Berita

Iwan Piliang

Wawancara

WAWANCARA

Iwan Piliang: Keselamatan Data Nazar, Itu yang Paling Penting

RABU, 17 AGUSTUS 2011 | 06:27 WIB

RMOL. Jurnalis independen, Iwan Piliang, tertawa saat dimintai komentarnya soal tudingan ahli telematikan Roy Suryo bahwa dia mengendalikan twitter Nazaruddin.

“Ha-ha-ha. Saya ketawa saja. Soal tudingan Roy. Dia kan nga­kunya pakar telematika. Buktikan saja semua tudingannya itu. Ka­lau benar-benar pakar, dia pasti mampu dong,” ujar Iwan kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Seperti diketahui, ahli tele­ma­tika Roy Suryo menegaskan bahwa Iwan Piliang pengendali account twitter @mnazar78 bu­kan sekadar tudingan belaka.


“Pernyataan saya itu berda­sar­kan analisa yang sudah lama,” ung­kap anggota Komisi I DPR itu.

Iwan Piliang, lanjutnya, antek M Nazaruddin yang memiliki ke­pentingan untuk menghancurkan harkat dan martabat Partai De­mokrat.

“Saya punya bukti teknis yang kuat. Tapi saya tidak  perlu pa­parkan di sini. Itu bisa jadi fakta hukum apabila nanti diperma­salah­kan,” paparnya.

Iwan Piliang selanjutnya me­nga­takan, dirinya pernah mela­deni sejumlah tudingan dan ber­debat dengan Roy di jejaring sosial dunia maya, twitter. Na­mun, dirinya akhirnya mengalah setelah menyadari motif dari se­mua tudingan Roy Suryo ter­sebut.

“Dia hanya mencoba menga­lihkan perhatian. Buat apa saya menghabiskan banyak energi untuk meladeni Roy Suryo. Itu sama saja saya memberi pang­gung kepada dia,” tegas Iwan.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa yang ingin Roy Suryo alih­kan?
Ya, esensi dari kasus tersebut. Dalam kasus Nazaruddin, ada dua hal yang harus kita perhati­kan, yakni keselamatan Naza­ruddin dan keselamatan data-data milik Nazaruddin, itu yang paling penting.   

Itulah yang ingin dialihkan Roy Suryo. Makanya, publik dan media massa harus memberi per­hatian atas kedua poin tersebut. Pasalnya, indikasi penyimpa­ngan­nya sangat kuat.

Apa indikasi penyimpangan terhadap kedua poin itu?
Pertama, wartawan tidak boleh bertemu dan ikut dalam pesawat yang membawa Nazaruddin. Pada­hal, apa sih sulitnya me­nye­diakan sebuah bangku untuk wartawan atau pihak independen untuk me­mastikan keselamatan dan data yang dibawa Naza­ruddin.

Kedua, Duta Besar RI untuk Kolombia juga telah melakukan kebohongan. Menurut dia, be­lum ada seorang pun yang ber­temu dan berkomunikasi dengan Nazar. Buktinya, kuasa hukum Nazaruddin, OC Kaligis, sudah ber­komunikasi dengan dia. Ka­lau duta besar saja sudah berbo­hong, bagaimana mene­gak­kan hukum.

Dengan dua indikasi itu saja, saya mulai pesimis dengan pe­nangan kasus ini. Padahal, ba­nyak orang berharap, kasus ini tidak berakhir seperti kasus Susno Duadji atau Gayus Tam­bunan. Masyarakat ingin melihat keadilan dan hukum ditegakkan.

Bagaimana dengan tudingan bahwa Anda bersandiwara?
Kan tadi sudah saya sampai­kan, itu hanya pengalihan isu. Misalnya, soal tudingan bahwa rekaman Skype itu rekayasa dan sengaja di-delay 18 jam. Menge­nai sandiwara atau bukan, publik yang menilai, mereka punya hati nurani.

Yang saya heran, mereka masih saja menganggap rakyat ini bodoh. Rakyat di desa-desa atau di pantai-pantai sudah menge­tahui dan dapat menilai, siapa yang punya hati, bekerja dengan hati dan bertutur dengan hati.

Mengenai delay 18 jam, itu kan sudah lama kita bahas. Semula, saya ingin menanyangkan hasil wawancara itu melalui you tube, tapi karena ingin disiarkan me­lalui stasiun televisi, ya saya minta konfirmasi dia dulu. Itulah yang membuat penayangan reka­man tersebut di-delay.

Soal tudingan Anda adalah an­tek Nazaruddin, sehingga me­ngendalikan twitternya?
Kalau dia mau menuding (blog dan twitter) silakan. Katanya, dia pakar telematika, silakan bukti­kan. Jangan hanya menuduh saja.

Saya memang pernah menjalin hubungan kerja dengan Nazar, tapi itu atas permintaan Partai Demokrat.

Saya diajak membantu media, karena ingin membantu Anas Urbaningrum. Saya memimpin Majalah Demokrat selama tiga bulan dan itu bukan lembaganya Nazaruddin. Itu lembaganya partai Demokrat. Lalu, dimana letak antek, kedekatan atau anak buahnya. Kan yang minta saya mengelola majalah itu adalah Anas.   [rm]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Lazismu Kupas Fikih Dam Haji: Daging Jangan Menumpuk di Satu Titik

Jumat, 15 Mei 2026 | 02:12

Telkom Gandeng ZTE Perkuat Pengembangan Infrastruktur Digital

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:51

Menerima Dubes Swedia

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:34

DPD Minta Pergub JKA Dikaji Ulang dan Kedepankan Musyawarah di Aceh

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:17

Benarkah Negeri ini Dirusak Pak Amien?

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:42

Pendidikan Tinggi sebagai Arena Mobilitas Vertikal Simbolik

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:37

KNMP Diharapkan Mampu Wujudkan Hilirisasi Perikanan

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:22

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Pembangunan SR Masuk Fase Darurat, Ditarget Rampung Juni 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:33

Harga Minyakita Masih Tinggi, Pengangkatan Wamenko Pangan Dinilai Percuma

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:18

Selengkapnya