Berita

monumen lubang buaya

Apa Gunanya Membicarakan Kembali Kondisi Mayat Pahlawan Revolusi?

SABTU, 26 NOVEMBER 2011 | 19:19 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Membicarakan kembali peristiwa yang terjadi pada dinihari 1 Oktober 1965 dan pembunuhan massal yang mengikutinya tidak dimaksudkan untuk mengoyak luka lama republik ini.

Dus, membicarakan kembali hasil visum et repertum lima dokter yang ditugaskan RSPAD atas perintah Pangkotrad/Pangkokamtib Mayjen Soeharto terhadap tujuh mayat Pahlawan Revolusi juga tidak dimaksudkan untuk menegasi peristiwa penculikan diikuti pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok Gerakan 30 September yang dipimpin Letkol Untung.

Sudah pasti bahwa penculikan dan pembunuhan itu berada jauh di luar batas-batas kemanusiaan dan tidak dapat dibenarkan oleh standar moral apapun.

Satu hal yang ingin digarisbawahi adalah pembicaraan kembali mengenai hal ini dan hal-hal lain yang menyertainya ditujukan bagi upaya untuk mengingatkan kita semua pada catatan kelam di masa silam. Dengan mengingat kekelaman itu, diharapkan kita semua mau bekerja keras untuk menjaga dan merawat republik ini, agar tidak kembali ke masa dimana negara gagal dan terlihat enggan melindungi warganegara. Sebuah zaman ketika hukum menyentuh titik nadir.

Sudah beberapa tahun terakhir nama dr. Lim Joe Thay pun terpaksa dikaitkan hampir setiap kali hal ihwal mengenai mayat ketujuh Pahlawan Revolusi itu dibicarakan. Ini terjadi karena ia adalah satu dari lima dokter yang mengautopsi mayat Jenderal Ahmad Yani dan lima perwira tinggi dan seorang perwira muda TNI AD. Dokumen visum et repertum itu seakan lenyap ditelan bumi segera setelah autopsi dilakukan.

Di era 1980an dokumen itu pernah diulas Indonesianis Ben Anderson. Tapi ia tak benar-benar bisa menyentuh ruang publik di tanah air. Dokumen itu hanya menjadi pembicaraan kaum klandestein yang terus bertanya tentang apa yang sesungguhnya terjadi dinihari 1 Oktober itu.

***

Visum et repertum itu benar-benar menjadi pembicaraan publik secara luas setelah pada 2007 lalu dr. Lim kembali "dipertemukan" dengan dokumen tersebut. Di usianya yang semakin senja ia masih mengingat dengan baik detil yang mereka lakukan antara sore hari 4 Oktober hingga lewat tengah malam 5 Oktober 1965.

Penyakit jantung dan usia tua yang menemani hari-hari terakhirnya membuat dr. Lim kehilangan kemampuan untuk membicarakan kembali pengalaman dirinya dan kawan-kawannya selama delapan jam menekuni inci demi inci tubuh mayat para Pahlawan Revolusi di RSPAD.

Tetapi sinar mata dan air matanya memberikan isyarat kuat bahwa ia masih menyimpan peristiwa itu dengan rapi dalam kenangannya.

Dr. Lim meninggal dunia Selasa lalu (22/11). Menurut menantunya, Maria Fatimah Rahayu, ia meninggal dalam keadaan tidur, dan tidak meninggalkan satu pesan apapun untuk pihak keluarga.

Maria adalah istri dari putra pertama dr. Lim, dr. Stephanus Kurniadi yang telah lebih dahulu meninggal dunia di tahun 2003. Dari pernikahan dengan dr. Stephanus, Maria memperoleh dua orang anak. Sepeninggal dr. Stephanus ia memilih ikut merawat dr. Lim.

Dr. Lim, istrinya, Maria dan kedua anaknya tinggal bersama di sebuah rumah di Jalan Johar VII, Jakarta Pusat.

Maria masih sempat bertemu dengan dr. Lim beberapa menit sebelum dr. Lim meninggal dunia. Saat itu ia baru tiba di rumah, sekitar pukul 19.00 WIB. Ketika itu dr. Lim sedang minum susu di kursi rodanya.

"Saya ledekin. Saya tanya itu susu diminum atau hanya dimainkan. Lalu Bapak bilang kepalanya pusing dan minta diantar suster masuk ke kamar," cerita Maria.

"Tidak ada penyebab khusus. Bapak meninggal dalam keadaan tidur. Tidak ada pesan terakhir," sambungnya.

Tak lama kemudian, Maria masuk ke kamar hendak memeriksa keadaan dr. Lim. Saat itulah ia menemukan tubuh dr. Lim sudah dingin. Mereka memanggil tetangga yang kebetulan adalah seorang dokter. Setelah dipastikan meninggal dunia jenazah dr. Lim dibawa ke St. Carolus.

Rabu pagi, sekitar pukul 10.00 WIB, usai misa tutup peti, jenazah dr. Lim disemayamkan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta. Adalah Pembantu Dekan FKUI Prof. Pratiwi Sudarmono yang menerima jenazah dr. Lim.

Usai disemayamkan di FKUI jenazah dr. Lim dibawa ke krematorium di Cilincing.

Maka demikianlah. Satu lagi saksi mata sejarah yang begitu penting bagi republik ini telah menghadap penciptanya. Semogalah kita semua dapat memetik pelajaran penting dari apa yang dikerjakan dr. Lim dan kawan-kawannya. [guh]


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

UPDATE

Perlindungan Orang Utan Kalimantan dari Karhutla Terus Diperkuat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:43

Benarkah Hari Kliwon Lebih Rawan Kecelakaan?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:17

Lindungi Kehidupan Nelayan, KKP Segel Tambak Udang Tak Berizin di Karimunjawa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:46

Pasis Dikreg Seskoad Peroleh Doktrin Kepemimpinan dari Wapang TNI

Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:20

Dampak MBG Bikin Konsumsi Protein Anak Naik hingga Hampir 80 Persen

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:57

Ekonomi Biru Dijaga, Nelayan Disejahterakan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:40

Peradi Profesional Dukung Langkah Presiden Bersih-bersih Mafia Tambang

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:16

DPR Minta PLN Percepat Pemulihan Listrik di Batam-Bintan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:59

Staf Ahli Kapolri Pastikan Penanganan Maksimal Kabut Asap di Kalteng

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:43

Kepala BRAN dan Menteri PKP Bidik Percepatan Lahan untuk Rumah Rakyat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:20

Selengkapnya