Salah satu sebab kemerosotan kaderisasi profesi petani saat ini karena sarjana pertanian berpikir urban dan meninggalkan pertanian untuk beralih mengejar profesi-profesi di luar pertanian seperti bankir, dan lain-lain. Tahun 2011 misalnya, terjadi penurunan jumlah petani dari sekitar 41,49 juta menjadi 39,33 juta turun sekitar 5,2 persen.
"Saat ini saja, hanya 1% atau sekitar 2500 orang lulusan Fakultas Pertanian yang mau kembali ke bidang pertanian sebagai ranah berkarya utama bagi sarjana pertanian," ungkap ekonom Dahnil Anzar Simanjuntak kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini (Sabtu, 10/11).
Kenapa sarjana pertanian penting dan harus kembali ke desa?
Pertama, Dahnil menjelaskan, untuk meningkatkan kualitas petani dan pertanian di Indonesia. Sarjana pertanian yang telah memiliki pengetahuan lebih baik dibandingkan petani-petani tradisional setidaknya dapat mengembangkan pola pertanian yang lebih produktif dan efisien dibandingkan petani-petani tradisional sehingga target pengembangan dan revitalisasi pertanian bisa dicapai.
"Kedua, secara makro dunia dihadapkan dengan fakta kelangkaan pangan dan harga pangan yang mahal di masa yang akan datang. Dengan kembali mendorong para sarjana pertanian untuk kembali dan bertaubat kembali ke pertanian khususnya pertanian pangan, maka Indonesia akan siap menghadapi fakta kelangkaan pangan di masa yang akan datang bahkan mampu menjadi supplier pangan dunia," urai Dahnil, pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang ini.
Ketiga, masih kata Dahnil, agaknya pemerintah harus melakukan perbaikan kebijakan pertanian yang paling dasar yakni minimnya insentif bagi petani dan sektor pertanian. Pemerintah harus memberikan subsidi pertanian dan kemudahan aksestibilitas desa via infrastruktur desa yang layak untuk mempercepat pembangunan sektor pertanian sebagaiman dilakukan oleh negara-negara Eropa dan Amerika terhadap petani mereka.
Atas semua hal di atas, Dahnil kembali menegaskan, sarjana pertanian harus kembali ke desa.
"Sarjana pertanian tak boleh berpikir dan berkarakter Urban. Mereka harus harus berpikir bagaimana memaksimalkan peran desa dan pertanian sebagai pusat pengembangan ekonomi," demikian Ketua Bidang Pemberdayaan Buruh, Tani, dan Nelayan PP Pemuda Muhammadiyah yang juga anggota Dewan Pakar DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Seluruh Indonesia ini. [zul]