Berita

Stafsus Menko Perekonomian: TKI Harus Menjadi Duta Bangsa

SENIN, 06 AGUSTUS 2012 | 07:05 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Para tenaga kerja Indonesia tidak hanya bisa menjadi pahlawan devisa, tetapi lebih dari itu mereka juga bisa menjadi duta bangsa. Sebagai bangsa yang berbudaya, para TKI diyakini mampu mengharumkan nama Indonesia di luar negeri.

Hal itu disampaikan Staf Khusus Menko Perekonomian, Abdul Rasyid, saat berbicara di depan sekitar 300 anggota masyarakat Indonesia di Taman Sri Serdang, Selangor, Malaysia (Minggu petang, 5/8).

Interaksi yang baik dengan masyarakat tempatan, sebutnya, merupakan salah satu media yang bisa dipergunakan untuk memperkenalkan Indonesia.

"Selama ini ada stereotype yang menyebut bahwa para TKI adalah non-educated worker dan unskilled labor. Bahkan ada ungkapan yang lebih peyoratif yang menyebut mereka sebagai pelaku kriminal. Ini tentu gambaran yang salah sehingga harus diubah", kata Abdul Rasyid dalam keterangan yang diterima redaksi.

Padahal, lanjut Rasyid, jumlah TKI yang bertindak tidak sportif sangat kecil dan hanya dua atau tiga oknum saja. Jumlah ini tentu tidak sebanding dengan jumlah warga Indonesia di Malaysia yang mencapai 2 juta orang lebih. Ini bisa saja terjadi akibat media yang tidak memberitakan secara proporsional tentang kebaikan-kebaikan dan prestasi kerja para tenaga kerja Indonesia.

"Yang bisa memperbaiki citra itu tentu hanya TKI. Dengan bekerja sungguh-sungguh, ramah, dan sopan santun, image itu akan hilang dengan sendirinya. Inilah tugas-tugas duta Indonesia yang sesungguhnya", ujar Rasyid.

Selain itu, masih menurut Rasyid, para TKI bisa juga berperan sebagai duta budaya. Banyak event-event nasional yang bisa dijadikan sebagai momentum untuk menampilkan budaya dan kreasi bangsa Indonesia. Melalui event-event itu, masyarakat akan lebih mengenal budaya asli Indonesia. Kegiatan semacam ini sangat efektif untuk menghindari klaim-klaim sepihak atas kebudayaan Indonesia.

"Jangan sampai kita berteriak lantang setelah budaya kita diklaim orang. Sementara minat kita untuk melestarikan budaya tersebut sangat minim," demikian Rasyid mengakhiri. [guh]


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Polisi Pastikan Pengemudi Pikap yang Tabrak Petugas di Gerbang DPR Mabuk Alkohol

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:26

Wakil Presiden Tanzania Emmanuel Nchimbi Mundur Usai Berselisih dengan Presiden

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:18

Wall Street Melemah, Investor Cermati Pidato Kevin Warsh

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:14

Dony Oskaria Bongkar Penataan BUMN: 290 Selesai, 254 Jadi Target

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:03

Banjir Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Paus Leo XIV Kirim Doa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:46

Saham Eropa Melesat Cantik Dipimpin Sektor Mewah dan Perbankan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:34

Dua Sumur Baru PHSS di Struktur Semberah Lampaui Target Produksi Migas

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:19

PKM Dorong Keluarga Muba Naik Kelas, Rp25 Juta Jadi Modal Kemandirian Ekonomi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:07

Ichsanuddin Noorsy dan Pemikiran Ekonomi Konstitusi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:54

MBG Jadi Bantalan Ekonomi Masyarakat Bawah, Kritik jadi Evaluasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:46

Selengkapnya