Berita

Tim Katastropik Purba Terus Dalami Potensi Bencana Alam di Nusantara

MINGGU, 17 JULI 2011 | 14:04 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Tim katastropik purba, yang mencoba melakukan pendataan dan pencatatan beberapa kejadian alam yang besar dan merusak hingga berpotensi mengulang, sampai saat ini terus bekerja mendata baik dari studi literatur, membaca manuskrip, cerita-cerita rakyat, melakukan pengamatan citra satelit, merangkum hasil-hasil riset serta melakukan penggalian patahan-patahan di beberapa tempat.

Kerja-kerja demikian dilakukan untuk mengetahui posisi patahan dan paleostsunami serta proses sedimentasi dari sebuah peristiwa alam yang sangat besar. Tim yang diinisiasi oleh kantor Andi Arief, staf khusus Presiden bidang Bencana Alam dan Bantuan Sosial ini, terus mencoba menemukan penyebab katastropik apa yang menyebabkan terbenamnya kompleks percandian Batu Jaya yang luasnya mencapai lebih dari 5 kilometer persegi. Bersama-sama Setditjen Purbakala, tim mencoba mendiskusikan temuan dan penyebab beberapa candi dan perkampungan yang terkubur 10 meter di kota Yogya, Candi Borobudur, Trowulan Majapahit, Kediri, peninggalan kerajaan Samudera Pasai, dan bukti kerajaan Sriwijaya yang terkubur dan beberapa tempat lainnya.

"Hipotesa awal tentang penyebabnya adalah tsunami, letusan gunung api serta banjir di beberapa tempat hampir terbukti," kata Andi Arief kepada Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Minggu, 17/7).


Dibeberkan Andi, dari studi yang masih berlangsung ini, selain mendalami gempa di Selat Sunda sebesar 8,7 skala richter dan pulau Siberut sebesar 8,9 skala richter, tim juga mengingatkan potensi gempa di Lampung 8,6 skala richter yang berbeda dengan jalur gempa darat di Liwa. Juga mengingatkan potensi megathrust 8,6 skala richter di Aceh, serta gempa darat di patahan Sumatera Aceh. Di Jawa selatan dan barat tim juga ingatkan ada potensi gempa yang merusak dan berpotensi tsunami. Begitu pula di Jawa Timur walau belum mendalam, tetapi ada catatan gempa di atas 7 skala richter di sekitaran Surabaya. Yogyakarta juga ditemukan catatan gempa lebih besar dari yang terjadi pada tahun 2006 lalu, yakni terjadi  pada tahun 1867.

Menariknya, dalam studi ini tim juga secara tidak sengaja menemukan beberapa tempat yang tidak lazim atau diperkirakan bangunan-bangunan yang tidak natural, dan berkecenderungan 'man made'. Beberapa tempat-tempat yang tidak lazim ini juga sedang dilakukan survei intensif oleh para ahli yang bekerja secara scientific dengan dibantu teknologi modern. Kerjasama tim geologi, dengan Setdirjen Kepurbakalaan, Arkenas, Bakosurtanal, Antropologi, Fillologi, Budayawan, dan Sosiolog. Dibantu tokoh-tokoh lokal dan TNI/POLRI, saat ini sedang dilakukan pendalaman untuk memperkaya temuan-temuan yang ada.

Jika di Batu Jaya memang sudah lama terkuak ada komplek percandian, maka tim sedang meneliti kemungkinan apakah ada bangunan lain, misalnya bangunan di bawah mesjid tertua di Indonesia di kota Indra Puri, mesjid peninggalan Samudera Pasai.

Studi dilakukan dengan tujuan utamanya adalah untuk mencari kejadian-kejadian bencana yang pernah terjadi baik lokal maupun yang katastropik sifatnya. Karena beberapa bencana, seperti gempa dan letusan gunung berapi terjadi mengulang. Semakin kita mengetahui semakin baik untuk lakukan mitigasi. Temuan-temuan ini nantinya akan diserahkan pada BNPB, BMKG dan lain-lain untuk refernsi mitigasi. Jika dibeberapa tempat ditemukan secara scientific sesuatu bangunan  yang 'man made' dan tertutup karena bencana atau hal lain, akan menjadi pengkayaan pada kepurbakalaan kita seperti Borobudur, Trowulan, candi Ceto, candi Panataran, candi Sukuh dan lain-lain.

"Bukan semata-mata sebagai art dan tourisme, tetapi nanti akan dikaji bersama apakah bernilai sebagai kebudayaan masa lalu bahkan kebesaran Nusantara di masa lalu. Kepada publik, tim ini pada saatnya akan mempublish hasil kerja," demikian Andi. [dem]

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

UPDATE

Prabowo Akui Punya DNA India, Suka Bergoyang Kalau Ada Musik

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:09

Pansus DPR Desak Kemendagri Percepat Penyusunan DIM RUU Daerah Kepulauan

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:02

Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau, Total Kini 110 Unit

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:50

KPK Harus Tegas, Pengembalian Amplop Raja Juli Tidak Hapus Dugaan Pidana

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:44

Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Tambang PT PMM, Ada Pegawai Bea Cukai

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:43

Prabowo Peluk Erat Modi saat Antar Kepulangannya Menuju India

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:34

Kekuatan Jokowi cuma Uang, Bukan Ideologi

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:32

Memahami Aturan Paspor Diplomatik: Siapa Saja yang Berhak Memilikinya?

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:18

Rekor Baru Messi di Piala Dunia Lewati Maradona

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:17

Ketidakadilan Laga Argentina vs Mesir Bersifat TSM

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:00

Selengkapnya