Berita

Salman luthan/ist

Denda 5 Kali Lipat Buat Koruptor, Jangan Penjara

JUMAT, 24 JUNI 2011 | 23:13 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Jangan terlalu aneh jika banyak koruptor dihukum ringan. Sebab, ada paradigma yang salah yang selama ini dijalankan oleh aparat penegak hukum dalam menangani perkara-perkara korupsi, yakni paradigma agar koruptor mengembalikan uang kepada negara.



"Kenapa hukumnya ringan, karena ada harapan uang bisa kembali. Ini paradigma salah. Paradigma mengembalikan uang harus dibalik. Negara harus untung," ujar Hakim Agung Salman Luthan disela-sela diskusi 'Penegakan Hukum, Tajam ke Bawah Tumpul ke Atas,' yang digelar Jawa Pos Group, di Gedung Graha Pena lantai 7, Jl. Raya Kebayoran Lama 12, Jakarta (Jumat, 24/6)



Karenanya, kata Salman, ke depan hukuman pokok bagi pelaku korupsi bukan sanksi pidana, melainkan sanksi denda. Dendanya yang diberikan juga harus kelipatan dari kerugian negara yang dirampok oleh pelaku korupsi.



"Sanksinya harus denda. Dendanya juga harus dilipatkan. Umpamanya, denda minimalnya itu 2 kali kerugian negara, denda maksimal 5 kali kerugian negara. Ini akan memiskinkan koruptor, juga akan menguntungkan negara," katanya.



Meski begitu, diingatkan Salman, sanksi denda tidak kemudian menghilangkan sanksi pidana bagi koruptor. Kalau koruptor tidak mampu membayar dendanya, maka dia dijatuhi sanksi pidana alias dihuku penjara. [dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya