Pemilihan kepala daerah DKI Jakarta diwarnai isu black campaign bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan, yang dialamatkan kepada pasangan Joko Widodo-Basuki T. Purnama. Tapi, kubu jagoan PDI Perjuangan-Gerindra yang akrab disapa Jokowi-Ahok itu tak ambil pusing.
"(Orang yang mengeluarkan isu SARA) Supaya diampuni dosanya. Saya cukup aneh orang yang memainkan isu SARA. Karena itu mumpung bulan puasa, supaya diampuni dosa-dosanya," ujar Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta M. Taufik kepada Rakyat Merdeka Online petang ini (Jumat, 27/7).
Dia sendiri yakin isu SARA ini tidak akan laku. Meski begitu, dia tetap meminta polisi untuk bertindak tegas terhadap orang yang menghembuskan isu SARA.
Isu SARA ini memang menjadi polemik. Diyakini, isu SARA ini alat kampanye yang bagus untuk menjatuhkan lawan dan juga untuk meraih simpati. Meski begitu, ada juga yang menilai bahwa isu SARA ini tidak ada hubungannya dengan upaya memenangkan atau menjatuhkan.
Karena itu ada tiga kemungkinan soal siapa yang mengeluarkan isu SARA tersebut.
Pertama, adalah kubu Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, yang ingin menjatuhkan pasangan Jokowi-Ahok. Tapi, hal ini sudah sering dibantah oleh Kepala Media Center Tim Sukses Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, Kahfi Siregar.
Kemungkinan kedua, isu SARA ini sengaja dihembuskan oleh kubu Jokowi-Ahok. Hal ini dimaksudkan untuk meraih simpati publik karena pasangan yang 'terdizalimi.' Tapi, Taufik dengan tegas membantah tudingan tersebut.
"Nggak benarlah. Kita nggak bakalan main yang begituan. Bagaimana mungkin sih (kita mainin isu SARA). Yang berpikir seperti itu seperti otaknya terbalik," tegas Taufik melanjutkan keterangannya.
Kemungkinan ketiga, orang yang mengeluarkan isu SARA ini adalah pihak-pihak yang memang ingin mengadu domba warga Jakarta. Karena itu, pihak Kepolisian dan Panwaslu harus menemukan siapa yang menghembuskan isu SARA tersebut. [zul]