Berita

blok mahakam/ist

Bisnis

Isu Nasionalisme dalam Blok Mahakam Tidak Tepat

KAMIS, 18 OKTOBER 2012 | 21:13 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Isu nasionalisme yang dimunculkan sebagai upaya penggantian operator pada Blok Mahakam yang akan berakhir pada tahun 2017 dinilai tidaklah tepat. Mestinya perlu dimengerti bahwa ada sejarah panjang mengapa isu nasionalisme ini muncul dalam upaya penggantian operator blok yang saat ini dikelola oleh Total Indonesie tersebut.

Meskipun demikian, BP Migas mendukung jika Pertamina  akan menjadi operator Blok Mahakam asal berdampingan dengan operator sebelumnya mengingat ada risiko yang dihadapi oleh operator baru yang berimbas pada ketahanan energi Indonesia.

Demikian diungkapkan oleh Wakil Kepala BP Migas, J. Widjonarko dalam kuliah umum di Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan tema "Migas Alat Strategis Pemersatu Bangsa" yang berlangsung di Auditorium UNS, Kamis (18/10). Hadir sebagai pembicara antara lain adalah DR Sutanto MSc, DEA, Pembantu Dekan I Fakultas MIPA UNS.

"Saya tidak mengerti mengapa baru sekarang muncul isu nasionalisme dalam pengelolaan Blok Mahakam dimunculkan. Ketika Pertamina menguasai permigasan Indonesia, perpanjangan kontrak diberikan kepada Total E&P Indonesie pada tahun 1997. Pada saat itu, Pertamina memiliki hak kepemilikan (participating interest) sebesar 10%. Namun, participating interest itu tidak digunakan oleh Pertamina. Sekarang ketika kontrak itu mau habis, Pertamina ingin mengambilnya dan banyak orang berbicara nasionalisme. Di mana nasionalisme yang dulu seharusnya ada? Siapa yang memberikan kontrak sejak awal itu ?" ujar Widjonarko.

Namun demikian Widjonarko menegaskan bahwa BP MIgas setuju setelah 2017 Blok Mahakam dikelola Pertamina namun dilakukan secara proporsional. Artinya dalam pengelolaan blok tersebut Pertamina harus berdampingan dengan kontraktor lama yang telah mengerti mengenai pengelolaan blok tersebut.

Total E&P Indonesia mendapatkan kontrak pengelolaan Blok Mahakam sejak 31 Maret 1967 untuk jangka waktu 30 tahun. Kontrak diperpanjang untuk jangka waktu 20 tahun pada tahun 1997.

Widjonarko menjelaskan bahwa pengelolaan proporsional itu harus dilakukan mengingat ada kejadian yang menyebabkan negara juga dirugikan yaitu pengelolaan sumber-sumber minyak oleh BOB Siak Pusako yang sebelumnya dikuasai oleh Chevron di Riau dengan alasan nasionalisme juga.

Produksi minyak terus menurun setelah BOB Siak Pusako mengoperasikan sumur-sumur tersebut dan negara harus menanggung kerugian karena volume produksi tidak tercapai. Oleh karenanya, BPMigas tidak menginginkan kejadian ini terulang pada pengelolaan Blok Mahakam. [dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Intervensi Prabowo soal Kabinet Jelang Pelantikan Presiden

Jumat, 03 Juli 2026 | 06:13

Sehina-hinanya, Serendah-rendahnya

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:48

Rezim Baru dan Kelahiran Organisasi Pemuda Paramiliter

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:41

Satu Polisi Tewas Dibacok saat Gerebek Bandar Sabu di Katingan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:18

Jokowi Kecewa Berat Roy Suryo-Dokter Tifa Tak Ditahan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:15

Jokowi Tidak Rela Kehilangan Kekuasaan

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:26

Spanyol Lolos ke 16 Besar setelah Gasak Austria 3-0

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:12

Raja Juli Antoni Dituntut Terbuka soal Kasus Bupati Kuansing

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:03

Flyover Latumenten Bisa Kurangi Kemacetan 40 Persen

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:30

Sangat Aneh Kejaksaan Belum Periksa Jokowi

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:17

Selengkapnya