Berita

ilustrasi

Politik

Suami Dipenjara Lindawati Tuntut Keadilan

MINGGU, 28 OKTOBER 2012 | 07:30 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Lindawati (33), warga Meranggen, Kabupaten Demak, tak kuasa menahan sedih lantaran suaminya, Hery Kusnandar dijebloskan ke penjara. Vonis 3,5 tahun penjara yang dijatuhkan hakim Pengadilan Negeri Demak bagi Hery, Rabu (24/10), dirasakan Linda, panggilan Lindawati, jauh dari rasa keadilan.

Ia tegaskan tuduhan jaksa dan vonis hakim bahwa suaminya penipu adalah mengada-ada, sejak awal diskenariokan, sehingga bagaimanapun caranya yang penting masuk penjara.

"Suami saya bukan penipu," kata Linda yang ditemui saat berkunjung ke rumah saudaranya di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Minggu (28/10).

Kasus yang membuat Hery kini mendekam di sel Rutan Demak bermula dari jual beli tanah seluas 350 meter persegi di daerah Mranggen, Demak. Pada 5 Mei 2009, di hadapan notaris Djony Priatko, Hery membeli tanah dengan sertifikat Nomor 1640 yang berada di pinggir jalan raya tersebut, sesuai kuitansi pembayaran, dari Musohib dan istri mudanya, Muniroh seharga Rp 750 juta. Transaksi pembelian dituangkan dalam Akta Jual Beli (AJB) Nomor 214/2009.

Karena kondisi keuangan Hery yang tidak memungkinkan, Muniroh menyanggupi pembayaran dilakukan secara bertahap. Pembayaran sebesar Rp 700 juta secara bertahap seluruhnya diberikan oleh Hery langsung kepada Muniroh, sedangkan sisanya dibayar melalui transfer ke rekening milik Musohib atas permintaan Muniroh.

Setelah dibeli secara sah, Hery kemudian menjual tanah itu kepada Koperasi Simpan Jasa (Kospin) seharga Rp 1,1 miliar pada Agustus 2010. Pembayaran dilakukan dua kali, uang panjer Rp 100 juta diterima tanggal 30 Agustus 2010 dan pelunasan dilakukan pada tanggal 17 September 2010.

Tapi setelah jual beli ini dilakukan, Musohib mengadukan Hery ke kepolisian atas tuduhan penipuan. Musohib merasa tanda tangan yang dibubuhkannya dalam kwitansi jual beli hanya sekedar untuk formalitas sebagai persyaratan balik nama sertifikat untuk bisa mendapatkan pinjaman dari bank, untuk memenuhi kebutuhan Muniroh. Bukan sebagai persetujuan menjual tanah kepada Hery.

Atas laporan ini, Hery kemudian dijadikan tersangka dan kasusnya disidik oleh Reskrimsus Polda Jateng. Aneh bin ajaib, Reskrimsus yang lumrahnya menangani kasus-kasus berat dan bersifat khusus turun tangan menangani kasus Hery. Bahkan yang turun adalah Krimsus Polda.

"Entahlah, saya cuma lulusan SMP, suami saya lulusan SMA. Tapi kalau benar seperti itu, saya makin yakin suami saya memang dizolimi," keluh Linda.

Ibu dari Ahmad Samsul Arif, Dimas Faisal Yusuf, Miftahulfatah dan Herlina Zahranuraliza ini mengeluhkan perlakuan penyidik terhadap suaminya, dimana penyidik tidak memberikan keleluasaan mengajukan keterangan dan bukti-bukti yang dimiliki seperti kuitansi pembayaran tanah, AJB dan bukti transfer uang pembayaran. Semua bukti-bukti yang diajukan ditolak dan dikatakan tidak sah.

"Kata suami saya, saat mengajukan saksi-saksi untuk ikut diperiksa, malah mereka (penyidik) mengancam dan bertindak kasar. Mereka bilang, kalau mau selamat suami saya harus menuruti apa saja kemauan mereka," tutur Linda.

Dia juga mengeluhkan proses persidangan yang berlangsung di PN Demak. Pasalnya, bukti-bukti dan saksi yang telah disiapkan oleh suaminya sebagai terdakwa untuk membuktikan sahnya pembelian tanah milik Musohib yang belakangan diketahui telah dihibahkan kepada anaknya bernama Nining (anak tiri Muniroh) itu, sama sekali tak digubris oleh majelis hakim. Bahkan, persidangan yang dipimpin oleh hakim Raditya Baskoro dan dijalani Hery tanpa pendampingan dan pembelaan dari tim kuasa hukum, malah memutuskan hukuman yang lebih berat dari dakwaan jaksa. Pria berumur 39 tahun itu divonis 3,5 tahun penjara, sementara jaksa mendakwa 2,5 tahun.

"Mana keadilan buat kami, buat masyarakat kecil," ucap Linda sambil menyeka air matanya. [dem] 


Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya