Berita

fauzi bowo

Jokowi Mampu Mengeksploitasi Pemilih...

RABU, 08 AGUSTUS 2012 | 05:10 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Ada dua hal yang amat menentukan dalam pertarungan memperebutkan posisi politik, dimanapun dan kapanpun. Kedua hal itu adalah citra (positif) dan kompetensi.

Idealnya, seorang pemenang dalam pertarungan politik memiliki kedua hal ini. Namun tidak jarang, seorang kandidat hanya memiliki satu dari kedua hal itu.

Menurut pakar ilmu politik Prof. Ryaas Rasyid dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka Online beberapa waktu lalu, dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta yang tengah memasuki babak final, kedua kandidat yang bertarung sama-sama tidak sempurna. Seorang kandidat hanya memiliki citra positif. Sementara seorang kandidat tidak memiliki citra yang positif, sebaliknya negatif, tetapi memiliki kompetensi yang telah teruji.

Joko Widodo yang dalam putaran pertama lalu memperoleh suara terbanyak, menurut hemat Ryaas, diuntungkan oleh pencitraan yang menampilkan dirinya sebagai figur yang disukai masyarakat. Jokowi, demikian Walikota Solo ini biasa disapa, dengan mudah mengeksploitasi kebutuhan masyarakat Jakarta atas kehadiran pemimpin yang sederhana.

"Masyarakat mau memilih pemimpin yang indah karena pencitraan atau pemimpin yang memang memiliki kompetensi?" kata Ryaas bertanya.

Di sisi lain, Fauzi Bowo kebetulan memiliki gaya yang berbeda dengan Jokowi. Itu sebabnya, dia dicitrakan secara negatif sebagai sosok yang sombong dan kaku.

"Tetapi di balik gambaran seperti itu, ada satu hal yang saya suka dari dia (Fauzi). Dia pekerja keras. Dia tak punya waktu untuk bersantai dengan keluarga dan dirinya sendiri," ujar Ryaas Rasyid.

"Fauzi Bowo bekerja keras membenahi Jakarta dalam lima tahun terakhir, bukan baru beberapa bulan menjelang pilkada," sambung anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu.

Menurut Ryaas, pemilih rasional harus berpikir dengan jernih sebelum mengambil keputusan. Jangan sampai keputusan diambil hanya karena rasa tidak suka yang sifatnya bisa jadi sangat temporer.

Kata menteri di era pemerintahan KH Abdurrahman Wahid ini lagi, pun sangat tidak fair membandingkan seseorang yang bekerja keras selama lima tahun untuk membereskan persoalan Jakarta, non-stop, tidak main-main dan tidak korupsi, dengan seseorang yang baru beberapa bulan sibuk berjanji membenahi Jakarta tanpa memiliki program kerja yang genuine.

Parahnya lagi, masih menurut Ryaas, masyarakat dengan mudah terpikat pada penampilan Jokowi, lantas memberikan apresiasi yang begitu besar pada dirinya. Sementara di saat bersamaan melupakan semua yang dilakukan Fauzi Bowo. [guh]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya