Berita

yusril/ist

Yusril Ihza Nyapres, Mahasiswa Desak Kejagung Hentikan Kriminalisasinya

SENIN, 18 JULI 2011 | 19:22 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Mahasiswa lintas perguruan tinggi di Jakarta mendesak Kejaksaan Agung untuk segera menghentikan kriminalisasi terhadap Yusril Ihza Mahendra. Pengusutan Kejaksaan Agung terkait Sisminbakum yang menyeret-nyeret Yusril, kata mereka, hanyalah memperburuk citra lembaga tersebut sebagai lembaga penegak hukum.

"Kami mendesak kejaksaan agung menghentikan kriminalisasi terhadap Yusril," ujar koordinator aksi, Ibnu Jauhari saat menggelar aksi di depan gedung Kejaksaan Agung, Jakarta (Senin, 18/7).

Menurut mereka, Kejaksaan Agung terlalu memaksakan kasus Sisminbakum. Kejaksaan Agung hanya mempertontokan kebobrokan hukum dan merusak citra penegakan hukum yang bukan tidak mungkin akan membuat masyarakat tidak percaya pada penegak hukum nantinya. Ingat, para pakar hukum pidana dan praktisi hukum sudah menyatakan kasus Sisminbakum tidak bisa disebut sebagai korupsi.


"Yusril difitnah oleh Kejaksaan Agung melakukan korupsi Sisminbakum. Yusril dizholimi. Kebebasannya dirampas. Namanya dicemarkan. Ini mesti dihentikkan," katanya lagi.

Selain meminta menghentikan kriminalisasi terhadap Yusril, saat menggelar aksinya, para mahasiswa juga menegaskan niatnya mencalonkan Yusril pada Pilpres 2014 nanti. Ditegaskan mereka, bekas menteri Kehakiman dan HAM itu merupakan figur yang cocok dan sangat mumpuni untuk mengatasi krisis multidimensi yang timbul akibat kepemimpinan SBY.

Beda dengan SBY, menurut mereka, ketegasan Yusril tak bisa diragukan lagi. Selain mengerti hukum dan berani, Yusril akan mampu menyelesaikan krisis yang terjadi saat ini.

"Presiden SBY tidak mampu menyelesaikan problem-problem mendasar. Bukan mengambil langkah tegas, SBY malah terlihat kebingungan. SBY tak mampu menyelesaikan persoalan, bahkan terkesan membiarkan. Yusril merupakan calon pemimpin alternatif. Kami akan mengusung Yusril pada 2014," katanya. [dem]


Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

UPDATE

Prabowo Akui Punya DNA India, Suka Bergoyang Kalau Ada Musik

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:09

Pansus DPR Desak Kemendagri Percepat Penyusunan DIM RUU Daerah Kepulauan

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:02

Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau, Total Kini 110 Unit

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:50

KPK Harus Tegas, Pengembalian Amplop Raja Juli Tidak Hapus Dugaan Pidana

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:44

Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Tambang PT PMM, Ada Pegawai Bea Cukai

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:43

Prabowo Peluk Erat Modi saat Antar Kepulangannya Menuju India

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:34

Kekuatan Jokowi cuma Uang, Bukan Ideologi

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:32

Memahami Aturan Paspor Diplomatik: Siapa Saja yang Berhak Memilikinya?

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:18

Rekor Baru Messi di Piala Dunia Lewati Maradona

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:17

Ketidakadilan Laga Argentina vs Mesir Bersifat TSM

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:00

Selengkapnya