Berita

Syahganda Nainggolan: Obama Harus Kuatkan Agenda Strategis AS-Indonesia

KAMIS, 08 NOVEMBER 2012 | 07:46 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Kemenangan kembali calon Presiden dari Partai Demokrat Barrack Obama dalam pemilihan presiden Amerika Serikat dan kembali memimpin negara tersebut untuk empat tahun mendatang, dapat menjadi harapan ke arah peningkatan kerjasama AS-Indonesia secara lebih strategis di bidang ekonomi dan politik kawasan, termasuk dalam keperluan harmoni dengan dunia Islam terkait pengaruh Indonesia selaku negara Islam terbesar.

”Indonesia merupakan kekuatan penghubung utama dengan negara-negara ASEAN. Karenanya AS dapat menjadikan sebagai mitra terdepan dalam pengembangan kemajuan ekonomi dan politik kawasan. Dengan meletakkan potensi ini, Indonesia akan mudah menumbuhkan berbagai kerjasama dengan AS bagi kepentingannya sendiri,” kata Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan di Jakarta, Kamis (8/11).

”Secara geopolitik Indonesia tak bisa dikecilkan oleh Amerika Serikat baik untuk ASEAN ataupun kepentingan internasional lain di lingkungan Islam, dan Obama harus melihat Indonesia untuk masa depan agenda strategis yang menguatkan keduanya, baik di bidang ekonomi, demokratisasi, maupun penegakan Hak Azasi Manusia,” ujarnya.

Apalagi, lanjut Syahganda, hubungan AS-Indonesia didasarkan pula oleh alasan primordial yang mendekatkan Indonesia dengan Obama di masa lalu, sehingga hal itu dipercaya menambah besar kepentingan AS terhadap Indonesia.

Di sisi lain, menurutnya, krisis hubungan AS dengan China dalam sengketa laut China Selatan akhir-akhir ini, juga membuka era baru dalam dinamika hubungan AS-ASEAN yang semakin intens serta menguntungkan kedua pihak. Karena itu, peran dan makna keberadaan Indonesia yang berpengaruh di kawasan ASEAN jelas akan lebih dilibatkan.

Sedangkan mengenai tema ekonomi kampanye Obama untuk merelokasi industri yang ada di luar negeri, Syahganda menilai meski fokusnya dalam upaya merevitalisasi kebutuhan industri di negara AS, tetap membuka kesempatan yang dapat dimanfaatkan Indonesia. ”Saya kira tidak akan semuanya dipindah ke AS, jadi sangat dimungkinkan sebagiannya diorientasikan ke Indonesia seperti dalam industri IT, pangan, dan di bidang manufaktur," tambahnya.

Syahganda juga mengharapkan, Indonesia perlu menciptakan kesepakatan dengan AS dalam pembukaan perdagangan ekspor garmen, akibat pemberian kuota ekspor dari AS tak berlanjut. Sementara itu, tingkat kebutuhan garmen di AS masih cukup tinggi namun hanya diisi oleh produk eskpor dari China, Vietnam, serta negara-negara Amerika Latin. ”Bila hal ini kembali menjadi feomena ekonomi dengan AS, maka industri-industri tekstil di tanah air akan segera bangkit. Lebih lagi, semangat saling membutuhkan antara AS-RI kini benar-benar terbuka setelah memburuknya hubungan AS-China, yang berpotensi melemahkan kerjasama ekonomi dua negara itu,” jelasnya.

Syahganda mengatakan, adanya peluang maupun momentum yang terbuka luas itu kini bergantung kepada sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menangkap dan merealisasikannya. Sebab jika dibiarkan, Indonesia akan menjadi negara yang sulit diharapkan kemajuannya di lingkungan global. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Naming Rights Halte untuk Parpol Dinilai Politisasi Ruang Publik

Rabu, 15 April 2026 | 12:19

Iran Taksir Kerugian Akibat Serangan AS-Israel Capai Rp4.300 Triliun

Rabu, 15 April 2026 | 12:13

Prima Sebut Wacana PDIP Gaji Guru Rp5 Juta Ekspektasi Semu

Rabu, 15 April 2026 | 12:12

Kasus Pelecehan di FHUI Jadi Ujian Integritas Kampus

Rabu, 15 April 2026 | 12:06

Temui Dubes UEA, Waka MPR Pacu Investasi dan Transisi Energi

Rabu, 15 April 2026 | 11:52

IPC TPK Sukses Kelola 850 Ribu TEUs di Awal 2026

Rabu, 15 April 2026 | 11:41

Diduga Dianiaya Senior, Anggota Samapta Polda Kepri Tewas

Rabu, 15 April 2026 | 11:34

Auditor BPKP Ungkap Kerugian Pengadaan Chromebook Terjadi Selama 3 Tahun

Rabu, 15 April 2026 | 11:32

Soal Kasus Bea Cukai, Faizal Assegaf Ungkap Kronologi Hubungan dengan Rizal

Rabu, 15 April 2026 | 11:21

Zelensky Sindir AS Kehilangan Fokus ke Ukraina Akibat Perang Iran

Rabu, 15 April 2026 | 11:03

Selengkapnya