Berita

hatta rajasa

Hatta Rajasa: Gaji Rp1,5 Juta per Bulan di Jabodetabek Tidak Cukup

KAMIS, 11 OKTOBER 2012 | 10:35 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menilai gaji buruh sebesar Rp1,5 juta per bulan atau di bawah angka itu tidak cukup untuk biaya hidup di kawasan Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi atau Jabodetabek.

"Gaji Rp1,5 juta per bulan di Jabodetabek tidak cukup," katanya setelah menyelesaian pertemuan 4th Indonesia-Japan Joint Economic Forum di Tokyo, Rabu malam, seperti dikutip dari Antara.

Rendahnya pendapatan buruh terutama para buruh kontrak melalui outsourcing dinilainya memang memprihatinkan.

Hatta sendiri menyesalkan masih banyaknya praktek "akal-akalan" terhadap peraturan buruh kontrak yang menyebabkan kesejahteraan buruh tidak pernah membaik di Indonesia. "Outsourcing itu hanya boleh dilakukan jika sesuai dengan Undang-Undang," katanya.

Outsourcing hanya boleh dilakukan, kata dia, jika suatu perusahaan memerlukan tenaga kerja dalam jumlah banyak untuk menyelesaikan proyek tertentu dalam jangka pendek. "Jangan disiasati dengan kontrak-kontrak yang terus diperbarui setiap 3 bulan atau enam bulan," katanya.

Sesuai ketentuan, outsourcing hanya boleh dilakukan pada lima bidang pekerjaan yakni petugas kebersihan, pertambangan lepas atau borongan, jasa keamanan, transportasi, dan jasa katering. Di luar itu maka buruh harus berstatus sebagai karyawan langsung di perusahaan. "Outsourcing itu tidak boleh, tapi karena ada keterlanjuran maka dari itu harus ada masa transisi," katanya.

Melalui masa transasisi itu, baik pengusaha, buruh, maupun pemerintah duduk bersama saling mengerti karena pada intinya perusahaan dan buruh harus sama-sama sehat.

Menurut Hatta persoalan buruh di Indonesia akan rampung jika ada pembahasan tripartit tersebut dengan semangat mencari solusi dan bukan memaksakan kehendak. "Kita lihat kalau jelas-jelas perusahaan mampu tapi menekan buruh dengan gaji Rp1,5 juta perbulan itu tidak benar," katanya.

Isu buruh menjadi salah satu yang dibahas dalam forum bersama ekonomi Indonesia-Jepang.

Banyak pengusaha Jepang masih menganggap masalah buruh di Indonesia sebagai salah satu hambatan investasi mereka. "Saya katakan bahwa kita memiliki political will untuk menyelesaikan persoalan ini dengan baik," demikian Hatta Rajasa. [zul]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya