Berita

Anis Baswedan

Wawancara

WAWANCARA

Anis Baswedan: Nazaruddin Memang Muda Tapi Perilakunya Purbakala

SABTU, 23 JULI 2011 | 07:15 WIB

RMOL. Di tengah ingar-bingar dinamika politik, publik sangat memerlukan pemimpin yang tegas, sehingga bisa mengambil keputusan dengan tepat.

“Publik memerlukan pemim­pin yang tidak bimbang, tapi tepat dalam mengambil keputu­san,” ungkap Rektor Universitas Paramadina, Anis Bas­wedan, di Jakarta.

Menurut Anis, semua masalah yang dihadapi pemimpin, harus dihadapi agar bisa diselesaikan dengan tepat. Jangan sam­pai tim­bul du­gaan-dugaan yang menyebutkan se­o­rang pe­mim­­pin ti­dak mengurusi ma­salah ter­sebut.


“Kalau masalah tidak dihadapi, maka akan memunculkan dugaan macam-macam,” ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya;

Bagaimana kredibilitas pe­me­rintah dalam pemberanta­san korupsi?
Dalam hal pemberantasan ko­rupsi, banyak urusan yang belum diselesaikan. Kita ini perlu mem­berikan kepastian hukum. Mulai dari urusan hukum kontrak sam­pai dengan kepastian hukum bagi warga negara.

Indonesia dalam hal kepastian hukum kontrak, sama seperti Ghana. Sangat rendah sekali. Se­ha­rusnya ada kesamaan penega­kan hukum semua masyarakat. Hal ini bertujuan agar masyarakat merasa ada perlakuan yang equal di depan hukum, baik bagi rakyat yang punya pengaruh maupun rakyat  kecil.

Intinya penegakan hukum di Indonesia masih lemah?
Saat ini hukum lunglai di ha­dapan rakyat yang berkuasa. Tapi hukum tegak dan kokoh di depan rakyat kecil. Seharusnya itu tidak boleh terjadi.

Penegakan hukum itu urusan polisi, kejaksaan, dan KPK. Lem­baga-lembaga itu butuh perlin­dungan politik. Artinya, mereka bisa bekerja dengan baik jika mereka dilindungi secara politik.

Misalnya kepolisian meme­riksa seorang anggota partai politik. Tapi karena dekat dengan kekuasaan, orang itu tidak jadi diperiksa. Seharusnya orang itu bisa diperiksa, penegakan hukum harus jalan terus.
 
Partai Demokrat lagi didera masalah, bagaimana pemimpin bersikap?
Saya ingin mencontohkan, saya adalah seorang ayah dan juga seorang rektor. Ada masa di mana saya lebih dominan me­main­kan peran sebagai ayah. Tapi ada saatnya saya memainkan peran dominan sebagai rektor. Tergantung situasi dan tempat, sehingga tidak hanya bisa dibi­lang saya sebagai ayah saja atau saya sebagai rektor saja.

Begitu juga dengan posisi yang dimiliki Pak SBY sebagai Dewan Pembina Partai Demokrat dan juga sebagai Presiden. Arti­nya, menurut saya yang penting adalah peran itu dimainkan sesuai dengan konteksnya.

Mengenai kasus Nazaruddin, apakah itu mencerminkan sisi gelap kaum muda Indonesia?
Usia Nazaruddin memang muda, tetapi perilakunya purba­kala. Jadi definisi anak muda itu adalah harus ada sesuatu yang baru. Kalau tidak ada sesuatu yang baru tidak ada yang menarik bagi anak muda. Anak muda itu menarik kalau ada yang baru. Bukan berdasarkan usianya. Misalnya memiliki ide baru, pen­dekatan baru, dan lain-lain. Sifat kebaruannya yang menarik bukan kemudaannya. Nazaruddin itu muda usianya tapi tidak mem­bawa sesuatu yang baru. Apa yang dilakukannya sangat pri­mitif dalam politik.

Bagaimana Anda menilai biaya pemilu begitu besar?
Ada lima hal yang krusial da­lam pemilu, yaitu: kekuatan ide, kekuatan massa, kekuatan uang,  kekuatan machinery poli­tik, dan kekuatan jaringan. Dari lima itu yang dominan adalah uang. Salah satu hal yang bisa dila­kukan adalah dengan mem­batasi biaya kampanye. Bukan mem­batasi sumbangan kam­panye.   [rm]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Safari Politik Jokowi Tak Pengaruhi Elektabilitas PDIP

Sabtu, 27 Juni 2026 | 00:14

Seruan Reformasi Jilid II Bukan Aspirasi Mahasiswa

Sabtu, 27 Juni 2026 | 00:00

Safari Politik Jokowi cuma Demi Gibran dan Kaesang

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:41

Empat Nyawa Sudah Cukup, Setop Latsarmil SPPI

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:23

Sarasehan KPPG: Keterwakilan Perempuan 30 Persen Bukan Sekadar Kuota

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:06

Edi Hasibuan: Masyarakat Mulai Merasakan Perubahan Polri

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:03

Universitas Bakrie Tiga Besar dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:42

Pakai Dump Truk, Polisi Kawal Massa Pendukung MBG di Tuban

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:24

Jubir FAM UBK: Ada Aktor Intelektual Sengaja Rusak Citra Kampus dan Wapres

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:22

DPR Usul Kemenukbangga Jadi Penyalur BLT

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:03

Selengkapnya