ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Tapi, seiring perjalanan waktu, saya mulai suka menjepret. Terutama, setelah ada anjuran dari Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Online bahwa setiap wartawan harus mengirim foto dalam setiap moment. Foto-foto yang dikirim juga tidak harus seperti jepretan fotografer profesional.
Maklum, untuk mengambil foto juga hanya pakai Blackberry merk Curve, dalam konteks diri saya sendiri. Asal, jelas angle-nya.
Karena saya bukan liputan di lapangan, bidikan saya biasanya tertuju pada peristiwa-peristiwa di sepanjang perjalanan dari rumah, di Rawakalong, Bogor ke kantor, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Setiap hari, saya menggunakan tiga jenis angkutan dari rumah ke kantor. Yaitu, sepeda motor, kereta api, dan angkotan kota.
Terkadang, saya turun dari motor, bila melihat sesuatu yang unik. Tapi, saya akui, kebanyakan saya mengambil foto di stasion dan di dalam kereta. Itu pun untuk kereta, hanya jenis KRL ekonomi dan kereta ekonomi jurusan Jakarta-Rangkas Bitung, yang kerap disebut sebagian orang kereta-kereta "odong-odong."
Memang, dua jenis kereta terakhir ini, kebanyakan ditumpangi kelas menengah ke bawah. Di kereta itu, biasanya tumpleg, tidak hanya penumpang. Ada pengamen, penjual asongan, dan pengemis. Semua jenis pengamin, pengemis, dan pedagang berhimpitan dengan penumpang, yang bila pada jam kerja sangat padat, bahkan sampai tidak bisa bergerak.
Sudah bisa ditebak, foto-foto saya tidak jauh dari peristiwa orang bawahan." Misalnya, keluarga buta yang sedang mengamen, orang yang tertidur di lantai kereta karena mabuk, ibu-ibu membawa anak berhimpitan dengan penumpang sambil menjajakan makanan.Tentu saya harus mencuri-curi agar objek yang dijepret tidak tahu. Karena umum saya mengambil dari jarak dekat.
Kemarin malam, saya mendapatkan moment cantik untuk dijepret. Tapi bukan di kereta. Melainkan di angkot. Yaitu, seorang sopir angkot yang buang air kecil. Tapi, entah kenapa, saya tidak berani melakukannya.
Ceritanya, pada satu sore, saya keluar dari kantor mau pulang ke rumah. Saya menumpang angkot 09 menuju stasion Kebayoran Lama. Di perempatan lampu merah dekat rumah sakit Media Permata Hijau, sore itu macet, dan memang selalu macet saban sore.
Sewaktu berhenti karena menunggu lampu hijau, Pak Sopir yang kira berumur 60-an membuka pintu lalu turun. Setelah itu, dengan pintu dibiarkan terbuka, dia buang air kecil dengan mengarahkan ke ban depan.
Saya baru ngeh. Dan langsung saya siapkan BB untuk menjepret. Tapi saya tidak berani melakukannya. Karena kuatir dia tersinggung. Kalau saya jepret, tentu dia akan tahu. Karena posisi saya dari depan. Saat itu, saya duduk di depan, sebelah kursi sopir. Saya menduga dia sudah sering melakukannya dan mungkin juga sopir-sopir lain. Hal ini tentu sangat tidak patut.
"Bapak buang air kecil?" tanyaku sesaat setelah dia naik kembali.
"Ya, daripada sesak," timpalnya singkat.
Saya sebenarnya ingin menanyakan banyak hal ke Pak Tua tersebut. Tapi entah kenapa, saya sungkan. Sampai di Pasar Kebayoran Lama, saya sama sekali tidak ngobrol dengan dia. Saya pun tidak bisa mengingatkan dia bahwa apa yang dia lakukan itu sungguh tak elok. [zul]
Populer
Selasa, 07 April 2026 | 05:19
Selasa, 07 April 2026 | 12:34
Selasa, 07 April 2026 | 11:04
Rabu, 08 April 2026 | 05:43
Senin, 13 April 2026 | 14:18
Kamis, 09 April 2026 | 12:18
Kamis, 16 April 2026 | 00:32
UPDATE
Sabtu, 18 April 2026 | 00:13
Sabtu, 18 April 2026 | 00:01
Jumat, 17 April 2026 | 23:39
Jumat, 17 April 2026 | 23:21
Jumat, 17 April 2026 | 23:01
Jumat, 17 April 2026 | 22:36
Jumat, 17 April 2026 | 22:14
Jumat, 17 April 2026 | 21:45
Jumat, 17 April 2026 | 21:35
Jumat, 17 April 2026 | 21:20