Berita

Jimly Asshidiqie/ist

Prof. Jimly: SBY Harus Beri Contoh Pejabat Lain, Tinggalkan Partai

SELASA, 12 JULI 2011 | 08:56 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Rangkap jabatan di negara ini sudah menjadi gejala umum. Hampir semua pejabat, baik di eksekutif, legislatif, dan yudikatif, di semua tingkatan melakukan itu. Malah, banyak gubernur, bupati, dan walikota, yang sebelumnya tidak berpartai, sesudah terpilih, baru masuk ke partai.

"Ini kan gejala yang tidak sehat. Dipandang dari teknis kepartaian dan kekuasaan ya baik. Dia akan mempunyai grade lebih efektif. Tetapi buktinya, selama 13 tahun efektivitas pemerintahan itu kan tidak terbukti. Jadi efektivitas tidak ditentukan oleh penguasaan kepada partai politik. Yang terjadi malah sebaliknya conflik of interest," kata gurubesar Ilmu Hukum Tata Negara, Jimly Asshiddiqie, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu.

Selain para pejabat di daerah, pucuk pimpinan pemerintahan tertinggi di negara ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, juga merangkap jabatan. Karena itu SBY disarankan meninggalkan Partai Demokrat, agar dia menjadi panutan bagi pejabat lainnya.


"Kalau dia mau, bisa saja. Apalagi dia kan tidak punya kepentingan lagi. Kepentinganya apa, mau dipilih lagi kan nggak. Jadi sebetulmya kalau mau (lebih baik tinggalkan partai)," ungkap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini.

Namun, sepertinya dia ragu SBY mau melakukan itu. Karena berada di pusat kekuasaan itu membuat orang yang bersangkutan merasa nyaman. Apalagi politik saat ini sudah jadi panglima.

"Kita yang tidak punya minat berpolitik, nggak laku. Jadi semua orang itu mainannya politik, mempersepsi semua hal dengan politik juga. Ada orang berbeda pendapat langsung dilihat, dicap politik. Karena virus politik itu sudah merajalela. Jadi ada dua panglima, ekonomi dan politik. Padahal konstitusi kita mengatakan yang jadi panglima adalah hukum, aturan," tandasnya. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Tourism Malaysia Gencarkan Promosi Wisata di Tiga Kota Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 10:20

DPR Desak Evaluasi Nasional Perlintasan Sebidang Usai Tabrakan Kereta di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 10:13

Bus Shalawat Gratis 24 Jam Disiapkan untuk Jemaah Haji di Makkah

Selasa, 28 April 2026 | 10:09

Update Korban Jiwa Tabrakan KA di Bekasi Bertambah Jadi 14 Orang

Selasa, 28 April 2026 | 10:00

Prabowo Minta Segera Investigasi Kasus Tabrakan Kereta Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 09:56

Lokomotif Argo Bromo Berhasil Dipindahkan, Tim SAR Fokus Evakuasi Korban

Selasa, 28 April 2026 | 09:53

Purbaya Pede IHSG Bisa Terbang 28.000, Pasar Langsung Terkoreksi

Selasa, 28 April 2026 | 09:51

Dinamika Global Tekan Indeks DXY ke Level 98,45 Jelang Keputusan Federal Reserve

Selasa, 28 April 2026 | 09:48

Kopdes Jadi Instrumen Capai Nol Kemiskinan Ekstrem

Selasa, 28 April 2026 | 09:39

Imbas Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Belasan Perjalanan KA Jarak Jauh dari Jakarta Resmi Dibatalkan

Selasa, 28 April 2026 | 09:27

Selengkapnya