Berita

presiden sby/ist

RUU KAMNAS

RUU Kamnas Jadi Target Pemerintahan SBY Sebelum Akhir Tahun

JUMAT, 19 OKTOBER 2012 | 07:10 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Diduga saat ini sedang berlangsung konsolidasi dari berbagai kelompok kekuatan untuk mempersiapkan jalan menuju sistem otoritarian negara yang junta militer, namun terlegalkan melalui RUU Keamanan Nasional (Kamnas).

"Konsolidasi kekuatan saat ini dilakukan kelompok militer, kelompok politik dan kekuatan bisnis. Tujuannya jelas menggembalikan monopoli kekuasaan oleh negara," ujar Direktur Institute Kebajikan Publik, Andar  Nubowo, di gedung PB HMI di Jakarta Pusat, Kamis malam (18/10).

Ungkap Andar, RUU Kamnas sudah menjadi target pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar disahkan sebelum akhir tahun ini (2012).


"Ini jelas sekali. Ketika RUU Kamnas dikembalikan parlemen ke pemerintah November 2011 lalu, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin menyebutkan bagaimana pun dan berapa pun biayanya RUU Kamnas sudah harus disahkan sebagai UU sebelum akhir tahun 2012. Tentunya pernyataan Wamenhan sepengetahuan Presiden sebagai atasannya," papar Andar yang juga aktivis di PP Muhamadiyah ini.

Tidak hanya itu, Wamen menurut Andar, terkesan sedang dikejar deadline dengan pernyataannya itu. "Makanya, selain kepentingan militer dan politik. Ada kepentingan bisnis yang begitu besar dibalik RUU ini," imbuhnya.

Selanjutnya dijelaskan, RUU Kamnas sebuah desain politik yang legal, serius, rapih dan sistematis untuk menggulung seluruh proses demokrasi di negeri ini.

"Konsolidasi dan penyusupan dilakukan untuk menggolkan RUU ini termasuk mengutus Wamenhan Sjafrie untuk melakukan lobi-lobi tertutup semacam gerilya politik ke fraksi-fraksi di DPR demi golnya RUU Kamnas menjadi UU lantas membasmi semua proses demokratisasi yang sedang berkembang di negeri ini," pungkasnya.

Acara ini juga dihadiri Sekjen PB HMI Rijal Akbar Tanjung, Ketua PP GMNI Edy Wijaya, aktivis HAM AE Priyono, Direktur Institute Kebajikan Publik Andar Nubowo. [ysa]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Zero ODOL Sulit Diterapkan, DPR Ingatkan Risiko Inflasi di Sektor Logistik

Jumat, 10 April 2026 | 12:14

Catut Nama Pimpinan KPK, Komplotan Pegawai Gadungan Peras Anggota DPR

Jumat, 10 April 2026 | 11:51

Sentimen Perang Picu Spekulasi Logistik: Ancaman Baru bagi Stabilitas Pangan Nasional

Jumat, 10 April 2026 | 11:39

Komplotan Pegawai KPK Gadungan Dibongkar, 17.400 Dolar AS Disita dari Aksi Pemerasan

Jumat, 10 April 2026 | 11:28

DPR: Sejumlah Jalan Tol Cacat Sejak Awal Konstruksi

Jumat, 10 April 2026 | 11:16

Emas Antam Makin Mahal, Cek Daftarnya Hari Ini

Jumat, 10 April 2026 | 11:05

KPK-Polda Metro Tangkap 4 Pegawai Gadungan di Jakarta Barat

Jumat, 10 April 2026 | 11:03

Ini Kronologi Kasus Petral yang Menjerat Riza Chalid dan Enam Tersangka Lainnya

Jumat, 10 April 2026 | 10:53

Bulan Ini Prabowo Bakal Groundbreaking 21 Proyek Hilirisasi dan 29 Titik PSEL

Jumat, 10 April 2026 | 10:49

KPK Terapkan Skema Kerja BDR-BDK untuk Dukung Efisiensi Energi

Jumat, 10 April 2026 | 10:34

Selengkapnya