Berita

ilustrasi

Rizal Ramli: Harusnya Sikat Dulu Mafia Migas Penyumbang 'Istana Hitam'

SENIN, 18 JULI 2011 | 23:32 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Dalam rangka menekan penghematan dan menambah devisa dari sektor Migas, langkah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan pilihan terakhir bagi pemerintah. Masih banyak cara lain yang bisa diambil oleh pemerintah.

Demikian disampaikan ekonom Rizal Ramli di Metro TV (Senin malam, 18/7).

"Masalah (migas) kita, selain subsidi, yang paling penting adalah soal produksi. Produksi anjlok terus selama beberapa tahun terakhir. Kenapa anjlok, itu yang paling besar adalah birokratisasi di dalam eskplorasi Migas. Para investor butuh waktu berbulan-bulan dari BP Migas," beber Rizal.

Hal lainnya, kata Rizal, tidak kondusifnya sistem pajak di tanah air. Permainan mafia Migas ikut menguras devisa negara dari sektor Migas. Komisi yang mereka terima, kata Rizal, lumayan besar. Kalau sistem pajaknya baik, hasil produksi Migas bisa naik.

"Tapi ini ada mafia Migas. Mereka dapat komisi. Memang perusahaan Singapura tapi yang punya orang Indonesia. Kalau dengan menaikkan BBM penghematannya hanya Rp 5 triliun, maka kalau mafia Migas ini disikat penghematannya bisa sampai Rp 9 triliun. Jadi buat saya pilihan menaikkan BBM ini terakhir, sikat dulu mafia ini," katanya.

Siapa mafia Migas tersebut? Rizal berani tunjuk hidung. Katanya, mafia tersebut jadi penyumbang ke Istana hitam. Karenanya, kata bekas Menko perekonomian era Gus Dur ini pun, dirinya sadar betul kalau pemerintah SBY-Boediono tidak akan mampu menyelesaikan masalah-masalah Migas.

"Kalau sama pemerintah ini saya sih mohon maaf, udah gak ada harapan karena selama tujuh tahun saja udah gak bisa berubah," tandasnya. [dem] 


Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

UPDATE

Prabowo Akui Punya DNA India, Suka Bergoyang Kalau Ada Musik

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:09

Pansus DPR Desak Kemendagri Percepat Penyusunan DIM RUU Daerah Kepulauan

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:02

Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau, Total Kini 110 Unit

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:50

KPK Harus Tegas, Pengembalian Amplop Raja Juli Tidak Hapus Dugaan Pidana

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:44

Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Tambang PT PMM, Ada Pegawai Bea Cukai

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:43

Prabowo Peluk Erat Modi saat Antar Kepulangannya Menuju India

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:34

Kekuatan Jokowi cuma Uang, Bukan Ideologi

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:32

Memahami Aturan Paspor Diplomatik: Siapa Saja yang Berhak Memilikinya?

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:18

Rekor Baru Messi di Piala Dunia Lewati Maradona

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:17

Ketidakadilan Laga Argentina vs Mesir Bersifat TSM

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:00

Selengkapnya