Berita

ilustrasi kongres demokrat

Mantan Staf Ahli Nazaruddin: Tidak Ada Money Politics

JUMAT, 29 JULI 2011 | 20:38 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Mantan staf ahli M Nazaruddin di DPR, Nuril Anwar, membantah 'bagi-bagi uang' dalam kongres Partai Demokrat 2010 di Bandung.

Nuril yang ditemui di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan (Jumat petang, 29/7), mengungkapkan, keterangan dua bekas sopir Nazaruddin di televisi, banyak janggalnya.

"Mereka sudah tidak bekerja pada Nazar per Januari kemarin. Selain itu, kapasitas mereka itu apa? Sebagai sopir, apa mereka ikut dalam pertemuan," kata Nuril, yang juga sudah mundur dari jabatannya sebagai staf ahli Nazaruddin di DPR.


Nuril Anwar mengakui adanya uang yang dibagikan ke peserta kongres Partai Demokrat pada 2010. Namun, Nuril membantah uang itu sebagai bagian dari politik uang.

"Itu uang untuk akomodasi dan transportasi bagi para pendukung AU (Anas Urbaningrum). Bukan money politics. Jumlahnya juga bukan miliaran rupiah seperti yang diungkap sopirnya (Nazaruddin) itu," kata Nuril.

Karenanya, Nuril menganggap bahwa keterangan dari empat anak buah Nazaruddin dalam wawancara di sebuah televisi itu bohong.

Para pembantu Nazaruddin itu mengaku bertugas sebagai sopir dan pengawal uang yang dibagikan ke peserta kongres. Mereka adalah sopir Nazaruddin bernama Aan, Dede dan Jauhari yang berperan sebagai pengawal uang, dan Dayat seorang sopir staf keuangan PT Anugerah Nusantara, Yulianis.

Dalam wawancara itu, Dede dan Jauhari mengaku ditugasi membawa uang dalam mobil box ke Hotel Aston Premiera di Bandung. Uang tersebut dimasukkan dalam mobil box Daihatsu Espass. Uang yang dimasukkan dalam kamar hotel itu, menurut Dede, diambil terus menerus sampai berakhirnya kongres.

"Keterangan itu kan karena mungkin disuruh sama mantan bosnya itu. Disuruh bicara begini-begini," jelas Nuril.

Menurut Nuril, uang itu tidak hanya dibagikan kepada pendukung Anas Urbaningrum saja.

"Yang tidak mendukung kita bantu juga, karena mereka tidak dapat pulang ke daerahnya. Jumlahnya paling Rp1-2 juta perorang," ujarnya.

Nuril juga membantah ada anggota DPR yang ikut mengawal uang tersebut.

"Tidak ada itu. Mereka hanya berhalusinasi saja," ujarnya. [guh]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya