Berita

pohon trembesi/ist

Inilah Penjelasan Ilmiah Penyebab Pohon Trembesi di Istana Tumbang

KAMIS, 05 JANUARI 2012 | 20:28 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Apakah pohon Trambesi di halaman tengah antara Istana Merdeka dan Istana Negara yang tumbang saat hujan super-lebat siang tadi (Kamis, 5/1) adalah pertanda akan terjadi huru-hara politik di negeri ini?

Bagi Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), DR. Sutopo Purwo Nugroho, hal itu adalah fenomena alam biasa yang terjadi akibat angina putting beliung. Bukan hanya pohon Trambesi di Istana, setidaknya ada 50 pohon yang tumbang akibat hujan dan angin deras tadi. Beberapa papan reklame juga jatuh.

Sementara banjir dan genangan terjadi di beberapa tempat.

Dalam pesan yang dikirimkannya, Sutopo menjelaskan, puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 60-90 km per jam yang berlangsung antara 5 hingga 30 menit. Ini terjadi akibat perbedaan tekanan yang sangat besar dalam area dengan skala sangat lokal yang terjadi di bawah atau di sekitar awan Cumulonimbus (Cb).

“Proses terjadinya puting beliung sangat terkait erat dengan fase tumbuh awan Cb. Saat ini puting beliung sangat marak di Indonesia,” ujarnya.

Bencana puting beliung dari tahun ke tahun menunjukkan trend yang naik. Dalam 10 tahun terakhir yaitu dari 2002-2011 terjadi 1.564 kejadian puting beliung atau 14 persen dari total kejadian bencana di Indonesia.

Antara tahun 2002-2011 terjadi kenaikan 28 kali lipat kejadian puting beliung. Jika tahun 2002 kejadian hanya 14 kali. Pada tahun 2006 terjadi 84 kejadian. Tahun 2010 ada 402. Tahun 2011 ada 285 kejadian dengan korban meninggal 21 orang, mengungsi 9.081 orang, 13.684 rumah rusak.

“Adaptasi terhadap ancaman puting beliung diperlukan mulai dari individu,” ujarnya lagi.

DR. Sutopo juga menjelaskan gejala awal puting beliung, antara lain, udara terasa panas dan gerah, di langit tampak ada pertumbuhan awan Cumulus yang putih bergerombol dan berlapis-lapis. Di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang batas tepinya sangat jelas dan berwarna abu-abu menjulang tinggi. Sepintas awan ini tampak seperti bunga kol.

Awan tiba-tiba berubah warna dari berwarna putih menjadi berwarna hitam pekat. Ranting pohon dan daun bergoyang cepat karena tertiup angin disertai angin kencang sudah menjelang.

“Durasi fase pembentukan awan, hingga fase awan punah berlangsung sekitar satu jam. Karena itulah, masyarakat agar tetap waspada selama periode seperti ini,” demikian DR. Sutopo. [zul]


Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya