Berita

Purnomo Yusgiantoro

Wawancara

WAWANCARA

Purnomo Yusgiantoro: Kerja Sama Pertahanan Dengan Korsel Cukup Sukses

KAMIS, 14 JULI 2011 | 05:39 WIB

RMOL. 17 Menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II dag dig dug bakal direshuffle. Sebab, mereka tidak bisa bekerja sesuai instruksi Presiden SBY.

Siapa menteri yang nilainya merah itu, Ketua Unit Kerja Pre­siden Bidang Pengawasan dan Pembangunan (UKP4), Kuntoro Mangkusubroto tidak menyebut orangnya.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengaku mendapat rapor biru dan hijau dari UKP4 yang disampaikan 8 Juli lalu.


“Sebenarnya saya tidak ingin menyampaikan hal ini, tapi tidak masalah kalau saya buka. Rapor kita adalah warna biru dan hijau, tidak ada yang kuning atau me­rah,” ungkap Purnomo Yus­giantoro.

“Saya sudah tulis ucapan terima kasih dan apresiasi kepada semua jajaran Kemenhan. Sukses ini bukan hanya diraih menteri­nya, tapi ini sukses mereka. Men­terinya hanya penyambung lidah saja,” tambah bekas Men­teri ESDM itu.

Berikut kutipan selengkapnya;

Apa semua progam Kemen­han sudah dijalankan?
Apabila tidak dilaksanakan semua, kementerian saya akan mendapatkan nilai merah dong. Tapi ini kan ti­dak, itu arti­nya suk­ses semua. Program-program yang kita jalankan selama ini sangat memuaskan.

Ada beberapa program yang sampai saat ini masih ber­jalan atau masih dalam proses. Karena ada beberapa pekerjaan yang sifatnya terus berjalan atau tidak berhenti pada satu titik, harus rolling terus. Misalnya penga­daan barang-barang dari dalam negeri yang tidak langsung ada.

O ya, bagaimana dengan pe­ngiriman 37 orang delegasi Indonesia ke Korea Selatan?
Mereka dikirim ke Korsel untuk menindaklanjuti kerja sama dengan negara itu untuk pem­ba­ngunan pesawat tempur generasi ke 4,5 yaitu KF-X/ IF-X (Korea Fighter Xperiment/ Indonesia Fighter Xperiment) dan tahapnya sekarang adalah technical deve­lopment. Seperti diketahui, sekarang kita memiliki pesawat tempur generasi ke 4 yaitu Sukhoi, FU-27, FU-30 dan F-16.

Apa yang diperoleh dari kerja sama ini?
Indonesia punya saham 20 persen di perusahaan itu. Kita ti­dak hanya mendapatkan 50 pesa­wat tempur saja sesuai keinginan kita. Tapi setiap penjualan dan apa yang dilakukan di Korsel, kita akan mendapatkan 20 persen.

Artinya, ada tangible benefit atau keuntungan nyata yang kita dapatkan, yaitu mendapatkan 50 pesawat tempur dan itu akan kita pakai untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan wilayah kita serta memodernisasi angkatan ber­senjata kita.

Bukannya Korsel kurang kuat sebagai supplier alutsista?
Tidak bisa dikatakan seperti itu. Sebab, selama ini kerja sama industri pertahanan kita dengan Korsel cukup sukses. Misalnya, kita pernah melakukan kerja sama membangun kapal LPD (Landing Platform Dock), kita membeli empat buah, dua di antaranya dibuat di PT PAL, dan itu terwujud. Hasil kerja sama itu, PT PAL mendapat order dari  Filipina untuk membuat tiga LPD. Itu artinya Korsel serius dalam transfer of technology.

Selain itu, alutsista kita datang dari Korsel, seperti Wong Bee yang dipakai untuk akrobatik dan pesawat latih kita. Sekarang me­reka (Korsel) sudah mem­bangun pesawat FA-50, untuk menggan­tikan pesawat tempur mereka, yaitu F-5 Tiger. Kerja sama ini sangat rasional dilakukan.

Bagaimana dengan security network-nya?
Saya pernah terpikirkan ja­ngan-jangan kita terkena cyber crime. Namun saya pikir hal ini akan kita tangani melalui Lem­baga Sandi Negara yang akan melindungi sistem kita. Selama ini lembaga tersebut sudah mem­proteksi beberapa sistem perta­hanan dari virus dan cyber crime. Walaupun sebenarnya sistem yang rawan itu bukan in­ternet­nya, namun saya akan me­minta kepada lembaga itu untuk me­was­padai. Jangan sam­pai design kita disadap.

Bagaimana dengan pemba­gian anggaran kedua negara dalam proyek ini?
Korsel 80 persen dan kita 20 persen. Budget hingga 2020 membutuhkan 8 miliar dolar AS.  20 persen dari kebutuhan itu kita yang biayai yaitu 1,6 miliar dolar AS. Perlu saya tekankan, 8 mi­liar dolar AS itu adalah total product cost hingga pesawat itu terbang.    [rm]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Lazismu Kupas Fikih Dam Haji: Daging Jangan Menumpuk di Satu Titik

Jumat, 15 Mei 2026 | 02:12

Telkom Gandeng ZTE Perkuat Pengembangan Infrastruktur Digital

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:51

Menerima Dubes Swedia

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:34

DPD Minta Pergub JKA Dikaji Ulang dan Kedepankan Musyawarah di Aceh

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:17

Benarkah Negeri ini Dirusak Pak Amien?

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:42

Pendidikan Tinggi sebagai Arena Mobilitas Vertikal Simbolik

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:37

KNMP Diharapkan Mampu Wujudkan Hilirisasi Perikanan

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:22

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Pembangunan SR Masuk Fase Darurat, Ditarget Rampung Juni 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:33

Harga Minyakita Masih Tinggi, Pengangkatan Wamenko Pangan Dinilai Percuma

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:18

Selengkapnya