Berita

sahara/ist

Dunia

Perempuan Sahara Kecam Situasi Buruk di Tindouf

KAMIS, 15 SEPTEMBER 2011 | 17:34 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Kaum perempuan yang berada di kamp pengungsi Tindouf, Aljazair, sudah lama gelisah. Mereka menilai Polisario yang berkuasa di kamp itu sejak lama tidak mampu memperbaiki kondisi kehidupan pengungsi.

Sebaliknya, menurut Asosiasi Perempuan Sahara untuk Pembangunan (APSP) bulan Juli lalu di Madrid, Spanyol, pucuk pimpinan Frente Popular de Liberación de Saguía el Hamra y Río de Oro atau Polisario adalah diktator korup yang menempatkan kepentingan pribadi dan kelompok elite di atas kepentingan orang-orang Sahara di pengungsian.

Media berbahasa Spanyol, Primicia Online, melaporakan Ketua Umum APSP Salma Buha Mint Bubacar Lecuara didampingi Sekjen Fatma Ahmed Essbiti, menyampaikan sikap mereka itu pada 21 Juli lalu di Hotel The Emperor, di Madrid.

Menurut Salma Buha Mint Bubacar, lembaga yang dipimpinnya didirikan untuk melindungi hak kaum wanita Sahara, sekaligus untuk menyampaikan kepada dunia internasional betapa rezim Polisario yang berkuasa sejak kamp itu berdiri sama sekali tidak demokratis. APSP tidak memiliki perwakilan di Polisario.

Salma juga menyampaikan harapan kaum muda Sahrawi di Tindouf untuk menggantikan pemerintahan Polisario itu.

Selama ini, kelompok anti Polisario di Tindouf hampir tidak dikenal. Namun belakangan, banyak orang yang melarikan diri dari Tindouf dan dengan lantang menyuarakan tuntutan demokrasi. Presiden Abdel Aziz, menurut mereka adalah presiden korup yang mengharamkan oposisi berkembang di Tindouf.

Adapun Fatma menjelaskan bahwa hubungan antara orang-orang Saharawi di Tindouf dengan Polisario sangat kurang. Dia juga mengatakan bahwa dalam Kongres bulan Desember 2011 nanti kelompok oposisi akan bersatu untuk mengganti rezim Abdel Aziz.

APSP juga mengecam Polisario yang tidak pernah melibatkan kaum perempuan Sahara untuk terlibat dalam pembicaraan damai dengan pihak Maroko yang telah beberapa kali digelar atas supervisi PBB.

Salma menyampaikan keyakinannya bahwa perubahan tim negosiasi dapat membawa hasil yang lebih baik baik para pengungsi di Tindouf. [guh]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya