Berita

ilustrasi

Bisnis

SEKTOR KEUANGAN

Econit: Second Round Krisis Bisa Lebih Buruk Lagi

JUMAT, 23 SEPTEMBER 2011 | 10:31 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Pemerintah selama ini selalu mengatakan bahwa pondasi ekonomi nasional dalam keadan kuat sehingga dapat menahan hantaman krisis global. Namun kemarin (Kamis, 22/9), pasar keuangan bereaksi negatif. Indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) turun 8,8 persen bahkan perdagangan saham sempat dihentikan untuk sementara (suspended). Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat diperdagangkan pada angka Rp 9.250 per dolar AS.

Di satu sisi memang terjadi tekanan terhadap sektor keuangan di level global setelah Federal Reserve Bank (the Fed) menerbitkan uang baru dan pemerintah AS yang ingin menambah lapangan pekerjaan menerbitkan obligasi untuk menarik investasi.

“Ini tentu menimbulkan ketidakpastian dan tekanan di pasal global,” ujar Managing Director Econit Advisory Group, Hendri Saparini kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jumat, 23/9).

Di sisi lain, faktor eksternal begitu berdampak pada Indonesia karena volume perdagangan di pasar saham dan pasar mata uang Indonesia memang terbilang kecil. Dus ini artinya, pondasi perekonomian Indonesia didominasi oleh hot money yang dapat keluar dan masuk dengan begitu mudah tanpa memiliki kemampuan yang cukup untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

Menurut Hendri, reaksi negatif bursa saham dan pasar mata uang domestik kemarin belum mencapai titik terburuk. Ia khawatir dalam waktu dekat akan ada serangan yang lebih kuat lagi dan berdampak sangat buruk bagi perekonomian nasional.

“Yang terjadi kemarin belum begitu keras. Isu mogok Badan Anggaran DPR dan reshuffle kabinet akan melahirkan serangan second round di sektor keuangan yang lebih keras lagi. Akibatnya bisa lebih dalam karena pondasi ekonomi kita yang tidak kuat tadi,” demikian Hendri. [guh]


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Pramono Klaim 96 Persen Warga Ingin CFD Rasuna Said Berlanjut

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:20

Garuda Institute Minta BGN Utamakan Kualitas daripada Kuantitas

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:12

Balas Serangan AS, Iran Gempur Pangkalan Bahrain dan Kuwait

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:58

Ditjenpas Benahi Overkapasitas dan Tingkatkan Keamanan Lapas

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:54

Paus Leo XIV Sebut Perang AS-Iran Tidak Adil

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:11

Bukan Sekadar Ganti Pejabat, Reshuffle Kabinet Harus Pulihkan Ekonomi

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:00

Bupati Pati Sudewo Ditahan di Rutan Semarang Jelang Sidang Dua Perkara

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:56

Suhud Alynudin Akan Dilantik Jadi Ketua DPRD DKI Senin Besok

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:27

Koperasi Didorong Masuk Ekosistem Industri Gula

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:02

Gus Salam Serap Aspirasi Nahdliyin Sulsel Jelang Muktamar NU

Minggu, 07 Juni 2026 | 07:52

Selengkapnya