Berita

tom pasaribu/ist

Tom Boikot Bayar Pelayanan Bobrok, Sambungan Air Diputus

SELASA, 29 MEI 2012 | 12:20 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Sulit sekali bagi warga DKI mendapatkan haknya atas pelayanan publik yang berkualitas. Bahkan, upaya memperjuangkan hak warga sering menjadi bumerang bagi si warga sendiri.

Tom Pasaribu, seorang aktivis dan pengamat ibukota, mengalaminya. Sejak lama Tom mengungkap kebobrokan pelayanan air bersih PAM Jaya di DKI Jakarta dan indikasi korupsi yang terdapat di dalamnya. Perlawanan secara simbolis dia lakukan, dan sudah delapan bulan ini Tom Pasaribu tidak membayar tagihan air di rumahnya.

"Saya tahu apa yang saya lakukan ini harus terbayar mahal, karena air ke rumah saya akan diputus dan keluarga saya untuk sementara kesulitan air," ujar Tom kepada Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Selasa siang, 29/5).


Direktur Eksekutif Komite Pemantau dan Pemberdayaan Parlemen Indonesia (KP3I) itu pun mengatakan, kualitas air bersih perpipaan itu masih jauh dari harapan. Sering kali mati, keruh, bau kaporit, tekanan kucuran airnya lemah. Anehnya, petugas di lapangan seringkali bersikap arogan, memutuskan sambungan pipa dan meteran, meski pelanggan baru menunggak satu bulan.Pemutusan sambungan pipa dan meteran ke rumahnya di Jalan Tawes Rawamangun, Jakarta Timur, dilakukan PT Aetra Air Jakarta (Aetra) pada Kamis lalu (24/5).

"Saya berharap pengorbanan ini akan berbuah baik kelak kepada seluruh masyarakat ibukota guna mendapatkan haknya atas pelayanan air yang berkualitas," ungkap Tom.

Tom mengatakan akan membawa persoalan tersebut ke ranah hukum, karena pada saat dilakukan pemutusan pihak Aetra membawa dua anggota kepolisian dari Sektor Pulo Gadung. Kedua anggota polisi yang datang ke rumahnya tanpa surat tugas tersebut akan dilaporkan ke Propam Polda Metro Jaya. Sedangkan, Manajer Area Bisnis Balai Pustaka yang dipimpin Hendra Tenaya akan dilaporkannya ke pihak kepolisian dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan.

Lebih lanjut Tom Pasaribu menambahkan, PAM Jaya selalu berjanji ada perubahan pelayanan kualitas air bersih. Kenyataannya, tidak ada yang berubah. Yang berubah malah keuntungan perusahaan yang semakin besar.

"Tidak ada masalah jaringan pipa dan meteran ke rumah saya diputus. Tapi saya menuntut agar direksi, direktur, manajer itu seharusnya berorientasi kepada pelayanan masyarakat pelanggan air Jakarta,” ucap Tom menambahkan.

Selain melakukan protes tidak bayar, Tom juga menempuh jalur hukum atas masalah pelayanan air bersih di Jakarta. Ia bersama timnya sudah melaporkan kasus korupsi penyelewengan aset negara oleh dua mitra swasta PDAM Jaya Provinsi DKI Jakarta, PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) dan PT Aetra. Kini perkara tersebut sudah sampai ke tingkat penyidikan. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Kasus Bansos, Kabulog Jateng hingga Pejabat Pemkab Brebes dan Jember Diperiksa KPK

Rabu, 09 September 2026 | 14:28

Purbaya Bakal Tarik Dana Daerah yang Mengendap Rp100 Triliun di Bank

Rabu, 09 September 2026 | 14:26

Rumah Digeledah, Direktur PT CMC Diperiksa KPK Hari Ini

Rabu, 09 September 2026 | 14:06

Rugikan Negara Rp35,7 Miliar, KPK Panggil Direktur PT Brantas Abipraya

Rabu, 09 September 2026 | 13:49

Kata Bonjopi, Persib si Raja Comeback

Rabu, 09 September 2026 | 13:39

Punya 12 Pabrik Sawit, Legislator Nilai Sintang Cocok Jadi Basis Produksi B50

Rabu, 09 September 2026 | 13:29

Pakistan: Serangan Houthi ke Saudi Bisa Aktifkan Pakta Pertahanan Mekkah

Rabu, 09 September 2026 | 13:27

PISA 2025 Tak Banyak Bergerak, Indonesia Sedang Menormalisasi Krisis Pembelajaran

Rabu, 09 September 2026 | 13:02

Penyaluran B50 Tembus 3,4 Juta KL, 94 Persen SPBU Sudah Salurkan Biodiesel

Rabu, 09 September 2026 | 12:47

Tim SAR Diminta Maksimalkan Pencarian Lima Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Rabu, 09 September 2026 | 12:38

Selengkapnya