Berita

sby/ist

RESHUFFLE KABINET

Sebagai 'Kusir Kereta' SBY Tak Bisa Gegabah

JUMAT, 08 JULI 2011 | 22:55 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Pernyataan pengamat hukum tata negara Refly Harun yang menyatakan bahwa wacana reshuflle kabinet akan sia-sia saja karena problem pemerintahan bukan terletak pada pembantu presiden, tetapi presidennya sendiri yang kurang profesional, dinilai tidak nyambung alias miss-konteks.

Sebagai akademisi yang mendalami masalah hukum tata negara, Refly Harun tidak seharusnya berkesimpulan demikian. Sebab, ada efek derivatif pasca amandemen UUD 45 terhadap tata kelola pemerintahan dan sistem politik Indonesia.

Menurut Ketua Umum Satuan Kerja Anti Korupsi (SKAK), Bob Randilawe,  amandemen telah membuat siapapun yang menang pemilu, dalam hal ini presiden maupun partai-partai, akan bersikap hati-hati dan tidak gegabah untuk memutuskan jadi tidaknya resuffle. Hal inilah yang saat ini sedang dialami Presiden SBY. Refly, seharusnya memahami betul situasi saat ini bukan diciptakan oleh partai Demokrat.


"Yang paling bertanggungjawab atas proses amandemen Undang-undang Dasar 45 adalah partai Golkar dan PDI P. Itu dimulai tahun 1999. Saat itu partai Demokrat belum lahir,” ujar Bob kepada Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Jumat, 8/7).

Menurut Bob, Presiden SBY tentu punya cita rasa dan sikap sendiri terhadap reshuffle kabinet di tengah situasi saat ini. SBY misalnya berkali-kali menegaskan reshuffle harus berbasis kinerja, kompetensi dan diterima publik, serta tidak bersifat transaksional apalagi seenaknya.

“Reshuffle adalah sebuah kebutuhan demi perbaikan kinerja para menteri dan untuk mempertinggi hasil capaian kabinet. Kalau demikian, baru reshuffle akan tetap berguna dan memiliki arti strategis untuk menunjang keberhasilan pemerintah,” katanya.

Perlu dipahami Refly, akan sangat buruk hasilnya kalau dalam era transisional sekarang ini, dimana kita baru meninggalkan tatanan lama dan sementara tatanan baru masih dalam tahap pematangan, SBY bertindak gegabah.  

“Menjadi 'kusir kereta' di era transisional seperti dijalankan Presiden SBY sekarang tidaklah semudah di era zaman otoriter orde baru,” imbuh Bob yang menjadi Dewan Pakar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia itu. [dem]

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

UPDATE

Prabowo Akui Punya DNA India, Suka Bergoyang Kalau Ada Musik

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:09

Pansus DPR Desak Kemendagri Percepat Penyusunan DIM RUU Daerah Kepulauan

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:02

Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau, Total Kini 110 Unit

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:50

KPK Harus Tegas, Pengembalian Amplop Raja Juli Tidak Hapus Dugaan Pidana

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:44

Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Tambang PT PMM, Ada Pegawai Bea Cukai

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:43

Prabowo Peluk Erat Modi saat Antar Kepulangannya Menuju India

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:34

Kekuatan Jokowi cuma Uang, Bukan Ideologi

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:32

Memahami Aturan Paspor Diplomatik: Siapa Saja yang Berhak Memilikinya?

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:18

Rekor Baru Messi di Piala Dunia Lewati Maradona

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:17

Ketidakadilan Laga Argentina vs Mesir Bersifat TSM

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:00

Selengkapnya