Berita

DPR: Sudah Sepatutnya Indonesia Melarang Greenpeace

RABU, 22 JUNI 2011 | 17:32 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Pekan lalu, Direktur Eksekutif Greenpeace Internasional, Kumi Naidoo, ditangkap tentara Denmark karena masuk secara ilegal ke wilayah eksplorasi Leiv Eiriksson di perairan laut Arktik.

Bukan pertama kali ini aksi seperti ini dilakukan oleh aktivis Greenpeace yang bermarkas di Belanda. Karena sering melakukan aksi koboi itulah sejumlah negara maju seperti Kanada, Selanda Baru, Jepang, India, Cina, Amerika Serikat, menolak kehadiran Greenpeace di antara mereka. Aksi Greenpeace itu dianggap sebagai teror terhadap perekonomian nasional.

“Aktivitas Greenpeace memang sering kelewat batas. Mereka cenderung menjadi subordinasi para pemilik modal,” ujar Wakil Ketua Fraksi PAN, Viva Yoga Mauladi, di Jakarta, Rabu siang (22/6) menyikapi penangkapan Naidoo itu.

Sudah sepatutnya, sebut dia, pemerintah Indonesia meniru tindakan negara-negara yang melarang kehadiran Greenpeace itu. Belum lagi, ada kesan kampanye lingkungan hidup Greenpeace lebih sering tampak sarat pesanan kaum kapitalis internasional yang ingin menguasai perekonomian Indonesia.

Viva Yoga yakin, Greenpeace adalah kaki tangan pihak asing yang sengaja disusupkan. Dan dalam menjalankan aktivitasnya mereka menggunakan kedok penyelamatan lingkungan.

“Karena tidak objektif, kami tidak pernah menggunakan data Greenpeace untuk membedah masalah kehutanan,” kata anggota Komisi IV DPR yang membidangi masalah kehutanan ini.

Viva mengaku merasa sangat geram karena Greenpeace selalu mengobok-obok sektor kehutanan Indonesia, sementara perusahaan asing yang sangat dahsyat merusak lingkungan justru dibiarkan.

“LSM itu kan harus mandiri dan independen. Tapi mana pernah Greenpeace berani mempersoalkan limbah pertambangan Freeport dan Newmont. Mereka beraninya mengganggu kekayaan hutan kita,” sambung dia menyesalkan aksi tebang pilih Greenpeace ini. [guh]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Dokter Juga Manusia

Senin, 04 Mei 2026 | 06:21

May Day Beri Ruang Buruh Bersuara Tanpa Rasa Takut

Senin, 04 Mei 2026 | 06:06

Runway Menantang Zaman

Senin, 04 Mei 2026 | 05:41

Sukabumi Masih Dibayangi Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan

Senin, 04 Mei 2026 | 05:21

Sindiran Prabowo

Senin, 04 Mei 2026 | 05:07

Irwandi Yusuf Dirawat Intensif di Seoul hingga Juni

Senin, 04 Mei 2026 | 04:24

Permenaker 7/2026 Buka Celah Eksploitasi Buruh

Senin, 04 Mei 2026 | 04:18

Menteri AL AS Mundur Tanda Retaknya Mesin Perang Trump

Senin, 04 Mei 2026 | 04:03

Rakyat Kaltim Bersiap Demo Lagi

Senin, 04 Mei 2026 | 03:27

Rasanya Sulit Partai Ummat Pecat Amien Rais

Senin, 04 Mei 2026 | 03:19

Selengkapnya