Berita

muhammad VI/ist

Dunia

GREEN MARCH

Muhammad VI: Reformasi Maroko Perlihatkan Visi Masa Depan yang Jelas

RABU, 07 NOVEMBER 2012 | 13:35 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Inisiatif Kerajaan Maroko memberikan status otonomi khusus kepada Sahara Barat adalah upaya terbaik untuk menghentikan pertikaian yang diciptakan pihak lain di kawasan itu. Inisiatif tersebut konsisten dengan legitimasi internasional, memberikan kewenangan yang lebih luas kepada warganegara Maroko yang berada di Sahara Barat untuk mengelola urusan mereka dan menghargai kebudayaan masyarakat lokal.

Demikian disampaikan Raja Muhammad VI dalam pidato yang disampaikannya untuk mengenang 37 tahun peristiwa Green March, di Rabat (Senin, 6/11).

Green March adalah sebuah peristiwa besar dalam sejarah Maroko kontemporer. Pada hari itu, 6 November 1975, diperkirakan tak kurang dari 350 ribu rakyat Maroko dengan berjalan kaki berbondong-bondong mendatangi wilayah selatan Maroko di Sahara yang baru saja ditinggalkan oleh kaum kolonial Spanyol. Mereka membawa Al Quran, bendera Maroko, dan foto Raja Hassan II dari kota Terfaya melintasi garis batas yang memisahkan kekuasaan Prancis di utara dan Spanyol di selatan dalam Perjanjian Fez 1920.

Peristiwa itu juga menandai reintegrasi atau penyatuan kembali wilayah selatan dan wilayah utara Maroko setelah dipisahkan Prancis dan Spanyol. Prancis meninggalkan wilayah utara pada 1956, menyusul gerakan dekolonisasi dan kebangkitan nasionalisme bangsa-bangsa Asia Afrika pasca Perang Dunia Kedua. Sementara Spanyol terpaksa angkat kaki dari Sahara menyusul krisis ekonomi dan politik yang melanda Eropa barat pada masa itu.

Keputusan Spanyol meninggalkan Sahara Barat diikuti manuver Aljazair yang ketika itu berada di bawah pengaruh Uni Soviet untuk merebut kendali utama di kawasan utara Afrika dan Sahel. Aljazair memberikan ruang dan ikut membantu pendirian kelompok Polisario yang mengklaim Sahara Barat sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.

Konflik antara Maroko dan Polisario yang didukung Aljazair itu masih bertahan hingga kini. Pada tahun 1991 kedua belah pihak yang bertikai menandatangani perjanjian gencatan senjata dan sepakat mencari jalan lain untuk menyelesaikan konflik. Sementara sejak 2007 lalu PBB kembali mengangkat persoalan ini ke dalam berbagai pembicaraan, termasuk di Komite Empat PBB yang membidangi Politik Khusus dan Dekolonisasi.

Sahara Barat merupakan satu dari sekian banyak wilayah Maroko yang sempat dikuasai kolonial. Hingga hari ini pun masih ada dua wilayah Maroko yang dikuasai Spanyol, yakni Ceuta dan Melila.

Raja Muhammad VI dalam sambutan pada hari peringatan Green March itu mengatakan bahwa otonomi khusus untuk Sahara Barat disetujui seluruh rakyat Maroko yag terlibat aktif dalam amandemen kelima konstitusi Maroko yang diinisiasi Raja Muhammad VI.

"Sebagai hasilnya, reformasi yang ekstensif telah diintrodusir dan dicapai, seperti transfer kekuasaan secara demokratis pada 1997 antara koalisi yang berkuasa dan oposisi," ujar Muhammad VI.

Amandemen konstitusi tahun 2011 dan konsekuensi politik yang mengikutinya, termasuk proposal otonomi khusus untuk Sahara Barat, bukan hanya ujian pada praktik politik dan dinamika kebangsaan Maroko.

"Tetapi juga memperlihatkan kepada masyarakat kita dan sahabat-sahabat kita bahwa kita memiliki visi masa depan yang jelas," demikian Muhammad VI. [guh]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya