Berita

Zulkifli Hasan

Wawancara

WAWANCARA

Zulkifli Hasan: Cegah Kebakaran, Cara Paling Murah dan Mudah Atasi Asap

RABU, 27 JULI 2011 | 00:47 WIB

RMOL. Di beberapa daerah di Tanah Air telah memasuki musim kemarau. Masalah kebakaran lahan dan hutan selalu jadi momok di musim kering ini.

Asap yang muncul dari keba­karan tak hanya menghambat aktifitas masyarakat dan arus transportasi karena jarak pandang jadi terbatas, juga mengganggu kesehatan.

Asap ini sampai ke Singapura dan Malaysia. Kedua negara ke­rap komplain atas gangguan ini. Persoalan ini berpotensi me­nye­babkan hubungan Indonesia dengan negara tetangga itu ter­ganggu.


Pemerintah bertekad mengan­tisipasi masalah ini. Empat men­teri, Menko Kesra, Menteri Ke­hutanan, Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Pertanian pun  terjun ke lapangan.

Apa yang dilakukan pemerin­tah untuk mengatasi kebakaran dan masalah asap? Berikut wa­wancara Rakyat Merdeka dengan Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan.

Empat menteri terjun ke la­pa­ngan. Apa yang dilakukan un­tuk mencegah kebakaran lahan dan hutan?
Untuk mengantisipasi musim kemarau ini, menteri-menteri yang berada di bawah koordinasi Menko Kesra road show ke bebe­rapa daerah.

Bulan lalu, kita mengawali dengan mengundang gubernur yang daerahnya rawan kebaka­ran, baik lahan maupun hutan.

Sebagai tindak lanjutnya, Menko Kesra dan kementerian ter­kait melakukan rapat bersama gubernur, bupati, walikota di dae­rah masing-masing.

Kita merapatkan barisan, mem­­­persiapkan diri dan meng­ingat­kan kembali kepada guber­nur, bu­pati dan walikota untuk ber­sama-sama sejak dini men­deteksi titik api (hotspot) poten­sial di daerahnya masing-ma­sing. Agar begitu masuk musim kemarau kita bisa mengan­tisi­pasi kebaka­ran lebih awal. Se­karang di bebe­rapa daerah sudah jarang hujan.

Daerah-daerah mana yang ra­wan kebakaran?
Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan. Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Utara, dan beberapa daerah lain.

Daerah-daerah mana yang te­lah dikunjungi?
Paling tidak yang rawan. Teru­tama yang banyak lahan gam­butnya.

Beberapa waktu lalu kita sudah ke Kalimantan Barat. Belum lama kita bersama-sama ke Riau. Menko Kesra, saya, Menteri Ling­kungan Hidup dan Menteri Pertanian.

Alhamdulillah, daerah seperti Riau termasuk yang siap. Guber­nur, bupati dan walikota sudah me­nyiapkan organisasi dan pera­latan untuk mengantisipasi ke­bakaran.

Kenapa kebakaran sering ter­jadi para musim ke­ma­rau? Apa se­mata-mata karena fak­tor cua­ca atau ada ke­senga­jaan manu­sia?
Memang ada dae­rah-daerah yang ra­wan ke­ba­karan karena banyak lahan gam­but. Lahan gam­but mudah ter­bakar pada mu­sim kemarau. Walaupun tidak di­bakar, tetap bisa terjadi kebakaran di situ.

Kebakaran terjadi juga ada faktor budaya kita. Bia­sanya, ka­lau mau pa­nen dan pasca pa­nen, mem­bakar. Mau buka lahan hu­tan, mem­bakar.

Di saat mu­sim hujan, ke­­bia­saan itu—wa­laupun tidak baik—tidak ber­bahaya. Karena api di lahan yang terbakar langsung padam ketika turun hujan. Tetapi ketika dilaku­kan pada musim ke­marau, akan menciptakan ke­bakaran yang luas bahkan hingga ke hutan.

Kebakaran ini menimbulkan asap, polusi, me­nyebabkan ja­rak pan­dang terbatas dan bisa mem­­buat sesak nafas.

Karena itulah kita sampaikan kepada pemerintah daerah agar bersama-sama melakukan sosia­lisasi agar budaya membakar itu tidak lagi dilakukan.

Membakar dianggap cara paling mudah dan mu­rah untuk member­sih­kan maupun mem­buka lahan. Bagai­mana mengu­bah persepsi itu?
Memang, membuka lahan dengan membakar paling murah ongkosnya. Kita memberikan pendidikan kepada masyarakat bahwa membuka lahan dengan cara membakar ini sangat me­rugi­kan. Menyebabkan polusi dan memperluas kerusakan la­han. Ini memang tan­tangan.

Sebenarnya, ti­dak perlu mem­­­bakar  untuk membersih­kan lahan pascapanen. Sisa-sisa panen ma­sih bisa dimanfaatkan. Jerami-jerami yang tersisa bisa dijadikan pupuk. Memang di­perlukan pe­ralatan.

Menurut saya, di samping perlu adanya sosialisasi akan bahaya kebiasaan membakar la­han, pemerintah juga perlu mem­berikan pelatihan pengolahan lahan pascapanen. Pemerintah juga bisa memberikan bantuan peralatan untuk membantu ma­syarakat membuka lahan.

Di beberapa dae­rah, titik api (hotspot) ada di la­han yang di­kua­sai pe­ru­sa­ha­an perke­bunan. Ada kecuri­gaan perusa­haan mem­buka lahan dengan mem­bakar...
Bagi (perusahaan) yang de­ngan sengaja membakar untuk membuka lahan, akan berhada­pan dengan hukum. Di dalam undang-undang sudah dilarang membuka lahan dengan cara ini.

Bila ditemukan kesengajaan, pe­rusahaan itu harus dijatuhi sanksi tegas agar menimbulkan efek jera. Tanpa penegakan hu­kum yang tegas, saya kira kebia­saan/budaya membakar akan terus berlangsung. Oleh karena itu, saat rapat di Riau kita meli­batkan aparat kepolisian.

Benarkah ada penurunan titik api (hotspot) di sejumlah daerah?
Kalau dibandingkan tahun 2010 memang turun. Sebab, se­karang masih musim hujan. Oleh karena itu, jangan sampai ketika musim kemarau datang, kita tidak siap mengantisipasi masalah kebakaran dan asap.

Masalah asap ini kerap di­komplain negara tetangga. Bila tak ditangani bisa menganggu hubungan dengan negara te­tangga ...
Iya. Bagi saya, malu bila tidak bisa mengatasi masalah asap ini. Padahal, kita bangsa besar, bangsa yang berbudaya. Oleh karena itu, saya mengajak kita semua pihak, kementerian terkait, pemerintah daerah, para pengu­saha, dan masyarakat untuk sama-sama mengantisipasi ma­salah ini.

Cara paling baik dan murah mengatasi masalah asap  adalah mencegah kebakaran. Kalau sudah terjadi kebakaran tidak mu­dah memadamkannya. Apalagi kalau yang terbakar lahan gam­but. Sulit sekali memadamkan. Biaya memadamkan kebakaran juga tidak sedikit.

Sebelum terjadi (kebakaran dan masalah asap), kita sosialisasi dan mengajak untuk bersama-sama mencegah kebakaran lahan dan hutan.

Tak lama lagi bakal masuk musim mudik Lebaran. Dikha­watirkan asap bisa mengganggu transportasi arus mudik...
Iya, makanya sedini mungkin kita melakukan pencegahan.

Apakah ada laporan bahwa musim kemarau kali ini akan berkepanjangan, sehingga an­ca­man kebakaran lahan ini ba­kal berlangsung lama?
Ada paparan dari Ibu Sri Woro, kepala BMKG (Badan Meteo­rologi, Klimatologi dan Geo­fisika) bahwa di beberapa daerah sudah memasuki musim ke­ma­rau. Misalnya, di sebagian Riau dan Kali­mantan yang ter­masuk kategori daerah rawan kebakaran karena banyak ter­dapat lahan gambut.   [rm]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Skandal Hibah Daerah, KPK: Rp83 Triliun Rawan Bancakan

Senin, 20 April 2026 | 12:16

Spirit KAA 1955 Bukan Nostalgia tapi Agenda Ekonomi Global Selatan

Senin, 20 April 2026 | 12:05

Keresahan JK soal Ijazah Jokowi Mewakili Rakyat Indonesia

Senin, 20 April 2026 | 12:01

Lusa, Kloter Pertama Jemaah Haji RI Mendarat di Madinah

Senin, 20 April 2026 | 11:55

Harris Bongkar Peran Netanyahu di Balik Keputusan Perang Trump

Senin, 20 April 2026 | 11:43

Emas Antam Merosot, Ini Harga Terbarunya

Senin, 20 April 2026 | 11:27

Amanah Gandeng Kampus dan Pemda Bangun Ekosistem Pemuda

Senin, 20 April 2026 | 11:25

Tangkapan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Tembus 6,98 Ton

Senin, 20 April 2026 | 11:06

Wapres AS Kembali Pimpin Delegasi ke Islamabad untuk Negosiasi Iran

Senin, 20 April 2026 | 10:55

Iran Akui Kapalnya Dibajak AS, Ancam Serangan Balasan

Senin, 20 April 2026 | 10:34

Selengkapnya