Keberadaan partai politik berbasis keumatan atau Islam memiliki banyak ruang untuk bangkit sekaligus memperoleh dukungan luas pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2014, jika ‘platform’ perjuangannya di tataran nasional bermetamorfosis dari watak ekslusivisme kelompok ke wilayah penguatan dimensi kerakyatan.
Dengan demikian, fondasi dan orientasinya tak perlu lagi mengutamakan kebutuhan jaringan tradisional, maupun sekadar memuat basis kadernya berdasarkan unsur sempit pewaris kesejarahan yang membentuk kelahiran partai Islam.
"Pendekatan isu pun harus diubah dengan melupakan selera kepentingan internal partai partai, menuju muatan sosial pemberdayaan umat serta mendorong terwujudnya nasionalisme bangsa,†kata Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan di Jakarta, Senin (22/10).
Hal itu dikatakan Syahganda menanggapi hasil jajak pendapat elektabilitas partai politik menjelang Pileg 2014 yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) beberapa waktu lalu.
Pada survei itu, partai politik Islam di antaranya Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), serta Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) diprediksi mengalami kemerotan perolehan suara nasional di bawah angka lima persen pada Pileg 2014.
"Partai politik Islam juga tak akan kehilangan kepercayaan rakyat apabila tidak terjebak dalam semangat romantisme perjuangan masa lampau, saat kekuatan parpol Islam berjaya di republik ini dengan kekuatan tokoh-tokohnya yang besar dan mendapat kecintaan elemen rakyat melalui peran konkretnya dalam perjuangan bangsa," jelas Syahganda.
Diakui, fenomena kehadiran sosok besar di lingkungan partai Islam itu kini memang mengecil atau bahkan hilang, sehingga hal itu menyebabkan terjadinya krisis kepemimpinan termasuk melemahkan daya panggil sejumlah parpol Islam di masyarakat luas sebagaimana yang diidealkan.
Sementara itu, generasi penerus kepemimpinan parpol Islam justru mengalami kegagapan berakselerasi dengan kebutuhan mendesak bangsa, dan telah membuatnya kurang disegani di panggung nasional. Di luar itu, terdapat akibat lain berupa disorientasi kepemimpinan baru di tubuh parpol Islam lantaran meninggalkan moralitasnya sebagai panutan bangsa.
"Kepemimpinan parpol Islam semakin kurang bergigit dari sisi tokoh utama berdaya nasional, apalagi keberadaannya cenderung berpaling dari aspek kebangsaan ataupun semangat kerakyatan. Karena itu pula, dinamika partai Islam menjadi kelihatan pragmatis baik dalam kiprah tokoh-tokohnya serta meliputi pengurus berikut kader intinya,†ujarnya.
Menurut Syahganda, dengan risiko ketiadaan figur besar untuk membangun kehormatan dan kebesarannya, maka kepemimpinan partai Islam saat ini diharapkan lebih menggerakkan komitmen dan agenda perjuangan partai dalam menata kemajuan hidup rakyat, selain memperluas ketersediaan basis kader guna menghidupkan eksistensi partai Islam sebagai mandat politik nasional yang aspiratif. [zul]