Berita

said aqil siradj

FATWA HARAM PAJAK?

Jangan Salahkan Kalau Ada yang Berprasangka Buruk kepada NU

SENIN, 17 SEPTEMBER 2012 | 09:55 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Nahdlatul Ulama (PBNU) saat ini menggelar Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat. Salah satu hal yang dibahas adalah apakah pajak masih wajib dibayar atau tidak, mengingat selama ini, adanya korupsi besar-besaran di sektor penerimaan negara tersebut.

Politisi muda Partai Demokrat Ma'mun Murod Al Barbasy mempertanyakan hal tersebut.

"Terkait dengan pajak, saya justru bertanya, apa sikap NU-atau lebih pada sikap Ketua Umum PBNU Said Aqil-sudah dipikirkan masak-masak,"  katanya kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini (Senin, 17/9).

Karena, NU selama ini dikenal sebagai organisasi kemasyarakatan yang paling akomodatif dalam hal relasi dengan negara, termasuk pada masa kepemimpinan almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sekalipun tentu dengan cara kecerdasan Gus Dur.

Dia membeberkan beberapa contoh sikap akomodatif NU dalam relasi dengan negara atau pemerintah.

"Muktamar Banjarmasin 1935, NU memutuskan 'membela' Belanda dengan pembenaran kitab Bughyatul Mustarsyiddin. NU menerima Nasakom dan Demokrasi Terpimpin (era Soekarno). (NU) Menerima asas tunggal (Pancasila) di kala UU-nya belum disahkan, dan banyak lagi," ungkapnya.

"Apa NU lupa dulu memelopori pemberian gelar Waliyul Amri Dharurah Bisysyaukah kepada Soekarno yang bertujuan untuk mempertegas 'posisi
politik' Soekarno di mata para 'pemberontak' seperti Kartosuwiryo, Kahar Mudhazar, dan sebagainya," tanyanya lagi.

Bila merujuk pada kasus-kasus di atas, maka akan menjadi aneh sikap NU soal pajak. Kalau pendekatannya fiqh, hal itu bisa dikategorikan bughat (makar), sesuatu yang selama ini ditentang NU. "Maksudnya sikap NU yang menolak bayar pajak bisa dikategorikan sebagai bughat (pemberontakan)," jelasnya.

Masyarakat pun pasti akan bertanya, NU yang selalu akomodatif dengan pendekatan fiqh, kok sekarang mencoba melakukan pendekatan ekstrem (tatharuf).

"Sikap Said Aqiel tidak lazim dalam tradisi NU. Jangan salahkan kalau ada masyarakat yang berpraduga negatif. Muhammadiyah kritis, NU merasa diuntungkan, (lalu) jual mahallah NU (kepada pemerintah). Atas sikap Said Aqil ini, semoga batal menjadi salah satu putusan pada Bahtsul Masail Diniyah di Munas Alim NU," tandasnya.  [zul]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Subsidi Biaya Haji 2027 jadi Kabar Baik bagi Calon Jemaah

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:30

Hanya PDIP Berani secara Vulgar Menyerang Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:07

Sangat Aneh Parpol di DPR Tidak Tegas soal Putusan MK terkait Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:41

Kumpulkan 800 Pati TNI-Polri: Kekuatan Harus Berujung Rasa Aman Rakyat

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:30

Suyudi Bakal Bawa Korps Bhayangkara Makin Profesional

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:10

Komisi I DPR Usul Dua Rekomendasi soal Status Kavling TNI AL Pangkalan Jati

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:46

Soal Putusan MK, Jokowi-Gibran sedang Menuai Hasil

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:01

PPTQ Al-Ghozali Majalengka Pastikan Isu Perundungan Hoaks

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:26

AHDAA Raih Penghargaan Indonesia Halal Awards 2026

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:09

Industri Percetakan Butuh Kolaborasi Lintas Kementerian

Jumat, 09 Oktober 2026 | 00:36

Selengkapnya