Berita

ilustrasi/ist

Inilah Beberapa Contoh Survei yang Tak Sesuai Kenyataan

KAMIS, 12 JULI 2012 | 13:47 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Anomali dalam ilmu sosial. Begitulah penjelasan Denny JA atas fenomena hasil pemungutan suara dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta. Anomali, menurut pendiri lembaga riset dan konsultan politik Lingkaran Survei Indonesia (LSI), adalah hal yang biasa, walaupun anomali sendiri artinya adalah kejadian yang tak biasa.

Karena merupakan kejadian yang tak biasa, kemunculan anomali hanya sesekali, dan jarang sekali.

Sebelum pemungutan suara, semua lembaga survei politik memperkirakan bahwa Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli akan memimpin perolehan suara. Sementara Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama diperkirakan akan berada di posisi kedua, jauh di belakang pasangan Foke-Nara.


Namun, penghitungan cepat yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei itu beberapa saat setelah pemungutan suara usai dilakukan (Rabu, 11/7) memperlihatkan hasil sebaliknya. Jokowi-Ahok memimpin perolehan suara, meninggalkan Foke-Nara.

Denny JA sedang mengunjungi beberapa kota di Eropa bersama keluarga. Saat menjelaskan fenomena anomali survei dan hasil penghitungan cepat ini, ia tengah menikmati keindahan Moskow di Rusia, usai. Walau sedang berlibur, Denny JA tak melewatkan begitu saja pertarungan di arena pilkada DKI Jakarta.

Anomali dalam pemilihan gubernur kali ini, menurut Denny dipicu oleh kehadiran sosok Joko Widodo yang punya daya pikat luar biasa. Daya pikat inilah yang mampu menggerakkan swing voters dalam jumlah massif sepekan sebelum hari pemungutan suara. Sementara, semua lembaga survei politik berhenti melakukan survei pada H-7.
 
Anomali, masih menurut Denny JA, bukan sebuah keanehan. Bahkan di Amerika Serikat yang dikenal sebagai negeri tempat tradisi riset dan survei politik lahir dan berkembang sekalipun hal seperti ini pernah terjadi.

Untuk memperkuat pendapatnya, Denny JA memberikan tiga kasus anomali survei dan riset politik di Amerika Serikat.

Kasus pertama, dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 1980 saat Jimmy Carter melawan Ronald Reagan. Lembaga polling papan atas Gallup memperkirakan Carter akan memperoleh 44 persen dukungan dan mengalahkan Reagan (41 persen). Namun pada kenyataannya, Reagan-lah yang menang dengan 50,7 persen. Sementara Carter memperoleh 41 persen.

Kasus kedua terjadi dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 1988. New York Times/CBS memperkirakan Michael Dukakis akan memukul George Bush Sr. Menurut survei New York Times/CBS Dukakis akan memperoleh 49 persen suara dan Bush mengantongi 39 persen.

Setelah pemungutan suara, Bush ternyata memenangkan pemilihan presiden dengan 53,4 persen, mengalahkan Dukakis (45,6 persen).

Pemilihan presiden Amerika Serikat berikutnya di tahun 1992 juga kembali diwarnai anomali. Dalam pemilihan itu, tiga kandidat bertarung. Ketiganya adalah George Bush Sr. dari Partai Republik, Bill Clinton dari Partai Demokrat dan Ross Perot yang merupakan kandidat independen.

Time/CNN memperkirakan Ross Perot akan menang dengan 37 persen suara. Sementara Bush dan Clinton akan memperoleh jumlah dukungan yang sama, yakni 24 persen.

Namun hasil riel memperlihatkan, Clinton memperoleh 43 persen suara, diikuti Bush (37.4 persen). Adapun Perot kandas di tempat ketiga dengan 18,9 persen.

Walaupun anomali masih mungkin terjadi, namun fakta  yang tak bisa diingkari, masih menurut Denny JA dalam penjelasannya via pesan pendek, “Membaca peta dukungan pemilih tetap jauh lebih akurat melalui lembaga survei yg punya track record panjang walau pernah salah dibandingkan berdasarkan feeling atau analisa di belakang meja.”

LSI yang dipimpinnya, sambung Denny JA, sudah lebih dari 100  kali mempublikasikan prediksi hasil perolehan suara dalam pemilihan umum. Sejauh ini hanya empat  prediksi yang meleset, termasuk dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta kali ini.

“Ini anomali. Tapi di masih di bawah 10 persen. Artinya masih akurat di atas 90 persen. Track record itu bisa diuji,” demikian Denny JA. [guh]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya