Berita

Dunia

Majelis Profesor: Malaysia Tak Pernah Dijajah!

SABTU, 10 SEPTEMBER 2011 | 18:08 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Selama ini di kalangan masyarakat Indonesia, faktor penjajah seringkali dijadikan bagian dari penjelasan mengapa Malaysia sepintas terlihat lebih maju dari Indonesia.

Sering disebutkan, bahwa Malaysia maju karena dijajah Inggris yang memberikan kesempatan kepada putra-putri negeri jajahan untuk mengecap pendidikan. Sebaliknya, Belanda yang menjajah Indonesia baru berpikir mengenai pendidikan bangsa terjajah lewat politik etis di awal abad 20. Itu pun yang mendapatkan kesempatan mengecap pendidikan adalah anak kaum bangsawan.

Terlepas dari benar atau tidak hubungan antara penjajah dengan kemajuan sebuah negara, Majelis Profesor Negara (MPN) Malaysia menyimpulkan bahwa Malaysia tidak pernah dijajah Inggris. Melainkan diletakkan di bawah naungan Inggris dan diakui kedaulatannya.

Juga disimpulkan hanya tiga negeri di kawasan itu yang pernah dijajah Inggris. Ketiganya adalah Singapura, Melaka, dan Pulau Pinang.

Kesimpulan MPN ini menjadi tajuk utama stasiun TV3 kemarin.

“Fakta sejarah dan perspektif sejarah ni mesti di ubah. Jangan lagi menyebut kita terjajah selama 400 tahun, itu adalah kesalahan yang amat besar,” ujar Ketua Kluster Sejarah, Warisan dan Sosio Budaya MPN, Prof. Datuk Dr. Zainal Kling seperti dikutip stasiun televisi itu.

“Kita tidak pernah terjajah kecuali kita hanya terjajah dua tahun di zaman Malayan Union dari awal 1946 sampai akhir 1947. Dua tahun sahaja kerana rancangan Malayan Union untuk menjadikan Tanah Melayu, Negeri-Negeri Melayu sebagai direct rule dari London melalui govenor yakni koloni. Maka itu saja tempoh kita terjajah. Selainnya kita tak pernah terjajah kecuali zaman Jepunlah. Jepun tu datang untuk menakluk maka mereka menang selama tiga tahun,” sambungnya lagi.

Datuk Zainal mengingatkan bahwa istilah dijajah dan dinaungi memiliki arti yang berbeda sama sekali.

Prof. Emeritus Datuk Dr. Zakri Abdul Hamid juga dari MPN menambahkan:

“Kita di sini ingin membetulkan sebarang fakta ataupun interpretasi yang mungkin tidak betul. Itu yang kita mahu buat. Jadi kita punya respon ini bukannya respon dalam konteks politik.” [guh]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Misteri Listrik Kejagung Padam di Tengah Pemeriksaan Febrie Adriansyah, Mobil Tahanan Bersiaga

Jumat, 24 Juli 2026 | 22:06

Prabowo Perlu Tiru Trik Cerdas Mahathir Hadapi Krisis

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:52

Indonesia Putar Haluan dari AS dan Bidik Pasar Ekspor Baru

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:38

Mentan Ngamuk, Minta Polisi Sikat Tujuh Perusahaan Culas Penolak Tebu Petani

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:29

100 Tahun Rarud Batur: Ketika Lava Tak Mampu Menghapus Peradaban

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:19

DPR Desak Operator Seluler Patuhi Putusan MK soal Kuota Internet Hangus

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:16

KUII VIII Jadi Momentum Bersejarah, Wantim MUI Ajak Umat Perkuat Peran Menuju Indonesia Emas 2045

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:13

Pemprov DKI Gelontorkan Rp249 Miliar untuk Rehabilitasi Empat Sekolah Rusak

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:01

PIKI Gelar Seminar Nasional di Tentena, Dorong Reformulasi Tata Kelola Dana Bagi Hasil Pertambangan

Jumat, 24 Juli 2026 | 20:52

PPP Banten Bergejolak, dari Gugatan ke Pengadilan hingga Saling Somasi

Jumat, 24 Juli 2026 | 20:51

Selengkapnya