Berita

sby/ist

TKI DIPANCUNG

Abaikan Konstitusi, SBY-Boediono Layak Turun

SENIN, 20 JUNI 2011 | 21:39 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Dipancungnya Ruyati binti Satubi, TKW asal Bekasi di Arab Saudi 100 persen merupakan kesalahan pemerintah, dan cermin dari kesempurnaan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dalam mengabaikan perintah Konstitusi, pembukaan UUD 1945.

Demikian disampaikan Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhie Massardi kepada Rakyat Merdeka Online (Senin, 20/6).

Dalam pembukaan UUD 1945 yang tidak boleh diubah-ubah itu, dijelaskan tujuan didirikannya Pemerintahan Negara Indonesia, yakni melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia. Merujuk itu, jelas ada beberapa perintah konstitusi yang diabaikan SBY.


"Ruyati dan para TKI lain yang terpidana di luar negeri tidak mendapat perlindungan negara. Ruyati dan para TKI lainnya di luar negeri harus berjuang sendiri untuk mencapai kesejahteraannya. Ruyati dan para TKI umumnya berpendidikan sangat rendah sehingga hanya bisa bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Yang lainnya, pemerintah tidak berbuat apa-apa melihat pemerintah Arab Saudi melakukan pelanggaran HAM terhadap warga negara asing di negaranya," beber Adhie.

Agar tidak menjadi preseden buruk bagi pemerintahan di masa mendatang, kata mantan Jurubicara presiden Abdurrahman Wahid ini, pihaknya menyerukan dengan keras agar Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Wapres Boediono legowo untuk mundur.

"Terbukti SBY Boediono tidak mampu menjalankan amanat konstitusi," tegasnya.

Adhie menyerukan, seluruh elemen politik produk demokrasi, DPR, DPD, MK, MA, BPK, KPK, KY, dan lembaga-lembaga lainnya, serta elemen masyarakat, PBNU, Muhammadiyah, dan lainnya, segera berkumpul dan menyatakan hal yang sama. SBY harus mundur. [dem]

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

UPDATE

Prabowo Akui Punya DNA India, Suka Bergoyang Kalau Ada Musik

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:09

Pansus DPR Desak Kemendagri Percepat Penyusunan DIM RUU Daerah Kepulauan

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:02

Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau, Total Kini 110 Unit

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:50

KPK Harus Tegas, Pengembalian Amplop Raja Juli Tidak Hapus Dugaan Pidana

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:44

Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Tambang PT PMM, Ada Pegawai Bea Cukai

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:43

Prabowo Peluk Erat Modi saat Antar Kepulangannya Menuju India

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:34

Kekuatan Jokowi cuma Uang, Bukan Ideologi

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:32

Memahami Aturan Paspor Diplomatik: Siapa Saja yang Berhak Memilikinya?

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:18

Rekor Baru Messi di Piala Dunia Lewati Maradona

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:17

Ketidakadilan Laga Argentina vs Mesir Bersifat TSM

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:00

Selengkapnya