rmol
rmol
DARI jalan kami kan berjuang/Walau diabaikan pasti ‘kan berjuang…
Irama debu jalanan/ Bukanlah suara-suara sumbang
Namun gema perjuangan/ Perjuangan anak jalanan…
Demikian petikan lirik puisi musikal yang dibawakan Gaung. Suaranya lepas. Bersih dan murni, khas kanak-kanak. Usia vokalis kelompok musik MLK alias Mandi Lima Kali ini memang masih belia.
Malam itu (Jumat, 3/8), Gaung dan dua temannya yang juga masih belia, ‘manggung’ di halaman Gedung Juang, Tambun, Bekasi. Ada Alif yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) dengan gendangnya. Satu lagi adalah remaja tunanetra yang memainkan bas elektronik. Sehari-hari ia menjadi tukang pijat yang dibina Dinas Sosial setempat. Mereka ditemani Ane, seniman lebih senior yang menjadi mentor, beraksi menunjukkan kebolehannya.
Gaung, bocah laki tinggi kurus bercelana abu-abu dipadu kaos marun yang dibalut jaket jeans kumal, seperti hendak menyedot ruh perjuangan dari tempat yang menyimpan sejarah perjuangan rakyat Bekasi. Bersama teman-temannya dia kembali menyemburkan semangat perjuangan kepada sekitar 200an penonton.
Penonton sekaligus pengisi acara datang dari kalangan seniman. Ada yang tergabung dalam Kelompok Pemusik Jalanan (KPJ), Komunitas Sastra Kalimalang, Komunitas Seniman Gedung Juang (KSGJ), Bengkel Sastra Bekasi, dan komunitas fotografer Bekasi Foto. Hajatan egaliter ini juga didukung Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi, Radar Bekasi, dan Radio Dakta.
Gaung bukanlah satu-satunya bintang di malam temaram itu. Ada Kong Guntur Elmogas, seniman Sintun alias Bekasi Pantun yang memulai acara. Lelaki berkacamata minus tebal ini membacakan pantun-pantunnya yang egaliter. Ada Irmansyah, seniman berambut sepunggung yang membawakan puisi ditingkahi lagu tanpa lirik. Juga ada Teguh SDL, penyanyi berbahasa khas Bekasi dengan gitar tunggalnya. Harap maklum, SDL yang melekat di belakang nama seniman yang berambut panjang ini adalah singkatan dari, maaf, Sial Dangkalan.
Para seniman jalanan tadi memang tampil apa adanya, tanpa kepura-puraan. Mereka menyampaikan pesan-pesan moral dan dan kritik sosial dengan bahasa lugas, tanpa tedeng aling-aling. Komunikasi yang dibangun terasa langsung menuju sasaran. Tidak ada euphuism yang sering justru mengaburkan makna sejati.
Tak pelak lagi, perhelatan yang bertajuk “Aksi Bersih-bersih Gedung Juang Tambun Selatan†memang jadi meriah. Selain aksi panggung para seniman, acara juga diisi dengan diskusi publik bersama DR. Rizal Ramli dengan tema “Bulan Suci Mewujudkan Perjuangan yang Bersihâ€. Selain itu, mereka juga menggelar bazar dan pameran foto, sarasehan dan buka puasa bersama, tarawih berjamaah, apresiasi sastra dan seni pertnjukan, serta renungan Ramadhan.
Seadanya
Kesederhanaan yang benar-benar ala kadarnya. Bayangkan, penonton yang hadir cuma disuguhi air mineral dalam kemasan 200ml. Saat berbuka tadi, mereka cuma disodori kue-kue kampung. Mereka duduk di kursi plastik biru muda yang disusun bersaf-saf. Inilah kursi yang biasa digunakan pada pesta-pesta hajatan di kampung-kampung.
Tidak ada panggung mentereng. Para seniman itu hanya beraksi di sebuah ‘panggung’ setinggi 20cm berbalut kain hitam. Di belakang mereka ada backdrop dominan merah yang dibentang sekenanya di antara dua pohon besar. Di bagian atas backdrop ada kain merah yang dibentuk dua lambaian. Tentu, maksudnya untuk memberi kesan indah. Tapi, ya begitulah, semuanya sangat seadanya.
Acara dipusatkan di sisi kanan Gedung Juang. Minimnya pencahayaan, membuat gedung yang sarat sejarah perjuangan itu tampak muram dan kesepian. Cahaya bahkan nyaris tak mampu menyapa bagian atas gedung. Dalam jepretan kamera, gedung ini justru terkesan seram. Di bagian depan digantung sejumlah foto berbingkai hasil bidikan para fotografer Bekasi Foto. Lagi-lagi, semuanya sangat bersahaja dan seadanya.
Di kiri backdrop, ada sepotong layar darurat berukuran 2x1,5m yang baru didirikan beberapa saat setelah acara dimulai, selepas magrib. Namanya juga darurat, layar itu terdiri atas dua helai kain putih yang disatukan dengan stapler. Karuan saja di tengah layar ada garis horizontal yang tampak jelas. Garis itu sekaligus menjadi batas dua lengkungan yang bergelombang, atas dan bawah. Untuk mendirikan layar, hanya diikat di sebatang bambu setinggi kurang lebih 2 meter dan tiang listrik beton di sisi lainnya.
Film yang ditayangkan dimulai dengan perjalanan singkat Indonesia sebagai sebuah bangsa sejak masa perang kemerdekaan hingga paska reformasi. Selanjutnya dipaparkan betapa kaya dan luar biasanya Indonesia. Namun semua anugrah itu tidak mampu mengantarkan rakyat menjadi sejahtera, karena negeri cantik ini tidak kunjung memiliki pemimpin yang adil dan amanah.
Sebetulnya acara digelar sejak siang, tepatnya sekitar pukul 14.00 WIB selepas shalat Jumat. Tidak kurang dari 300an siswa Sma 5 Tambun Selatan, SMA 1 Tambun Utara, SMA Yapin, dan Karang Taruna Kabupaten Bekasi melakukan aksi bersih-bersih. Mereka menyapu dan memungut sampah di sekitar halaman Gedung Juang yang luas. [zul[
Populer
Sabtu, 18 April 2026 | 02:00
Senin, 20 April 2026 | 14:11
Jumat, 17 April 2026 | 17:46
Senin, 13 April 2026 | 14:18
Kamis, 16 April 2026 | 00:32
Kamis, 16 April 2026 | 18:10
Senin, 13 April 2026 | 08:21
UPDATE
Senin, 20 April 2026 | 22:11
Senin, 20 April 2026 | 22:06
Senin, 20 April 2026 | 22:01
Senin, 20 April 2026 | 21:54
Senin, 20 April 2026 | 21:52
Senin, 20 April 2026 | 21:34
Senin, 20 April 2026 | 21:14
Senin, 20 April 2026 | 21:05
Senin, 20 April 2026 | 20:41
Senin, 20 April 2026 | 20:39