Berita

saleh daulay

Kue Pembangunan Tak Merata, Sumpah Pemuda Harus Digelorakan Kembali

KAMIS, 18 OKTOBER 2012 | 19:52 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Sumpah Pemuda lahir dari ketulusan hati nurani para pemuda untuk membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajah.

Pada waktu itu, para pemuda lintas suku, budaya, dan agama terpanggil untuk bersatu melawan penjajah Belanda. Semua perbedaan yang ada disisihkan dan bersatu dalam semangat anti penjajahan dan penindasan.

Demikian disampaikan Ketua Umum PP. Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, dalam diskusi nasional "Indonesia Hari ini: Perlukah Sumpah Pemuda kedua?" yang diselenggarakan di kantor Kosgoro, di Jalan Cik Ditiro Jakarta Pusat, Rabu malam (17/10).

"Semangat Sumpah Pemuda seperti itu terasa sangat dibutuhkan saat ini. Bila dulu musuhnya adalah penjajah asing, sekarang ini musuhnya bisa jadi bangsa sendiri. Kalau dulu atas dasar nasionalisme kita mengusir penjajah asing, sekarang atas dasar nasionalisme sekelompok orang justru menjajah saudara sebangsa sendiri," ujar Saleh.

Penjajahan atas bangsa sendiri itu, lanjut Saleh, lebih jelas terlihat dalam bidang ekonomi. Adalah fakta yang nyata bahwa kue kemerdekaan dan pembangunan hanya dinikmati oleh sekelompok kecil orang saja. Selebihnya masih berjuang dan bertarung untuk bisa bertahan hidup.

"Oleh karena terdapat kesamaan motif antara dulu dan sekarang, maka semangat Sumpah Pemuda menjadi penting untuk dihidupkan dan digalakkan. Seluruh komponen bangsa harus menciptakan apa yang disebut sebagai common enemy (musuh bersama). Dengan menciptakan musuh bersama, persatuan dan kebersamaan akan mudah diciptakan".

Menurut Saleh, musuh bersama itu bisa ditemukan dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa. Kemiskinan, kebodohan, dekadensi moral, dan ketidakadilan adalah beberapa contoh yang dapat disebutkan. Dengan menciptakan musuh bersama, perbedaan suku, budaya, dan agama tidak akan menjadi masalah lagi. Pada akhirnya, orientasi semua anak bangsa akan tertuju pada penciptaan masyarakat adil dan makmur. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Naming Rights Halte untuk Parpol Dinilai Politisasi Ruang Publik

Rabu, 15 April 2026 | 12:19

Iran Taksir Kerugian Akibat Serangan AS-Israel Capai Rp4.300 Triliun

Rabu, 15 April 2026 | 12:13

Prima Sebut Wacana PDIP Gaji Guru Rp5 Juta Ekspektasi Semu

Rabu, 15 April 2026 | 12:12

Kasus Pelecehan di FHUI Jadi Ujian Integritas Kampus

Rabu, 15 April 2026 | 12:06

Temui Dubes UEA, Waka MPR Pacu Investasi dan Transisi Energi

Rabu, 15 April 2026 | 11:52

IPC TPK Sukses Kelola 850 Ribu TEUs di Awal 2026

Rabu, 15 April 2026 | 11:41

Diduga Dianiaya Senior, Anggota Samapta Polda Kepri Tewas

Rabu, 15 April 2026 | 11:34

Auditor BPKP Ungkap Kerugian Pengadaan Chromebook Terjadi Selama 3 Tahun

Rabu, 15 April 2026 | 11:32

Soal Kasus Bea Cukai, Faizal Assegaf Ungkap Kronologi Hubungan dengan Rizal

Rabu, 15 April 2026 | 11:21

Zelensky Sindir AS Kehilangan Fokus ke Ukraina Akibat Perang Iran

Rabu, 15 April 2026 | 11:03

Selengkapnya