).“Sebenarnya penyerapan di Kemendikbud itu sudah lebih ting­gi di atas rata-rata penyerapan secara nasional sebesar 62 persen. Setiap minggu, terus saya mo­nitor,”  kata Mendikbud  M Nuh kepada Rakyat Merdeka, ke­marin.

Selain melakukan monitoring, pihaknya juga rutin melakukan ra­pat pimpinan, salah satu­nya membahas progres anggaran.

M Nuh mengaku, realisasi atau penyerapan anggaran hingga November meleset dari target awal sebesar 93 persen. Namun op­­ti­mistis penyerapannya akan terus bertambah, mengingat masih banyak program yang sedang diselesaikannya.

Berikut kutipan selengkapnya:


Kenapa bisa meleset dari target?

Target awal memang sekitar 93 per­sen terserap hingga akhir No­vember. Tapi data yang kami mi­liki hingga 12 November 2012 su­dah terserap sekitar 63 persen. Angka itu akan terus naik meng­ingat masih ada beberapa hari lagi. Nanti akan ketahuan di akhir November berapa persen ang­garan yang sudah terserap.


Apa mungkin mencapai 93 persen seperti yang ditargetkan?

Saya perkirakan pada akhir No­vember bisa mencapai  70-80 persen. Jika dibandingkan de­­n­gan penyerapan November ta­hun lalu, sudah naik. November tahun lalu hanya 52,8 persen.

Meski hingga November tahun lalu penyerapan mencapai 52,8 per­sen tetapi pada akhir Desem­ber anggaran di Kemendikbud  ter­serap 92 persen.  

Melihat per­tenga­han No­vem­ber tahun ini su­­dah men­capai 63 persen, ma­ka pe­nye­rapan ang­garan hingga akhir tahun 2012 bisa lebih dari 92 persen.


Berapa target hingga akhir tahun?

Kami sudah punya rencana sejak awal tahun, yakni 100 per­sen terserap. Tapi realisasinya ka­mi perkirakan bisa mencapai se­kitar 94 persen.


Kenapa tidak bisa sampai 100 persen?

Agak susah menghabiskan hingga 100 persen karena ada efisiensi. Misalnya dalam pagu ada ang­garan Rp 100 miliar untuk pem­bangunan. Tapi setiap pem­ba­ngu­nan harus dilakukan ten­der. Da­lam tender  biasanya ada yang menawar di bawah Rp 100 miliar.

Katakanlah ditawar Rp 90 miliar, berarti ada sisa atau peng­he­matan sebesar Rp 10 miliar. Sisa Rp 10 miliar itu tidak bo­leh dipakai, harus dikembali­kan lagi ke negara dalam bentuk peng­he­matan.


 Kenapa setiap akhir tahun selalu ada lompatan penyera­pan tinggi?

Memang kami akui kalau De­sember atau akhir tahun itu ada lompatan, karena banyak peker­jaan fisik yang sedang dikerjaan. Penagihannya pada Desember. Mereka dibayar kalau pekerjaan­nya selesai. Saat itulah banyak penyerapan.      


 Kenapa setiap akhir tahun selalu ada lompatan penyera­pan tinggi?

Memang kami akui kalau De­sember atau akhir tahun itu ada lompatan, karena banyak peker­jaan fisik yang sedang dikerjaan. Penagihannya pada Desember. Mereka dibayar kalau pekerjaan­nya selesai. Saat itulah banyak penyerapan.      


Memangnya alokasi angga­ran sebesar Rp 66 triliun itu un­tuk apa saja?

Banyak sekali rinciannya. Mu­lai dari program kerja, gaji seba­gian guru, gaji pegawai, mem­bangun gedung.

Beasiswa saja ta­hun ini sudah Rp 8 triliun. Semua itu program kerja kami dan bisa dipertang­gung­ja­wabkan.


Berapa penghematan tahun ini?

Kalau itu belum bisa saya kata­kan, belum tahu berapa. Sebab, masih diproses. Akhir tahun, baru bisa dijelaskan.


Bagaimana anggaran ke­men­­­dik­bud tahun 2013?

Tahun ini naik Rp 4 triliun dari tahun sebelumnya. Untuk 2013 akan naik Rp 7 triliun,  sehingga totalnya Rp 73 triliun.


Kenapa harus naik?

Anggaran untuk pendidikan itu  selalu naik 20 persen dari total APBN. Kalau APBN naik, maka anggaran untuk pendidikan pun naik, itu sudah otomatis.

Berbeda dengan kementerian atau lembaga negara lainnya, jika ingin anggarannya naik harus minta dulu. Kalau kami kan nggak minta.

Kami nggak perlu lobi DPR untuk naikkan angga­ran. Sebab, sudah otomatis rumus 20 persen dari total APBN. Ka­lau APBN turun, ya anggaran kita pun ikut turun. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya